Seni Budaya

Seni Budaya

SONGKET, WARISAN SERUMPUN ANTARBANGSA

Songket Minangkabau menjadi simbol kehormatan dalam struktur adat. Motif-motifnya bukanlah hiasan semata, melainkan cermin dari sistem nilai masyarakatnya. Pola pucuak rabuang, misalnya, melambangkan pertumbuhan dan kebijaksanaan; bada mudiak mengisahkan perjalanan hidup; sementara saluang panjang dan bintang marangkai menandakan doa dan pengharapan. Semua itu, katanya, menunjukkan bahwa setiap helai Songket adalah karya yang sarat makna filosofis.

KONSER ETHER RECURRENCE, MENGUBAH KALUT MENJADI PERGOLAKAN DAN UTOPIA

Konser Alur Bunyi yang diinisiasi Goethe-Institut Indonesien kembali hadir lewat “ETHER RECURRENCE”, karya kolaboratif dari lima musisi dengan praktik bebunyian yang berbeda. Gabriella Miranda, Jesslyn Juniata, Alexandra R, Dalila, dan Billy Aryo berkumpul bukan sekadar untuk menghadirkan tontonan, melainkan untuk merajut kembali serpihan yang tercerai.

SWARA SEADANYA PROMOSIKAN BAHAN PANGAN LOKAL MELALUI MUSIK ETNIK

Kelompok musik etnik Swara SeadaNya mementaskan musikalisasi puisi dengan repertoar berjudul “Perut Bumi Nusantara” karya Ayie Suminar dalam acara Majelis Nyala Purnama #6 yang diadakan dalam rangka menyambut Hari Pangan Sedunia (16 Oktober 2025) di Makara Art Center Universitas Indonesia, Depok, Rabu 8 Oktober 2025.

KULINER NUSANTARA, CERMIN KEBERAGAMAN BUDAYA BANGSA

Menyambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (10 Oktober 2025) dan Hari Pangan Sedunia (16 Oktober 2025), Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia (UI) bekerja sama dengan Komoenitas Makara, dan Urban Spiritual Indonesia menyelenggarakan acara Majelis Nyala Purnama #6 dengan tema: “Makan Sehat, Jiwa Kuat, Bangsa Hebat”, Rabu (8/10/2025) di Makara Art Center Universitas Indonesia.

LAGU LIR ILIR BERGEMA DI PANGGUNG MUSIK DUNIA

Tembang Lir Ilir berkumandang di panggung musik dunial dalam event Asia Pasific Music Festival (APMF) di Fujian, Tiongkok, 4-6 Oktober 2025. Tembang tersebut dimainkan kelompok musik kreatif-akulturatif dari Yogyakarta, Ki Ageng Ganjur (KAG).

KELOMPOK KI AGENG GANJUR AKAN TAMPIL DALAM FESTIVAL MUSIK ASIA PASIFIK DI TIONGKOK

Kelompok musik Ki Ageng Ganjur akan menggelar roadshow budaya ke Tiongkok, 2-7 Oktober 2025. Ini menjadi misi kebudayaan internasional Ki Ageng Ganjur yang ke-7. Dalam lawatannya ke Tiongkok kali ini, Ki Ageng Ganjur akan tampil dalam event ‘2025 Fujian Asia-Pacific Music Festival’ di kota Putian, Fujian. Dalam event ini Ganjur akan tampil bersama 18 grup musik lain dari kawasan Asia Pasifik.

UPAYA MERAWAT KESEJARAHAN TUBUH DALAM PEMENTASAN TARI BATTLE ZONE

Goethe-Institut Indonesien telah mementaskan tari “Battle Zone”, karya koreografer Surabaya Puri Senja berkolaborasi dengan koreografer Jerman Martina Feiertag, di Graha Sawunggaling UNESA, Surabaya, Minggu (21/9/2025) malam. Pementasan ini hadir sebagai upaya merawat kesejarahan tubuh.

D’YELLO SUARAKAN NASIONALISME BERSAMA KOMOENITAS MAKARA

Berawal dari kegundahan, dua sahabat kecil (teman SMP hingga kuliah), Barron Saefudin dan Denny Djatnika, keduanya alumni Fakultas Sastra Universitas Indonesia (sekarang FIB UI), membentuk kelompuk musikalisasi puisi yang ciamik.

