JALAN SUNYI SEORANG PEMENANG: MEMBACA PETA BUMI DAN ANATOMI JIWA DI PUSAT BUDAYA MAKARA

Acara Majelis Nyala Purnama edisi Halal Bihalal di selasar gedung Makara Art Center Universitas Indonesia, Depok, Selasa 7 April 2026. (ist)

Oleh: E. T. Hadi Saputra

MALAM turun perlahan di pelataran Pusat Budaya Makara, Universitas Indonesia, pada Selasa, 7 April 2026. Udara bulan Syawal masih membawa kehangatan yang syahdu, merajut kembali benang-benang silaturahmi yang mungkin sempat kusut. Namun, malam itu, ruangan tidak sekadar dipenuhi oleh riuh rendah perayaan halal bihalal.

Di bawah temaram lampu dan kehangatan cangkir kopi, sebuah ‘laboratorium pengetahuan’ sedang bekerja. Para akademisi, budayawan, dan pencari kebenaran duduk melingkar, membedah satu narasi besar yang belakangan ini terasa semakin pudar dari bangsa kita: esensi menjadi seorang pemenang sejati.

Diskusi malam itu mengalir layaknya sebuah simfoni yang indah. Ia bergerak dari lapisan langit yang paling spiritual, turun ke hamparan peta geopolitik dunia, hingga bermuara pada akar rumput kebudayaan kita sendiri.

Menaklukkan gemuruh di dalam dada

Panggung pertama dibuka dengan renungan yang sangat menyejukkan dari Kiai Dr. Ali M. Abdillah, MA. Beliau mengingatkan kita pada kisah penciptaan manusia.

Ketika Tuhan hendak menciptakan khalifah di muka bumi, para malaikat sempat ragu. Mereka khawatir manusia hanya akan membawa kerusakan dan pertumpahan darah. Keraguan itu beralasan, sebab di dalam diri manusia tersimpan unsur-unsur alam semesta—termasuk unsur api yang mudah menyulut amarah, serta nafsu bahimiah (hasrat hewani) yang menuntut pemuasan tanpa henti.

Di sinilah letak makna kemenangan sesungguhnya. Kemenangan Idul Fitri bukanlah piala yang direbut dari tangan orang lain, melainkan keberhasilan kita menundukkan ego dan hawa nafsu di dalam dada.

Di era post-truth (pasca-kebenaran) seperti sekarang, di mana kebohongan dan muslihat sering kali mengenakan jubah malaikat, kejernihan hati adalah satu-satunya kompas yang bisa menyelamatkan kita. Seorang pemenang sejati adalah ia yang selesai dengan dirinya sendiri, yang tidak mudah terprovokasi, dan yang meletakkan cinta kasih di atas hasrat untuk menghancurkan.

Membaca peta bumi, menemukan harga diri

Dari relung batin, percakapan melangkah ke arena global yang lebih keras. Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute, menyajikan sebuah pandangan geopolitik yang begitu memikat. Dengan nada yang tenang namun tajam, beliau memaparkan bahwa bangsa yang kalah sering kali bukan karena kekurangan peluru, melainkan karena buta terhadap jati dirinya sendiri.

Beliau mengajak kita memutar waktu ke tahun 1619. Ketika VOC menaklukkan pelabuhan Sunda Kelapa, mereka tidak sedang mencari sumber daya alam di sana. Belanda menaklukkan titik itu karena mereka pandai membaca urat nadi maritim nusantara.

Sunda Kelapa adalah kunci untuk mengunci Banten dan mengendalikan jalur laut Jawa. Ini adalah tragedi buta geopolitik; kejatuhan kita dimulai karena kita tidak mengenali nilai strategis dari tanah yang kita pijak. Geopolitik, dalam kacamata Hendrajit, bukanlah sekadar ilmu tentang pertahanan militer (defense), melainkan seni mengenali diri, mengetahui posisi, dan menegakkan harga diri bangsa.

Hendrajit kemudian menunjuk Tiongkok sebagai cermin modern. Ketika Deng Xiaoping membangkitkan negerinya, ia tidak menyuruh rakyatnya untuk meniru Barat secara membabi buta. Ia memerintahkan sebuah analisis mendalam atas kesalahan masa lalu, lalu membangun modernisasi yang berakar teguh pada watak budaya mereka sendiri.

Mereka membangun jalur sutra modern, menguasai infrastruktur pelabuhan dunia tanpa harus meletuskan satu pun peluru. Ini adalah bentuk resilience (ketahanan) yang paripurna; sebuah kemenangan yang diraih dengan kecerdasan, bukan kekerasan.

