Jakarta, JaringBisnis (Minggu, 24/5/2026). Wayan Suryani masih setia menjalankan ritual perawatan tubuh tradisional yang diwariskan turun-temurun. Perempuan 64 tahun itu mengaku rutin menggunakan beras, kunyit, dan minyak kelapa untuk merawat kulitnya sejak usia remaja. “Dari dulu memang pakainya itu saja,” ujarnya.
Di tengah maraknya produk perawatan kulit modern seperti serum vitamin C, retinol, hingga produk brightening dengan harga jutaan rupiah, praktik tradisional seperti lulur Bali kembali mendapat perhatian. Selain dinilai sederhana, sejumlah bahan alami yang digunakan dalam tradisi tersebut juga mulai dikaji dalam penelitian dermatologi modern.
Di Bali, perawatan tubuh tidak hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi juga bagian dari praktik spiritual dan keseharian masyarakat. Tradisi melukat, ritual pembersihan diri menggunakan air dan bunga, serta lulur berbahan beras, kunyit, cendana, dan bunga kamboja masih dilakukan, terutama menjelang upacara adat.
Bahan-bahan alami tersebut diketahui memiliki manfaat tertentu bagi kulit. Beras yang digiling kasar dapat membantu mengangkat sel kulit mati secara lembut tanpa merusak lapisan pelindung kulit. Sementara kunyit mengandung kurkumin yang dikenal memiliki sifat antiinflamasi, meski efektivitas penggunaannya secara topikal masih terus diteliti.
Cendana juga tercatat memiliki sifat antiseptik ringan dalam literatur fitofarmaka. Adapun bunga kamboja atau frangipani mengandung antioksidan dari kelompok flavonoid, walau penelitian klinis terhadap manusia masih terbatas.
Praktik perawatan tradisional itu dinilai relevan dengan kondisi masyarakat urban saat ini. Paparan polusi udara, penggunaan pendingin ruangan sepanjang hari, hingga residu mineral dari air mandi disebut dapat memengaruhi kesehatan kulit.
Menurut berbagai literatur dermatologi, penumpukan partikel polusi di permukaan kulit dapat menghambat penyerapan produk perawatan. Selain itu, kelembaban udara yang rendah akibat penggunaan AC juga mempercepat hilangnya kadar air alami kulit.
Meski demikian, tren skincare modern kerap berfokus pada penggunaan banyak produk secara berlapis. Padahal, langkah dasar seperti eksfoliasi dan menjaga kelembaban kulit tetap menjadi faktor penting dalam perawatan kulit.
Prinsip tersebut sejalan dengan tradisi lulur Bali yang mengutamakan pembersihan kulit terlebih dahulu sebelum memberikan kelembaban. Praktik ini umumnya dilakukan secara rutin sebanyak satu hingga dua kali dalam seminggu.
“Perawatan kulit bukan semata soal menambah banyak produk, tetapi memahami kebutuhan dasar kulit,” demikian pandangan yang kini mulai kembali digaungkan sejumlah praktisi kecantikan berbasis bahan alami.
Seiring meningkatnya minat terhadap produk berbahan tradisional, sejumlah merek lokal mulai menghadirkan formulasi modern dengan bahan seperti kunyit, beras, dan cendana Nusantara. Salah satunya adalah Etnaprana yang dikembangkan oleh Essentia Apothecary.
Produk tersebut menghadirkan body scrub dan body lotion berbasis rempah lokal yang ditujukan untuk masyarakat urban yang menginginkan perawatan kulit praktis dengan pendekatan tradisional. (JB/03/Wid)



