Jakarta, JaringBisnis (Jumat, 28/8/2025). Di tengah gempuran modernisasi dan pergeseran zaman, bahasa daerah atau bahasa ibu perlahan mulai kehilangan tempatnya di ruang tutur generasi muda. Menjawab tantangan tersebut, KKN Bhavanastra Kelompok 127 berkolaborasi dengan Karang Taruna RW 08 dan Al-Zastrouw Library menggelar Seminar Literasi Bahasa & Kebudayaan bertajuk “Melu Dongeng, Nyok” pada Kamis (27/8/2026).
Berlokasi di Kantor Al-Zastrouw Library X Adakopi Satulagi, kegiatan ini mengusung tema besar “Indonesia, Kemerdekaan, dan Hilangnya Bahasa Ibu”. Acara ini dirancang hangat dan interaktif dengan menyasar peserta yang terdiri dari Ibu-Ibu dan anak-anak (warga Taman Serua), Karang Taruna 08.
Melalui pemaparan narasumber Devina Febrianti dan dipandu moderator Alasti Elva Mentari, forum ini menekankan bahwa kemerdekaan Indonesia yang sesungguhnya tidak hanya diukur dari kedaulatan wilayah dan politik, melainkan juga dari sejauh mana bangsa ini merawat keberagaman bahasa daerah sebagai benteng identitas budaya.
Di tengah kepungan bahasa global dan jargon populer modern, bahasa ibu sering kali terpinggirkan dari percakapan sehari-hari. Padahal, melalui tuturan bahasa ibu itulah nilai-nilai moral, kearifan lokal, serta memori kolektif suatu masyarakat diwariskan dari generasi ke generasi.
Untuk mengikis batas dan kesan kaku dalam pembelajaran kebudayaan, dongeng dipilih sebagai media utama dalam kegiatan ini. Pendekatan tutur cerita ini tidak hanya menghibur, tetapi juga terbukti efektif menjembatani komunikasi emosional yang hangat antara ibu dan anak.
Pesan filosofis
Melalui untaian kata, alur cerita yang imajinatif, dan intonasi khas, dongeng mampu menyampaikan pesan-pesan filosofis serta mengenalkan kembali kekayaan tutur bahasa ibu secara natural tanpa kesan menggurui. Dengan begitu, anak-anak diajak untuk mencintai serta bangga menuturkan bahasa daerahnya sejak dini dari lingkungan terdekat mereka, yaitu rumah tangga.
Usai talkshow dan diskusi mendalam mengenai pentingnya merawat bahasa ibu di tengah arus pesat globalisasi, keceriaan pun pecah saat sesi mendongeng interaktif dimulai. Selama setengah jam, ikatan ibu dan anak dipererat lewat tuturan cerita rakyat bernuansa lokal yang mengajak anak-anak mencintai kembali bahasa daerahnya. Malam hari, suasana berubah menjadi lebih syahdu dan kontemplatif dalam gelaran Semaan Puisi bersama narasumber Zaky Mubarok.
Melalui perpaduan antara edukasi dongeng bagi anak-anak dan perenungan puisi untuk generasi muda, kegiatan ini diharapkan dapat menyulut kembali kesadaran masyarakat dalam merawat dan menuturkan bahasa ibu di lingkungan keluarga maupun komunitas. (JB/03/Wid)


