Jakarta, JaringBisnis (Sabtu, 9/6/2026). Indonesia merupakan contoh nyata bagaimana kemajemukan dapat dirawat menjadi kekuatan yang indah. Karena itu, seluruh elemen bangsa diharapkan terus menjaga stabilitas dan tidak merusak kedamaian yang telah terbangun.
Hal itu dikatakan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar pada acara Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinekaan Lintas Iman di Jakarta, Sabtu (9/5/2026) yang digelar dalam rangka perayaan 219 Tahun Keuskupan Agung Jakarta (KAJ).
Kegiatan yang mengusung tema ‘Keutuhan Alam Ciptaan’ ini diikuti berbagai lapisan masyarakat, umat paroki se-KAJ, tokoh lintas agama, perwakilan penghayat kepercayaan, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta jajaran instansi pemerintah. Event ini merupakan bukti harmoni Indonesia sebagai sebuah bangsa.
Menag menyebut mengungkapkan bahwa tingkat kerukunan umat beragama di Indonesia saat ini berada pada titik puncaknya.
“Survei membuktikan semenjak Republik Indonesia ini merdeka, alhamdulillah kita berhasil naik pada peringkat paling tinggi, 87 persen. Berarti kita mencapai puncak kerukunan tertinggi. Jakarta juga menjadi ibu kota kedua ter-rukun dan damai di Asia Tenggara,” ujar Menag sepertiu dikutip kemenag.go.id.
Diibaratkan Menag, Indonesia merupakan lukisan Tuhan yang sangat cantik. “Indonesia itu sebuah konfigurasi seperti lukisan. Indonesia adalah lukisan Tuhan yang sangat cantik. Jangan ada yang merusak lukisan ini. Saya ingin betul-betul agar Indonesia menjadi contoh negara yang paling majemuk tapi juga sekaligus menjadi contoh negara yang paling toleran dan rukun,” ujar Menag.
Terowongan Silaturahmi
Simbol nyata dari erat kerukunan tersebut berdiri kokoh di pusat ibu kota, yakni Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Dihadapan ribuan peserta, Menag menceritakan kembali sejarah pembangunan terowongan tersebut yang awalnya diusulkan kepada Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Meskipun pembangunannya menelan biaya yang tidak sedikit akibat harus menyesuaikan dengan jalur pipa air peninggalan Belanda, proyek tersebut tetap dieksekusi karena nilai filosofisnya yang tak ternilai.
“Yang kita bangun ini bukan sekadar terowongan, melainkan ikon dan simbol toleransi. Dan hasilnya, ini adalah satu-satunya terowongan toleransi di dunia. Setiap tamu negara, termasuk Paus Fransiskus, kunjungan pertamanya setelah Istana pasti ingin melihat terowongan ini,” kenang Menag.
Menag menegaskan visinya bersama Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo, bahwa Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan ‘Rumah Kemanusiaan.
“Idealnya semua rumah ibadah itu menjadi rumah kemanusiaan. Tempat untuk menyelesaikan seluruh persoalan kemanusiaan adalah rumah ibadah itu sendiri,” pungkas Menag. (JB/03/Wid)