SONGKET, WARISAN SERUMPUN ANTARBANGSA

Songket Minangkabau menjadi simbol kehormatan dalam struktur adat. Motif-motifnya bukanlah hiasan semata, melainkan cermin dari sistem nilai masyarakatnya. Pola pucuak rabuang, misalnya, melambangkan pertumbuhan dan kebijaksanaan; bada mudiak mengisahkan perjalanan hidup; sementara saluang panjang dan bintang marangkai menandakan doa dan pengharapan. Semua itu, katanya, menunjukkan bahwa setiap helai Songket adalah karya yang sarat makna filosofis.

KONSER ETHER RECURRENCE, MENGUBAH KALUT MENJADI PERGOLAKAN DAN UTOPIA

Konser Alur Bunyi yang diinisiasi Goethe-Institut Indonesien kembali hadir lewat “ETHER RECURRENCE”, karya kolaboratif dari lima musisi dengan praktik bebunyian yang berbeda. Gabriella Miranda, Jesslyn Juniata, Alexandra R, Dalila, dan Billy Aryo berkumpul bukan sekadar untuk menghadirkan tontonan, melainkan untuk merajut kembali serpihan yang tercerai.

SWARA SEADANYA PROMOSIKAN BAHAN PANGAN LOKAL MELALUI MUSIK ETNIK

Kelompok musik etnik Swara SeadaNya mementaskan musikalisasi puisi dengan repertoar berjudul “Perut Bumi Nusantara” karya Ayie Suminar dalam acara Majelis Nyala Purnama #6 yang diadakan dalam rangka menyambut Hari Pangan Sedunia (16 Oktober 2025) di Makara Art Center Universitas Indonesia, Depok, Rabu 8 Oktober 2025.

KULINER NUSANTARA, CERMIN KEBERAGAMAN BUDAYA BANGSA

Menyambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (10 Oktober 2025) dan Hari Pangan Sedunia (16 Oktober 2025), Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia (UI) bekerja sama dengan Komoenitas Makara, dan Urban Spiritual Indonesia menyelenggarakan acara Majelis Nyala Purnama #6 dengan tema: “Makan Sehat, Jiwa Kuat, Bangsa Hebat”, Rabu (8/10/2025) di Makara Art Center Universitas Indonesia.

LAGU LIR ILIR BERGEMA DI PANGGUNG MUSIK DUNIA

Tembang Lir Ilir berkumandang di panggung musik dunial dalam event Asia Pasific Music Festival (APMF) di Fujian, Tiongkok, 4-6 Oktober 2025. Tembang tersebut dimainkan kelompok musik kreatif-akulturatif dari Yogyakarta, Ki Ageng Ganjur (KAG).

KELOMPOK KI AGENG GANJUR AKAN TAMPIL DALAM FESTIVAL MUSIK ASIA PASIFIK DI TIONGKOK

Kelompok musik Ki Ageng Ganjur akan menggelar roadshow budaya ke Tiongkok, 2-7 Oktober 2025. Ini menjadi misi kebudayaan internasional Ki Ageng Ganjur yang ke-7. Dalam lawatannya ke Tiongkok kali ini, Ki Ageng Ganjur akan tampil dalam event ‘2025 Fujian Asia-Pacific Music Festival’ di kota Putian, Fujian. Dalam event ini Ganjur akan tampil bersama 18 grup musik lain dari kawasan Asia Pasifik.

UPAYA MERAWAT KESEJARAHAN TUBUH DALAM PEMENTASAN TARI BATTLE ZONE

Goethe-Institut Indonesien telah mementaskan tari “Battle Zone”, karya koreografer Surabaya Puri Senja berkolaborasi dengan koreografer Jerman Martina Feiertag, di Graha Sawunggaling UNESA, Surabaya, Minggu (21/9/2025) malam. Pementasan ini hadir sebagai upaya merawat kesejarahan tubuh.

D’YELLO SUARAKAN NASIONALISME BERSAMA KOMOENITAS MAKARA

Berawal dari kegundahan, dua sahabat kecil (teman SMP hingga kuliah), Barron Saefudin dan Denny Djatnika, keduanya alumni Fakultas Sastra Universitas Indonesia (sekarang FIB UI), membentuk kelompuk musikalisasi puisi yang ciamik.