Live News

28.3°C
  • Jakarta
July 10, 2026
28.3°C
  • Jakarta
Follow Us:

Diterbitkan oleh

PT GEMA WARTA SEMBILAN

NIB: 1702230088809

Notaris: Noviar Beta Aurenaldi, SH, MKn

Jaring BisnisBlogNasionalSeni BudayaMERAJUT HARMONI WASTRA DAN RASA: DIALOG BUDAYA DI SUDUT IBUKOTA

MERAJUT HARMONI WASTRA DAN RASA: DIALOG BUDAYA DI SUDUT IBUKOTA

Jakarta, JaringBisnis (Jumat, 10/7/2026). Sore yang hangat, Kamis 9 Juli 2026, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, mendadak terasa seperti sebuah lorong waktu yang menghubungkan modernitas ibu kota dengan keanggunan tradisi adiluhung Jawa.

Di salah satu sudut restoran “Cerita Rasa Nusantara” bergaya estetik, aroma kopi yang pekat berkelindan dengan wewangian khas kuliner Nusantara, menjadi latar dari sebuah pertemuan penting yang dipenuhi obrolan hangat namun mendalam.

Hadir dalam diskusi santai tersebut tamu istimewa dari Yogyakarta, Dr Sri Ratna Sakti Mulya, M.Hum., filolog senior sekaligus pakar manuskrip dan Kepala Perpustakaan dari Kadipaten Pakualaman. Turut hadir dalam diskusi tersebut Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum FIB UI, Dr. Lily Tjahjandari, Ph.D. dan Kepala Ruang Arsip Kadipaten Pakualaman Dr. Drs Sudibyo Prawiroatmodjo

Pertemuan ini bukan sekadar ajang temu kangen akademis. Pertemuan ini menjadi sebuah refleksi budaya pasca-kehadiran Swara SeadaNya sebagai tamu VIP dalam peluncuran akbar warisan kebudayaan terbaru Puspa Nuswantara 2026 di Jakarta International Convention Centre (JICC), Senayan, Jakarta.

Topik pertama mengalir anggun membahas perhelatan Puspa Nuswantara 2026 di JICC. Di sanalah, Gusti Putri secara resmi meluncurkan mahakarya terbarunya: Batik Puspawicitra.

Dijelaskan Sri Ratna, terdapat dua latar belakang filosofis di balik kain yang dikerjakan langsung Gusti Putri. Pertama akar inspiratif. Disebutkan motif ini lahir dari hasil pembacaan dan riset mendalam terhadap naskah-naskah kuno yang tersimpan rapat di skriptorium Perpustakaan Kadipaten Pakualaman.

“Sedangkan makna filosofisnya, puspa berarti bunga, dan wicitra bermakna aneka ragam yang indah. Motif ini melambangkan Kadipaten Pakualaman sebagai sebuah taman budaya yang subur. Tempat di mana perbedaan latar belakang, keyakinan, dan pandangan hidup dapat mekar bersama dalam harmoni yang damai,” jelasnya.

“Bagi seorang akademisi kebudayaan, Batik Puspawicitra adalah contoh nyata bagaimana sebuah inovasi modern tetap bertumpu kokoh pada akar tradisi (iluminasi naskah) tanpa kehilangan relevansi zaman,” imbuhnya.

Jejak kuliner dalam goresan aksara kuno

Perbincangan bergeser secara mulus saat hidangan utama restoran disajikan. Kehadiran makanan di meja memicu diskusi menarik lainnya yaitu naskah Nusantara yang bercerita tentang sejarah kuliner.

Sebagai seorang filolog, Sri Ratna menyebut manuskrip kuno tidak hanya berisi tentang ajaran kepemimpinan seperti Asthabrata atau teks spiritual klasik.

“Naskah Nusantara juga menyimpan rekam jejak gastronomi yang luar biasa, mulai dari tata cara penyajian hidangan ritual, hingga jenis-jenis makanan peninggalan para leluhur,” ungkapnya.

Bagi Swara SeadaNya, kekayaan narasi dalam naskah kuliner dan teks sastra Jawa ini adalah bahan bakar kreatif yang tak ada habisnya. Setelah sebelumnya melakukan riset naskah Kakawin Sutasoma di Yogyakarta untuk pementasan seni bulan September mendatang, kelompok ini melihat peluang besar untuk mengalihwahanakan esensi naskah-naskah kuliner kuno ke dalam media seni pertunjukan kontemporer. (JB/03/Wid)

Share:

Related Post