WAMENKEU: PEREKONOMIAN INDONESIA TETAP KUAT DAN STABIL

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung . (dok kemenkeu)

Hal tersebut dikatakan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung pada Rakorbangpus 2026 Dalam Rangka Penyusunan RKP Tahun 2027, di Jakarta, Kamis (7/5/2026). Dikatakan Wamenkeu, pemerintah berupaya terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan fiskal yang aktif sejak awal tahun.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mempercepat belanja negara agar dampaknya dapat dirasakan masyarakat dan dunia usaha lebih merata sepanjang tahun.

“Tentu ini bukan autopilot. Karena kalau kita lihat sumber-sumber pertumbuhannya baik dari sisi demand maupun dari sisi supply, memang ada dorongan dari kebijakan-kebijakan pemerintah termasuk kebijakan fiskal,” jelas Juda Agung seperti dikutip kemenkeu.go.id.

Selain menjaga pertumbuhan, pemerintah juga memastikan stabilitas ekonomi tetap terpelihara. Inflasi dinilai masih terkendali, kondisi fiskal dan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia tetap kuat, serta stabilitas harga BBM bersubsidi tetap terjaga untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong konsumsi rumah tangga tetap kuat.

“Kita perlu melakukan refocusing terhadap belanja-belanja yang lain dan itu sudah kita lakukan. Dengan upaya refocusing, upaya pengendalian belanja, upaya mendorong pendapatan, maka defisit fiskal kita bisa kita jaga di 2,9 persen di tahun ini. Dan mudah-mudahan ini sebagai basis yang kuat bagi perencanaan kita di 2027 ke depan,” ungkapnya.

Optimistis

Dikatakan, untuk 2027 pemerintah mengusung strategi pembangunan ekonomi pro-growth dan pro-welfare melalui berbagai program prioritas nasional seperti ketahanan pangan, ketahanan energi, pendidikan, kesehatan, hilirisasi industri, dan pemerataan ekonomi.

Untuk itu, Wamenkeu mengajak seluruh pihak optimistis terhadap masa depan ekonomi Indonesia. Karena menurutnya, Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat untuk menghadapi tantangan global dan mendorong kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

“Saatnya kita untuk tumbuh lebih tinggi, sejahtera lebih cepat. Kalau kita tidak tumbuh tinggi di tahun-tahun ke depan ini, maka kita benar-benar akan masuk ke dalam jebakan pendapatan menengah atau middle income trap,” jelas Juda Agung. (JB/03/Wid)