TIGA PERUSAHAAN TEKSTIL TERINTEGRASI BANGUN FASILITAS MANUFAKTUR VERTIKAL DI SUBANG

Seremoni peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan pabrik manufaktur tekstik vertikal di Subang Smartpolitan, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026). Pabrik ini dibangun oleh PT Binkova Textiles Indonesia, PT Dafei Textile Indonesia, serta PT Serendipity Fashion Indonesia. (ist)

Jakarta, JaringBisnis (Jumat, 24/4/2026). Momentum Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) direspon tiga perusahaan tekstil terintegrasi yaitu PT Binkova Textiles Indonesia, PT Dafei Textile Indonesia, serta PT Serendipity Fashion Indonesia dengan membangun pabrik manufaktur vertikal (dengan dua tahap proses pembuatan pakaian) di Subang Smartpolitan, Jawa Barat. Seremoni peletakan batu pertama (groundbreaking) berlangsung Kamis (23/4/2026).

Momentum ini tidak hanya menandai dimulainya pembangunan fisik pabrik, namun juga pengembangan ekosistem produksi tekstil modern yang mencakup seluruh tahapan manufaktur dalam satu kawasan. Total estimasi nilai investasi proyek ini sebesar US$60 juta dan potensi penyerapan sekitar 3.000–3.800 tenaga kerja.

Ketiga perusahaan tersebut, yang merupakan mitra bisnis dari brand fesyen global H&M, memilih Subang Smartpolitan untuk membangun rantai pasok vertikal yang komprehensif guna memenuhi persyaratan proses dua tahap (two-stage process) dalam skema tarif nol persen IEU-CEPA. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing ekspor produk Indonesia secara signifikan ke pasar Eropa.

Sun Jianjun, Direktur PT Binkova Textiles Indonesia menyatakan keputusan kami untuk membangun fasilitas manufaktur vertikal di Indonesia adalah langkah strategis untuk memperkuat posisi sebagai pemasok global yang kompetitif. Dikatakan, perusahaan berkomitmen untuk menghadirkan teknologi manufaktur modern di Subang Smartpolitan, guna memastikan efisiensi operasional serta ketelusuran (traceability) produk yang sejalan dengan standar keberlanjutan internasional dan persyaratan perdagangan global.

“Pembangunan fasilitas ini ditargetkan selesai pada akhir 2026, yang kemudian akan diikuti dengan dimulainya operasional produksi penuh setelahnya. Seluruh fasilitas produksi tersebut nantinya akan menghasilkan berbagai produk fesyen yang diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar global, termasuk H&M sebagai mitra bisnis kami,” katanya.

Multiplier effect

Di sisi lain, Abednego Purnomo, Chief Commercial Officer Subang Smartpolitan, menyambut baik investasi ini dan menekankan pentingnya integrasi industri di dalam kawasan.

“Kami sangat bangga menjadi rumah bagi investasi besar ini. Masuknya manufaktur vertikal yang mencakup Tier 1 hingga Tier 2 membuktikan bahwa ekosistem di Subang Smartpolitan mampu menjawab kebutuhan investor akan efisiensi biaya logistik dan standar ESG yang ketat. Dengan konektivitas strategis ke Tol Cipali dan kedekatan dengan Pelabuhan Patimban, kami yakin para tenant dapat mengoptimalkan peluang pasar global secara maksimal,” katanya.

Ia menambahkan bahwa investasi ini akan menghadirkan multiplier effect bagi perekonomian lokal. “Kehadiran industri ini tidak hanya menyerap tenaga kerja secara langsung di dalam pabrik, tetapi juga akan menciptakan tiga sampai empat lapangan pekerjaan turunan lainnya di sektor pendukung, seperti penyedia jasa logistik, layanan catering, laundry dan lainnya di sekitar kawasan.”

Hal yang sama juga digaungkan oleh Direktur Promosi Investasi ASEAN, Australia, Selandia Baru dan Pasifik Kementerian Investasi dan Hilirisasi Industri (BKPM), Saribua Siahaan. “Besar harapan kami bahwa dengan hadirnya investasi baru di Subang ini, selain dari sektor tekstil, juga bisa membantu mendorong ekonomi daerah yang mana akan menopang target pertumbuhan ekonomi Indonesia 8 persen di tahun 2029.”

Budiasti Wulansari, Environmental Sustainability & Public Affairs Lead H&M Production Indonesia menyampaikan H&M telah beroperasi selama lebih dari dua dekade di Indonesia dan membangun kolaborasi kuat dengan puluhan perusahaan manufaktur yang tersebar di pulau Jawa.

“Kehadiran fasilitas vertikal dari PT Binkova, PT Serendipity dan PT Dafei di Subang merupakan wujud komitmen kami untuk terus bertumbuh bersama Indonesia. Adanya integrasi two-stage process ini tidak hanya menjadi peluang bagi sektor tekstil Indonesia untuk meningkatkan daya saing di pasar global, namun juga bisa mengoptimalkan efisiensi biaya dan memastikan standar keberlanjutan yang sejalan dengan arah pasar global,” ungkap Budiasti.

Pemilihan Subang Smartpolitan sebagai lokasi investasi didasari oleh infrastruktur terintegrasi yang mendukung efisiensi logistik dan konektivitas strategis, menjadikannya hub ideal bagi manufaktur berorientasi ekspor. Investasi ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal melalui penyerapan tenaga kerja yang signifikan di wilayah Subang, sekaligus meningkatkan nilai tambah industri tekstil dalam negeri dan memperkokoh posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok fesyen dunia. (JB/03/Wid)