Jakarta, JaringBisnis (Sabtu, 4/7/2026). Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Bank Mandiri berkomitmen mendukung pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Sebagai bagian dari Danantara Indonesia, Bank Mandiri terus memperkuat peran mendorong perekonomian kerakyatan dan menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan di berbagai daerah.
Komiten tersebut diwujudkan Bank Mandiri dengan memberikan bantuan kepada Koperasi Pemasaran Widuri Karya Nusantara di Desa Wonosari, Kendal, Jawa Tengah. “Bantuan yang diberikan berupa mesin tetas telur, serta perlengkapan dan peralatan lainnya,” jelas Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista.
Dukungan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi multipihak dalam Program Nasional Miskin Ekstrem Pasti Kerja ‘Emak-Emak Jadi Pengusaha’ yang diinisiasi Kemenko Pemberdayaan Masyarakat. Melalui program ini, bank bersandi saham BMRI ini memperkuat peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pengentasan kemiskinan ekstrem sekaligus menciptakan peluang usaha produktif bagi masyarakat rentan.
Adhika mengatakan bantuan dirancang untuk memperkuat model usaha produktif berbasis kawasan melalui budidaya Ayam Elba sebagai Ayam Petelur Berbasis Lokal. Model ini mengintegrasikan seluruh rantai nilai usaha, mulai dari penetasan bibit, pembesaran ayam, produksi telur, hingga distribusi dan pemasaran. Ia meyakini pengentasan kemiskinan memerlukan sinergi yang terintegrasi antara pemerintah, sektor swasta, koperasi, dan masyarakat.
“Melalui program ini, kami ingin menghadirkan akselerasi yang bertumbuh bagi ekonomi keluarga serta membangun fondasi usaha berkelanjutan di tingkat desa. Ini merupakan wujud komitmen kami untuk terus melayani sepenuh hati,” ujar Adhika dalam keterangannya.
Sasar perempuan produktif
Program ini menyasar perempuan produktif usia 18-45 tahun dari keluarga penerima bantuan sosial desil 1 hingga 4 di Desa Wonosari. Mereka berperan sebagai pelaku utama usaha pembesaran ayam petelur yang diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan baru bagi keluarga.
Menurut Adhika, pemberdayaan perempuan menjadi salah satu fokus utama program ini karena memiliki peran sebagai penggerak ekonomi rumah tangga. Namun, masih banyak perempuan yang menghadapi keterbatasan akses terhadap modal, pelatihan, maupun peluang usaha produktif.
Melalui sinergi ekosistem layanan yang melibatkan koperasi, program ini juga memastikan keberlanjutan usaha para penerima manfaat. Koperasi Widuri akan berperan dalam pengumpulan hasil produksi serta distribusi telur dengan mekanisme harga yang adil dan stabil.
Inisiatif ini juga hadir sebagai respons meningkatnya kebutuhan masyarakat akan protein hewani berkualitas. Dengan kemampuan produksi bibit secara mandiri melalui mesin tetas telur, masyarakat setempat diharapkan mampu menciptakan rantai pasok yang lebih efisien dan berdaya saing.
“Keunggulan yang berkelanjutan tidak hanya tercermin dari keberhasilan usaha yang tumbuh, Hal tersebut juga terlihat dari kemampuan masyarakat untuk mandiri dan menciptakan dampak ekonomi yang terus berkembang. Karena itu, kami berharap program ini dapat menjadi model pemberdayaan yang dapat direplikasi di berbagai daerah,” tambah Adhika.
Ke depan, program budidaya Ayam Elba ini diharapkan meningkatkan pendapatan keluarga penerima manfaat serta menciptakan lapangan usaha produktif berbasis rumah tangga. Program ini juga diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap bantuan sosial, serta berkontribusi pada penyediaan pasokan telur bergizi bagi masyarakat. (JB/03/Wid)