Seekor katak dan narasi kemerdekaan

Gagasan tentang harga diri ini disambut hangat oleh Dr. Untung Yuwono, Dekan Fakultas Ilmu Budaya UI. Sepulangnya dari lawatan ke negeri tirai bambu, beliau membawa satu oleh-oleh yang tidak terlihat namun sangat terasa: rasa setara.

Masyarakat di sana tidak memandang bangsa lain dari posisi bertekuk lutut. Hal yang sama terlihat pada keteguhan hati bangsa Iran yang tetap berdiri tegak menjalankan kehidupan meski berada di pusaran konflik dan tekanan geopolitik yang luar biasa. Mereka memiliki kebanggaan (pride) yang membuat mereka tidak merasa rendah diri di hadapan negara adidaya mana pun.

Sebagai pembungkus dari segala kegelisahan malam itu, budayawan dan tuan rumah, Dr. Ngatawi al-Zastrouw, memberikan sebuah analogi yang sangat romantis sekaligus menampar kesadaran kita. Ia bercerita tentang seekor katak.

Katak itu terpesona melihat cara seekor kijang berlari dengan sangat cepat dan anggun. Sang katak lalu memanggil para ahli, mengubah kurikulum sekolahnya, dan mendatangkan instruktur agar ia bisa berlari seperti kijang. Puluhan tahun berlalu, sang katak tetap gagal. Pada akhirnya, para ahli menyimpulkan bahwa kaki kataklah yang salah, dan mereka memutuskan untuk memotongnya.

Kisah tragis sang katak adalah satir yang pedih bagi bangsa kita. Sering kali, kita terlalu sibuk meminjam “kaki” bangsa lain—meminjam cara pandang Barat atau Timur Tengah—hingga kita lupa bagaimana caranya melompat setinggi-tingginya dengan kaki kita sendiri. Padahal, kita bisa menjadi modern tanpa harus kehilangan keindonesiaan kita. Sejarah dan tradisi, terang Zastrouw, bukanlah fosil yang hanya pantas disimpan di museum. Ia adalah mata air inspirasi, sebuah “vaksin kultural” yang akan memberi kita imunitas untuk menghadapi kerasnya peradaban masa depan.

Epilog: Tarian Sang Ratu dan hening kesadaran di ujung malam

Menjelang akhir perjumpaan, pementasan Tari Ratu Graeni, sebuah tarian klasik Sunda ciptaan Raden Tjetje Somantri pada 1949, ditampilkan dengan anggun. Sang penari, Indonesiana Ayuningtyas, bergerak luwes, menyiratkan ketegasan seorang panglima perempuan yang bertaruh nyawa demi kedaulatan negerinya. Tarian itu seolah menjadi sintesis artistik dari seluruh wacana keberanian yang kami perbincangkan.

Namun, malam itu tidak dibiarkan menguap begitu saja bersama riuh rendah tepuk tangan. Di titik akhir acara, hadirin untuk menepi sejenak dari segala keriuhan dunia melalui sebuah sesi meditasi batin yang dibawakan oleh Dr. Turita Indah Setyani.

Perlahan, mata dipejamkan dan laju napas ditenangkan. Ini adalah sebuah teknik sederhana namun esensial untuk “mengosongkan pemikiran”; sebuah ruang jeda di mana hiruk-pikuk kecemasan global dan lalu lintas media sosial yang menyesakkan dada dibiarkan luruh ke bumi.

Dalam kacamata kejiwaan, meditasi malam itu bukanlah sekadar pelarian mistis, melainkan sebuah metode epistemologis untuk menjernihkan kembali lensa kesadaran kita. Kiai Ali berpesan dengan sangat lembut, ketika dunia di luar sana terlalu bising oleh agenda yang samar dan persoalan yang tumpang tindih, kembalilah bertanya ke dalam dada. Sebab hanya pada hati yang jernih dan tenang, kita dapat menemukan kemudi arah dan jawaban-jawaban yang positif.

Di bawah redup cahaya Pusat Budaya Makara, kami menyadari satu hal yang mendalam: jalan menjadi pemenang sejati adalah menang tanpa ngasorake (menang tanpa merendahkan). Kemenangan itu bermula dari ketajaman membaca peta bumi, dijaga dengan merawat akar tradisi, dan disempurnakan dalam hening meditasi—sebuah kemampuan luar biasa untuk menaklukkan musuh terbesar yang bersemayam di dalam diri sendiri. (*)