Jakarta, JaringBisnis (Senin, 9/3/2026). Di tengah dinamika industri dan perubahan lanskap energi global, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) konsisten memperluas pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia. Hal tersebut merupakan bagian dari kontribusi perseroan dalam mempercepat agenda transisi energi nasional.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani menyebut perseroan menargetkan pertumbuhan yang berkelanjutan seiring dengan upaya optimalisasi potensi panas bumi nasional. PGE, jelasnya, memiliki visi untuk berkembang menjadi world leading geothermal producer.
“Artinya, tidak hanya unggul dari sisi kapasitas terpasang, tetapi juga diakui sebagai geothermal center of excellence di tingkat global. Untuk mencapai hal tersebut, Perseroan menjalankan tiga strategi utama, yakni menjaga keandalan operasional PLTP eksisting dengan total kapasitas 727 megawatt (MW) yang dikelola secara mandiri, mendorong ekspansi dan pertumbuhan bisnis, serta mengembangkan sumber pendapatan masa depan (future revenue streams). Seluruh upaya ini dijalankan dengan prinsip kehati-hatian, disiplin investasi, dan komitmen kuat terhadap ESG,” jelas Ahmad Yani dalam keterangannya.
Kinerja solid
Di sisi lain, kinerja solid dicatatkan PGE sepanjang 2025. Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir pada 31 Desember 2025, PGE membukukan total pendapatan sebesar US$432,73 juta sepanjang 2025 meningkat 6,29 persen secara YoY.
Sementara laba bersih yang didapat sebesar US$137,67 juta. Adapun total aset tercatat sebesar US$3,03 miliar sedangkan kas dan setara kas mencapai US$718,50 juta,
Direktur Keuangan PGE, Yurizki Rio mengungkapkan capaian ini menunjukkan kinerja PGE yang tetap berada pada jalur yang sehat, mencerminkan fundamental keuangan Perseroan yang kuat.
“Kondisi tersebut turut didukung oleh kinerja operasional yang mencatatkan produksi tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high dengan kenaikan produksi sebesar 5,6 persen pada 2025,” jelasnya.
Perkuat ekspansi dan kolaborasi
Lebih jauh Yurizki menjelaskan, saat ini PGE berfokus pada pertumbuhan jangka panjang dengan berinvestasi pada berbagai proyek quick win untuk meningkatkan kapasitas terpasang dan produksi panas bumi. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat kinerja keuangan Perseroan secara berkelanjutan.
“Di saat yang sama, PGE juga terus memperluas kapasitas terpasang melalui sejumlah proyek strategis di berbagai wilayah kerja panas bumi. Dalam jangka panjang, Perseroan menargetkan kapasitas terpasang hingga 3 gigawatt (GW) yang telah teridentifikasi dari 15 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang dikelola,” katanya.
Beberapa proyek kunci PGE untuk mencapai target tersebut antara lain pengembangan Lumut Balai Unit 3 dan 4 (2×55 MW), Hululais Unit 1 dan 2 (110 MW), serta Lahendong Unit 7 & 8 (2×20 MW) dan Binary Unit (10 MW). PGE juga tengah mengembangkan sejumlah proyek co-generation dengan total kapasitas 230 MW.
PGE juga terus memperkuat sinergi antar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam mendorong percepatan transisi menuju energi bersih. Pada Agustus lalu, PGE menjalin kerja sama dengan PT PLN Indonesia Power (PLN IP) untuk mempercepat pengembangan panas bumi melalui 19 proyek eksisting dengan total kapasitas 530 MW.
Langkah ini sekaligus menegaskan kontribusi PGE dalam mendukung target perluasan kapasitas pembangkit berbasis energi baru terbarukan hingga 76 persen pada periode 2025-2034 sebagaimana tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Melalui berbagai upaya ini, PGE berupaya memastikan bahwa manfaat pemanfaatan energi panas bumi dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat Indonesia. (JB/03/Wid)















