Jakarta, JarngBisnis (Sabtu, 14/3/25) Founder DS Research Center, Dwi Soetjipto, mengimbau masyarakat agar tidak panik terkait isu pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global, termasuk situasi keamanan di Selat Hormuz. Menurut Dwi, untuk kondisi saat ini pasokan energi nasional masih dalam kondisi aman dan distribusi BBM tetap berjalan normal. “Untuk saat ini masyarakat tidak perlu cemas. Pasokan BBM tetap berjalan normal sehingga tidak perlu terjadi panic buying,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa informasi yang sering beredar mengenai stok BBM Indonesia sekitar 21 hari sering disalahartikan oleh publik. Angka tersebut sebenarnya merujuk pada cadangan operasional Pertamina, bukan cadangan strategis energi nasional.
“Sering muncul informasi bahwa Indonesia memiliki stok BBM sekitar 21 hari. Perlu dipahami bahwa angka tersebut adalah cadangan operasional Pertamina. Yaitu cadangan yang dibutuhkan Pertamina untuk menjamin keamanan pasokan kepada konsumen,” jelasnya pada acara berbuka puasa bersama dengan tim DSRC di Jakarta (14/3),”jadi selama Pertamina tidak menghadapi masalah di produksi dan rantai suplainya, terkait kebutuhan impornya, maka pasokan BBM kepada masyarakat mestinya aman.”
Cadangan operasional tersebut terus bergerak karena sistem pasokan energi nasional berasal dari berbagai sumber, mulai dari produksi domestik, impor, hingga pengolahan di kilang yang berlangsung secara berkelanjutan. Karena itu, angka tersebut tidak dapat dimaknai sebagai batas waktu habisnya energi nasional.
Di tengah situasi geopolitik global yang berkembang, Dwi menilai sektor energi memang sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Kawasan Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. “Dinamika geopolitik global, termasuk situasi di Selat Hormuz, kembali mengingatkan kita bahwa sektor energi sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal. Namun terkait gangguan rantai suplai dari Selat Hormuz, saya yakin Pertamina dan pemerintah punya solusi,” kata Dwi.
Ia menjelaskan bahwa gangguan geopolitik biasanya lebih cepat memicu dua dampak utama di pasar energi global, yakni kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya volatilitas pasar energi. Bagi Indonesia, kondisi tersebut berkaitan erat dengan kebijakan pengelolaan subsidi energi. Jika harga minyak dunia meningkat tajam, maka hal tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap anggaran negara.
“Ketika harga minyak dunia naik tinggi, yang perlu diantisipasi adalah potensi pembengkakan subsidi BBM. Dengan asumsi harga minyak dalam APBN sekitar USD 70 per barel, kenaikan harga global bisa memberi tekanan pada anggaran negara,” ujarnya.
Meski demikian, Dwi menilai situasi di kawasan Selat Hormuz saat ini masih berada pada tahap pemantauan. Menurutnya, yang terjadi saat ini lebih kepada pemberlakuan protokol pengamanan di kawasan tersebut. “Untuk Indonesia, dampaknya masih dalam tahap waspada dan wait and see sambil terus memantau perkembangan global,” jelasnya.
Di balik dinamika global tersebut, Dwi menilai ada pelajaran penting bagi Indonesia untuk terus memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang. Ia menyebut Indonesia sebenarnya telah memiliki arah kebijakan energi melalui Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Tantangan berikutnya adalah bagaimana kebijakan tersebut terus didorong agar implementasinya semakin nyata. “Negara aman jika memiliki Cadangan Strategis Nasional,” tekannya.
Menurutnya, ada beberapa langkah strategis yang perlu terus diperkuat untuk menjaga ketahanan energi nasional, antara lain peningkatan eksplorasi energi domestik, peningkatan kapasitas kilang, penguatan cadangan energi strategis, serta percepatan pengembangan energi terbarukan. “Tujuan kita sama, yakni membangun sistem energi nasional yang kokoh, berkelanjutan, dan tangguh untuk 10 hingga 15 tahun ke depan,” kata Dwi.
Pengalaman panjang Dwi di sektor energi membuat pandangannya banyak menjadi rujukan dalam melihat dinamika energi nasional. Ia pernah menjabat sebagai Kepala SKK Migas selama dua periode pada 2018–2024, serta sebelumnya memimpin PT Pertamina (Persero) dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.
Berbekal pengalaman tersebut, Dwi kemudian mendirikan DS Research Center sebagai lembaga pemikir yang berfokus pada riset, pengembangan kapasitas kepemimpinan, serta kajian strategis di bidang energi, manajemen strategis, dan keberlanjutan. Melalui pandangan tersebut, Dwi menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir secara berlebihan terhadap kondisi energi saat ini. Yang lebih penting adalah memastikan kebijakan energi nasional terus diperkuat agar Indonesia memiliki sistem ketahanan energi yang semakin tangguh di masa depan. (JB/02/PUTU/GlG)















