Live News

28.3°C
  • Jakarta
June 21, 2026
28.3°C
  • Jakarta
Follow Us:

Diterbitkan oleh

PT GEMA WARTA SEMBILAN

NIB: 1702230088809

Notaris: Noviar Beta Aurenaldi, SH, MKn

Jaring BisnisBlogNasionalKesehatanPREGOREXIA, ANCAMAN TERSEMBUNYI TERHADAP IBU HAMIL

PREGOREXIA, ANCAMAN TERSEMBUNYI TERHADAP IBU HAMIL

Jakarta, JaringBisnis (Minggu, 21/6/2026). Memiliki berat tubuh ideal merupakan hal wajar yang diinginkan kebanyakan orang, terutama kaum perempuan. Namun, jika menjadi sebuah obsesi berlebihan, keinginan memiliki berat tubuh ideal bisa menjadi bumerang.

Kondisi ini membuat seseorang bisa mengalami anoreksia yaitu gangguan mental yang memengaruhi pola atau cara makan dikarenakan obsesi untuk memiliki postur tubuh yang kurus. Jika sudah dalam tahap akut, hal ini bahkan bisa menyebabkan kematian.

Bagi perempuan yang sedang hamil, gangguan anoreksia dikenal dengan sebutan pregnancy anorexia (pregorexia). Hal ini terjadi karena si calon ibu mengalami ketakutan berlebihan terhadap kenaikan berat badan selama kehamilan. Kondisi ini beresiko membahayakan kesehatan ibu maupun janin.

Fenomena pregorexia atau obsesi berlebihan untuk tetap kurus selama kehamilan menjadi ancaman yang semakin mendapat perhatian para ahli kesehatan. Ketakutan berlebihan terhadap kenaikan berat badan saat hamil sehingga mendorong si calon ibu membatasi asupan makanan, melakukan diet ketat, atau olahraga berlebihan. Hal ini bisa membahayakan kesehatan ibu dan janin.

Dalam laporan seperti dilansir BBC, menunjukkan sekitar 70 persen perempuan selama masa kehamilan dan pascapersalinan merasa tidak puas terhadap bentuk tubuhnya.

Data terkini juga memperkirakan 5 hingga 7,5 persen ibu hamil memenuhi kriteria diagnostik gangguan makan. Angka tersebut diduga lebih tinggi karena masih minimnya skrining dan adanya stigma yang membuat penderita enggan mencari bantuan.

Periode rentan

Psikiater dan pakar kesehatan ibu-anak dari Monash University Australia, Megan Galbally, menyebut kehamilan sebagai periode yang sangat rentan terhadap munculnya gangguan makan. Menurutnya, perubahan fisik yang terjadi dalam waktu singkat dapat memicu perasaan kehilangan kendali atas tubuh.

Ia menekankan bahwa kehamilan seharusnya menjadi masa untuk menjaga kesehatan ibu dan janin. Bukan berfokus pada upaya mempertahankan bentuk tubuh ideal.

Dengan dukungan yang tepat, gangguan makan selama kehamilan dapat dikenali dan ditangani sehingga risiko komplikasi bagi ibu maupun bayi dapat diminimalkan.

“Tubuh pasti berubah dan berat badan akan bertambah selama kehamilan. Bagi sebagian orang, kondisi ini dapat memicu kecemasan yang mendalam,” ujarnya.

Tingkatkan kesadaran

Sementara itu, laporan CNN mengungkapkan sekitar 30 persen perempuan hamil di Amerika Serikat tidak mengalami kenaikan berat badan yang cukup selama kehamilan.

Namun, Chief Medical Officer Eating Recovery Center di Denver, Dr Ovidio Bermudez menegaskan bahwa tidak semua perempuan yang mengalami kenaikan berat badan kurang saat hamil memiliki gangguan makan.

Meski demikian, Bermudez menilai sebagian kasus dapat menjadi manifestasi dari gangguan makan yang sudah ada sebelumnya. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan konsekuensi kesehatan bagi ibu sekaligus meningkatkan risiko terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin.

Para peneliti menilai kehamilan merupakan periode yang membutuhkan perhatian lebih terhadap kesehatan mental. Selain meningkatkan risiko munculnya gangguan makan, masa ini juga dapat menjadi momentum penting bagi pemulihan apabila ibu mendapatkan dukungan keluarga, tenaga kesehatan, dan akses layanan psikologis yang memadai.

Meningkatkan kesadaran mengenai pregorexia menjadi langkah penting agar gangguan makan selama kehamilan dapat dikenali lebih dini, sehingga risiko komplikasi bagi ibu maupun janin dapat dicegah. (JB/03/Cla)

Share:

Related Post