Live News

28.3°C
  • Jakarta
July 15, 2026
28.3°C
  • Jakarta
Follow Us:

Diterbitkan oleh

PT GEMA WARTA SEMBILAN

NIB: 1702230088809

Notaris: Noviar Beta Aurenaldi, SH, MKn

Jaring BisnisBlogOlahragaOutdoorATURAN PRESTIANNI, UPAYA FIFA BERANTAS DISKRIMINASI DI LAPANGAN HIJAU

ATURAN PRESTIANNI, UPAYA FIFA BERANTAS DISKRIMINASI DI LAPANGAN HIJAU

Jakarta, JaringBisnis (Minggu, 21/6/2026). Dalam sebuah pertandingan sepak bola, sering kali kita melihat, pemain ataupun pelatih berbicara sambil menutupi mulut. Jika itu terjadi antara ketika pelatih berbicara kepada pemainnya atau antarpemain dalam satu tim, mungkin mereka sedang membicarakan taktik yang tidak ingin diketahui tim lawan.

Namun akan berbeda jika seorang pemain menutup mulutnya saat beradu argumen dengan pemain lawan. Yang pasti, saat itu bukan taktik yang dilontarkan pemain yang menutupi mulutnya saat berargumen dengan pemain lawan.

Kemungkinan besar, pemain yang menutupi mulut saat berargumen dengan pemain lawan sedang menutupi tindakan verbal bernuansa diskriminatif, rasis, maupun seksis yang dilakukannya terhadap lawan.

Namun, hal itu kini tidak bisa lagi dilakukan. Menutupi mulut saat berargumen dengan lawan menjadi sebuah dosa besar.

Regulasi baru ini sengaja diterapkan untuk meningkatkan transparansi di lapangan sekaligus memberantas segala bentuk tindakan verbal bernuansa diskriminatif, rasis, maupun seksis yang selama ini sulit dideteksi oleh perangkat pertandingan.

Nama aturan ini diambil dari nama penyerang muda Benfica asal Argentina, Gianluca Prestianni. Regulasi ini lahir dari sebuah kontroversi pada laga leg pertama pertama playoff Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid, Februari 2026 silam.

Pada laga tersebut, penyerang Real Madrid, Vinícius Júnior menuduh Prestianni melontarkan hinaan rasis ke arahnya. Proses investigasi awal berjalan sangat buntu karena Prestianni dengan sengaja menutupi mulutnya saat berbicara, sehingga tidak ada bukti visual konkrit yang bisa ditangkap oleh kamera penyiaran maupun ahli pembaca gerak bibir (lip-reader).

Dalam keterangannya kepada otoritas sepak bola Eropa, Prestianni membantah keras melakukan tindakan rasisme terhadap Vinicius. Ia mengakui melontarkan kata-kata cemoohan yang ofensif kepada Vinícius, namun mengklaim isinya bukan seperti yang dituduhkan.

Rekan setim Vinícius di Real Madrid, Aurélien Tchouaméni, turut angkat bicara dan menyatakan bahwa Prestianni sebenarnya melontarkan komentar homofobik, bukan hinaan rasis.

Meskipun ada bantahan, UEFA tetap menjatuhkan sanksi tegas berupa larangan bertanding sebanyak enam pertandingan kepada Prestianni, dengan tiga pertandingan diantaranya ditangguhkan selama masa percobaan dua tahun, setelah penyelidikan menyimpulkan adanya unsur homofobik dalam ucapan tersebut.

Kasus inilah yang menyadarkan FIFA bahwa kebiasaan menutupi mulut dengan tangan atau jersey saat melontarkan kata-kata oleh pemain di lapangan sering kali disalahgunakan sebagai ‘perisai’ untuk meloloskan diri dari jerat hukum.

Korban pertama

Gelandang Paraguay, Miguel Almirón menjadi ‘korban’ pertama Aturan Prestiani. Almirón diusir keluar lapangan saat Paraguay menghadapi Turki dalam laga kedua Grup D di Levi’s Stadium, Santa Clara, Sabtu (20/6/2026).

Almiron mendapat kartu merah setelah terlibat adu argumen dengan bek Turki, Mert Müldur. Kamera pertandingan menangkap momen mantan pemain Newcastle United tersebut berbicara sambil menutupi mulutnya menggunakan tangan.

Aksi tersebut langsung dilaporkan kepada wasit utama, Ivan Barton. Setelah melakukan peninjauan melalui monitor Video Assistant Referee (VAR), wasit asal El Salvador itu kembali ke lapangan dan memberikan kartu merah langsung kepada Almirón.

Meski sempat diwarnai protes keras dari seluruh penggawa timnas Paraguay karena dinilai terlalu cepat mengambil keputusan, Barton bergeming.

Picu polemik

Penerapan Aturan Prestianni ini langsung memicu perdebatan global mengenai arah baru kebijakan disiplin FIFA. Meski disahkan demi menciptakan lingkungan pertandingan yang bersih dari pelecehan verbal, aturan ini tetap memicu pro dan kontra.

Banyak pengamat menilai regulasi ini terlalu subjektif karena mengabaikan hak privasi pemain yang terkadang menutup mulut hanya untuk membicarakan taktik agar tidak terbaca oleh tim lawan.

Bahkan, pascalaga Paraguay versus Turki, muncul laporan internal yang menyebutkan adanya potensi kesalahan interpretasi VAR, di mana beberapa pihak mengklaim kartu merah Almirón sebenarnya dipicu oleh simulasi (diving).

Namun, terlepas dari segala perdebatan teknisnya, kartu merah yang diterima Miguel Almirón membuktikan bahwa FIFA kini tidak lagi menoleransi segala bentuk komunikasi tersembunyi di atas lapangan hijau. (JB/03/Vin)

Related Post