Jakarta, JaringBisnis (4/7/2026) – Semangat literasi, seni, dan pemberdayaan masyarakat berpadu dalam pameran “Satu Gerobak Baca, Sejuta Mimpi” yang diselenggarakan Yayasan Maharani Kirana Pertiwi (YMKP) di Galeri Hadiprana, Jakarta Selatan. Pameran yang berlangsung hingga 10 Juli 2026 ini menampilkan 90 karya seni hasil kreativitas anak-anak dari berbagai desa binaan Gerobak Baca YMKP di berbagai desa di Indonesia.
Pameran ini menjadi bukti bahwa akses terhadap buku, ruang belajar, dan pendampingan mampu melahirkan kreativitas sekaligus menumbuhkan harapan baru bagi anak-anak di berbagai pelosok negeri. Acara pembukaan dihadiri oleh Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Giring Ganesha Djumaryo, Founder Yayasan Maharani Kirana Pertiwi Esra Manurung, Ketua Yayasan Maharani Kirana Pertiwi Nila Verika Ginting, serta pemilik Galeri Hadiprana Puri Hadiprana.
Founder Yayasan Maharani Kirana Pertiwi, Esra Manurung, menegaskan bahwa gerakan yang dibangun yayasannya selama sembilan tahun terakhir berangkat dari keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keluarga dan komunitas terkecil. “Selama sembilan tahun terakhir, perempuan-perempuan hebat di Yayasan Maharani Kirana Pertiwi telah bekerja di 27 titik Gerobak Baca yang tersebar di berbagai desa di Indonesia. Sebanyak 90 persen relawan kami adalah perempuan yang setiap hari turun langsung ke akar rumput. Misi kami sederhana, bukan membenahi negara terlebih dahulu, tetapi membenahi rumah. Kalau rumah kita bersih, anak-anak dibesarkan dengan nilai kejujuran, kreativitas, dan kepedulian, maka Indonesia Maju bukan lagi sekadar cita-cita,” ujar Esra.
Menurut penulis buku “From Poverty to Wealth” itu, Gerobak Baca yang didirikannya bukan sekadar tempat membaca buku, melainkan ruang bertumbuh bagi anak-anak sekaligus wadah lahirnya para relawan yang bekerja dengan penuh ketulusan.
Ia menceritakan kisah Ibu Hana di Tuk Tuk, Sumatera Utara, seorang pedagang sate kerang keliling yang setiap sore membuka Gerobak Baca bagi anak-anak setelah menyelesaikan pekerjaannya. Di Desa Tangguntiti, Bali, terdapat pasangan lansia yang tanpa mengenal usia tetap setia mendampingi anak-anak belajar. “Mereka tidak pernah merasa terlalu tua untuk berbagi. Karya-karya yang dipamerkan hari ini lahir dari desa-desa tempat harapan itu terus bertumbuh,” katanya.
Ketua Yayasan Maharani Kirana Pertiwi, Nila Verika Ginting, mengatakan pameran ini merupakan bentuk apresiasi terhadap anak-anak dan para relawan yang selama ini menjaga denyut Gerobak Baca di berbagai daerah. Menurutnya, setiap lukisan, gambar, dan karya yang dipamerkan menyimpan cerita tentang keberanian anak-anak untuk bermimpi, sekaligus menjadi bukti bahwa kesempatan yang sama harus diberikan kepada seluruh anak Indonesia tanpa memandang tempat tinggal maupun latar belakang ekonomi.
Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha Djumaryo, mengaku terharu melihat konsistensi Yayasan Maharani Kirana Pertiwi dalam mengembangkan gerakan literasi berbasis masyarakat.
“Saya benar-benar meleleh seperti lilin ketika mendengar kiprah Yayasan Maharani Kirana Pertiwi membangun Gerobak-Gerobak Baca di berbagai daerah. Saya percaya seni rupa, musik, sastra, film, tari, dan seluruh kebudayaan selalu mengingatkan kita bahwa kita adalah satu Indonesia,” ujarnya.
Giring menilai karya-karya yang dipamerkan membuktikan bahwa kreativitas dapat tumbuh ketika anak-anak diberikan ruang untuk berekspresi. “Melihat karya-karya luar biasa ini mengingatkan saya pada masa kecil, ketika keluarga kami sangat mencintai seni dan budaya. Saat musik dimainkan, semua perbedaan menjadi hilang. Seni memiliki kekuatan untuk menyatukan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pelestarian kebudayaan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk organisasi masyarakat dan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan literasi. “Tugas kami adalah melestarikan sekaligus mengembangkan kebudayaan Indonesia. Namun kami tidak bisa berjalan sendiri. Kami membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Yayasan-yayasan seperti Yayasan Maharani Kirana Pertiwi.”
“Saya berharap semakin banyak Gerobak Baca hadir di seluruh Indonesia, dan saya siap mendukung agar gerakan ini terus berkembang. Kekuatan buku adalah salah satu kunci untuk membangun bangsa yang besar,” ungkapnya.
Sementara itu, Puri Hadiprana, pemilik Galeri Hadiprana, menyampaikan kebanggaannya dapat menjadi bagian dari gerakan yang menghubungkan seni dengan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. “Kami merasa terhormat Galeri Hadiprana dipercaya menjadi ruang bagi pameran Satu Gerobak Baca, Sejuta Mimpi. Karya-karya yang ditampilkan hari ini bukan hanya indah secara visual, tetapi juga membawa cerita tentang harapan, ketekunan, dan mimpi anak-anak Indonesia. Inilah wajah masa depan Indonesia yang patut kita dukung bersama,” ujar Puri.
Menurutnya, galeri seni tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya, tetapi juga tempat bertemunya berbagai gagasan yang mampu menghadirkan perubahan sosial.
“Kami percaya seni memiliki kekuatan untuk menggerakkan empati, membangun dialog, dan membuka kesempatan. Karena itu, kami bangga mendukung Yayasan Maharani Kirana Pertiwi dalam menghadirkan karya-karya anak-anak dari berbagai pelosok Indonesia kepada publik. Semoga kolaborasi ini menginspirasi semakin banyak pihak untuk ikut berinvestasi pada pendidikan, literasi, dan kreativitas generasi muda,” tambahnya.
Melalui pameran ini, Yayasan Maharani Kirana Pertiwi ingin mengajak masyarakat melihat bahwa setiap buku yang dibaca, setiap relawan yang mengajar, dan setiap ruang belajar yang dibangun di desa-desa merupakan investasi bagi masa depan bangsa. Gerobak Baca bukan sekadar sarana literasi, tetapi simbol gotong royong, kepedulian, dan keyakinan bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari tempat yang sederhana.
Pameran “Satu Gerobak Baca, Sejuta Mimpi” dibuka untuk umum hingga 10 Juli 2026 di Galeri Hadiprana, Jakarta Selatan, sekaligus menjadi ajakan bagi masyarakat untuk bersama-sama memperluas akses literasi, seni, dan pendidikan bagi anak-anak Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. (JB/02/GlG)


