Jakarta, JaringBisnis (Selasa, 2/6/2026). Memperingati hari lahir Pancasila yang jatuh setiap 1 Juni, Urban Spiritual Indonesia, bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Direktorat Kebudayaan UI, Komoenitas Makara, ILUNI UI FIB dan Perempuan Bersih Narkoba dengan menggelar: Malam Purnama Tirakatan Pancasila, Minggu (31/5/2026).
Dalam acara ini hadir sejumlah tokoh yang menjadi narasumber, di antaranya Pakar Religi Jawa dan Co-Founder Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani, Direktur Kebudayaan UI Dr. Ngatawi Al Zastrouw, Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Dr. Untung Yuwono, Sejarawan Nasional Dr. Bondan Kanumoyoso, dan Ketua ILUNI UI FIB Visna Vulovik.
“Dalam meditasi Malam Purnama Tirakatan Pancasila di hari Waisak ini, peserta diajak berkontemplasi meneguhkan ruang hening pada kejernihan batin, menyadari nilai-nilai luhur Pancasila, dengan merasakan bumi yang menopang tubuh, langit malam memeluk keheningan, angin berhembus penuh kelembutan, cahaya purnama Blue Full Moon yang langka sebagai saksi perjalanan batin masing-masing diri dengan penuh welas asih. Energi purnama yang langka itu dapat memberikan efek ekstra mendalam bagi kesadaran spiritual, dan menjadi siklus penutup untuk menetapkan niat jangka panjang, serta memulai transformasi diri dengan penuh kesadaran perpegang teguh pada kelima sila Pancasila dalam setiap tindakan mengikuti ritme semesta yang lebih besar, dan menemukan makna yang lebih dalam dari berbagai peristiwa yang ada. Kesadaran tersebut menuntun setiap tindakan seseorang selalu hadir sebagai saksi diri. Dengan begitu, nilai-nilai luhur Pancasila selalu hidup dalam setiap kehidupan manusia yang sadar, karena ia bersaksi bagi diriNya sendiri”, ujar Co-Founder Urban Spiritual Indonesia, Turita Indah Setyani.
Di sisi lain, Ngatawi Al Zastrouw mengatakan Pancasila digali dari laku hidup dan tata nilai yang dijalankan oleh bangsa Nusantara. Pancasila bukan lah gagasan atau konsep yang mengawang, abstrak dan tidak jelas.
“Problem Pancasila saat ini adalah dia hanya jadi slogan, bahan pidato dan retorika yang jauh dari laku hidup. Pancasila saat ini mengalami surplus kata-kata tapi minus keteladanan,” ujarnya.
Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Dr. Untung Yuwono menyebut meditasi, refleksi, dan tirakatan dalam kegiatan ini bukanlah bentuk menjauh dari realitas sosial, melainkan upaya mendekatkan diri pada kesadaran yang lebih jernih agar mampu menghadapi kehidupan dengan lebih bijaksana, lebih toleran, dan lebih penuh empati.
“Saya juga berharap kegiatan seperti ini dapat memperkuat fungsi kampus sebagai ruang perjumpaan. Kampus harus menjadi tempat bertemunya ilmu pengetahuan, kebudayaan, spiritualitas, dan kemanusiaan. Dari ruang-ruang seperti inilah semangat persatuan dan dialog antar-manusia dapat terus tumbuh”, ungkap Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Dr. Untung Yuwono. (JB/03/Wid)



