MAJELIS NYALA PURNAMA: MENJADI PEMENANG BUKAN BERARTI MENJADI PENAKLUK

Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia Dr. Ngatawi Al Zastrouw (tengah). (dok komoenitas makara)

Jakarta, JaringBisnis (8/4/2026). ‘Kemenangan’ pada Idul Fitri lalu mengingatkan pada satu esensi kehidupan yang penting yaitu jadilah seorang pemenang, bukan sekadar penakluk. Jika seorang penakluk merasa bangga karena berhasil menundukkan orang lain atau dunia di sekitarnya demi memuaskan ambisi, maka seorang pemenang sejati merasa bersyukur karena ia berhasil menundukkan hawa nafsu dan egonya sendiri.

“Mahkota kemenangan di hari yang fitri ini bukanlah tentang seberapa besar kita menguasai apa yang ada di luar sana, melainkan seberapa utuh kita berhasil menguasai diri kita sendiri untuk kembali kepada kesucian hati,” ungkap Ketua Fitra Manan.

Majelis Nyala Purnama yang merupakan agenda rutin setiap bulan merupakan ruang teduh untuk merayakan keberagaman, serta pelestarian nilai-nilai kebudayaan Indonesia dengan menyajikan pertunjukan musik, tari, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, orasi budaya dan ditutup dengan meditasi. Pada kesempatan ini kegiatan mengusung tema “Jadilah Pemenang, Bukan Penakluk”.

Para Penampil dalam acara ini adalah Dr Ngatawi Al-Zastrouw, Dr. Ali M. Abdillah, MA., Hendrajit, Fitra Manan, Umam Dante & friends, Srengenge Aryo Segoro, dan Indonesiana Ayuningtyas Wicaksono. Adapun sejumlah tamu turut hadir dalam acara ini seperti Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Dr. Untung Yuwono dan Wakil Dekan 2 FIB UI Dr. Lily Tjahjandari.

“Idul Fitri adalah momentum kemenangan terhadap nafsu dan diri sendiri sehingga manusia dapat kembali fitri. Kefitrian bisa terkotori oleh ambisi kekuasaan dan nafsu menaklukkan orang lain sehingga tega melalukan intrik, fitnah dan kekerasan. Mari menjaga kemenangan dengan menghindarkan diri dari ambisi menaklukkan”, ujar Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia Dr. Ngatawi Al Zastrouw.

Dalam diskusi kebudayaan yang dipandu oleh Dr. Ngatawi Al Zastrouw ini, Hendrajit sebagai Pengkaji geopolitik dan Direktur Eksekutif The Global Future Institute, menyampaikan bahwa makna menjadi pemenang tanpa menaklukkan dari sudut pandang geopolitik penting karena bisa membuat kita peduli pada 3 hal: kenal diri, tahu diri, dan tahu harga diri.

Sementara Dr. Ali M. Abdillah, MA, yang merupakan seorang akademisi, ulama, dan tokoh Nahdlatul Ulama yang menjabat sebagai Sekretaris Umum/Awwal Idarah Aliyyah JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah) periode 2025–2030, menjelaskan konteks menjadi pemenang tanpa harus menjadi penakluk dalam persepsi sufi.

Pada sesi meditasi Dr. Turita Indah Setyani mengajak hadirin untuk bermeditasi dengan mengaplikasikan apa yang disebut dalam filsafat Jawa “Ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake” yang berarti berjuang tanpa pasukan dan menang tanpa merendahkan atau mempermalukan lawan

Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia bekerjasama dengan Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia akan terus bergerak dalam kegiatan pemajuan kebudayaan melalui Majelis Nyala Purnama di bulan-bulan ke depan, dan tentu saja dengan menghadirkan tema-tema menarik. (JB/03/Wid)