Jakarta, JaringBisnis (Kamis, 24/9/2026). Aksi kemanusiaan kembali dilakukan Alumni Brawijaya University Golf (ABG). Kali ini, ABG memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak gempa Flores, khususnya para penyintas di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.
Tidak hanya memberikan bantuan kebutuhan dasar, ABG mulai mengembangkan pendekatan pemulihan ekonomi produktif agar bantuan kemanusiaan dapat memberikan manfaat dalam jangka lebih panjang.
Program tersebut diwujudkan melalui Modal Usaha Ekonomi Produktif berbasis ternak kambing, dengan mekanisme pengembangbiakan dan perguliran kepada penerima manfaat berikutnya.
Salah satu model bantuan yang diberikana adalah ternak bergulir. Pada tahap awal, ABG menyiapkan 2 paket ternak kambing. Setiap paket terdiri dari 1 ekor kambing jantan dan 4 ekor kambing betina. Kambing tersebut dipinjamkan kepada penyintas gempa untuk dipelihara dan dikembangbiakkan.
Penerima manfaat diberikan kesempatan mengembangkan ternak tersebut selama dua kali periode berkembangbiak atau sekitar 14–18 bulan. Setelah itu, mekanisme program diarahkan pada perguliran bibit ternak kepada penerima manfaat berikutnya.
Dengan demikian, bantuan tidak berhenti pada satu keluarga, tetapi diharapkan dapat berkembang menjadi rantai manfaat ekonomi produktif di tengah masyarakat penyintas.
“Prinsipnya bukan hanya memberikan bantuan untuk hari ini, tetapi memberikan modal yang bisa berkembang dan kemudian diwariskan manfaatnya kepada penyintas yang lain,” kata Dr. dr. Lucky Tjahjono, MKes Relawan Kemanusiaan, Alumni FKUB 1980.
Model bantuan ternak bergulir ini dilaksanakan perdana di dua lokasi yaitu Maki Paket, Kecamatan Aesesa dan Ndora, Kecamatan Nangaroro. Dua lokasi tersebut menjadi pilot project untuk melihat efektivitas model ternak bergulir sebelum dikembangkan ke wilayah penyintas lainnya.
Paket Usaha Produktif UMKM
Selain peternakan kambing, ABG juga memberikan dukungan terhadap satu paket usaha produktif UKM cemilan/kuliner Mbay. Program ini diharapkan menjadi bagian dari strategi pemulihan ekonomi masyarakat melalui penguatan usaha mikro berbasis potensi lokal.
“Program ekonomi produktif ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan kemanusiaan ABG di wilayah terdampak gempa Flores. Kegiatan dipadukan dengan pelayanan kesehatan melalui Mobile Clinic/EMT Tipe-1 berbasis mobil, serta distribusi sekitar 200 paket bantuan sembako bagi masyarakat terdampak, terutama di wilayah Kabupaten Nagekeo,” jelas Lucky.
Dikatakan, tim telah melakukan kunjungan dan pelayanan ke sejumlah wilayah, antara lain Makipaket, Nggolonio, Mbay II, Marapokot, Ngaradearo, Waekokak, serta beberapa kelurahan dan dusun di sekitar Mbay. Kegiatan lapangan tersebut dilakukan dengan melihat langsung kebutuhan masyarakat setelah fase tanggap darurat, sekaligus mengidentifikasi kebutuhan yang lebih bersifat pemulihan dan pemberdayaan.
Menurut ABG, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa setelah kebutuhan darurat seperti makanan, obat-obatan dan pelayanan kesehatan terpenuhi, masyarakat membutuhkan modal untuk kembali membangun kehidupan ekonomi warga. Karena itu, bantuan kemanusiaan perlu secara bertahap diarahkan dari bantuan, pemulihan, pemberdayaan, serta Kemandirian.
“Model bantuan dua ternak bergulir yang diberikan pada tahap awal bukan dimaksudkan sebagai program besar dalam jumlah, tetapi sebagai model percontohan. Apabila mekanisme tersebut berjalan baik, program dapat diperluas dengan dukungan masyarakat, dunia usaha, organisasi sosial, alumni, maupun para dermawan,” jelas Lucky.
Dikatakan, ABG membuka peluang kolaborasi dengan para dermawan dan berbagai pihak yang ingin ikut mendukung pemulihan masyarakat Flores. “Dukungan tidak harus selalu berbentuk bantuan langsung kepada korban.
Dukungan juga dapat diwujudkan dalam bentuk investasi sosial, berupa penyediaan aset produktif yang dapat berkembang dan dipergulirkan kepada penerima manfaat lainnya. Karena pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah, tetapi juga membangun kembali kehidupan,” pungkasnya. (JB/03/Wid)


