Live News

28.3°C
  • Jakarta
August 31, 2026
28.3°C
  • Jakarta
Follow Us:

Diterbitkan oleh

PT GEMA WARTA SEMBILAN

NIB: 1702230088809

Notaris: Noviar Beta Aurenaldi, SH, MKn

Jaring BisnisBlogHumanioraPendidikanBEDAH BUKU THE SECRET WEAKNESS OF EVERY GREAT POWER

BEDAH BUKU THE SECRET WEAKNESS OF EVERY GREAT POWER

Jakarta, JaringBisnis Kekuatan sebuah negara, organisasi maupun perusahaan tidak selalu dapat diukur dari apa yang terlihat. Struktur kekuasaan, sumber daya, kewenangan hingga kemampuan mempertahankan pengaruh belum tentu mencerminkan kekuatan yang sesungguhnya.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam bedah buku The Secret Weakness of Every Great Power karya Dr. Eko Surya Lesmana, yang digelar di Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang, Jakarta Selatan, Sabtu (29/8/2026).

Buku yang ditulis dalam bahasa Inggris dan tersedia di Amazon Books tersebut mengajak pembaca melihat sisi lain dari kekuatan besar, khususnya kerentanan yang sering kali tidak terlihat dari luar. Eko menelusuri berbagai strategi kepemimpinan dan peristiwa sejarah yang melibatkan tokoh-tokoh besar dunia untuk menemukan pola mengenai bagaimana sebuah kekuatan dapat dibangun, dipertahankan, sekaligus mengalami pelemahan.

Sejumlah tokoh dan peristiwa yang dibahas antara lain Julius Caesar di Roma, Mustafa Kemal Atatürk di Turki, Vladimir Lenin dalam Revolusi Rusia, Winston Churchill dalam Perang Dunia II, Tsar Nicholas II, peristiwa Dunkirk, Mahatma Gandhi dalam perjuangan kemerdekaan India, Spartacus dalam pemberontakan terhadap Romawi, serta Charles de Gaulle di Prancis.

Melalui berbagai kisah tersebut, buku ini tidak sekadar menguraikan sejarah, tetapi mencoba membaca strategi, keputusan, kekuatan dan kelemahan kepemimpinan yang berada di balik setiap peristiwa. Dari Julius Caesar hingga Charles de Gaulle, pembaca diajak melihat bahwa kekuasaan tidak pernah berdiri sendiri. Di balik kekuatan yang terlihat selalu terdapat faktor internal yang menentukan apakah kekuatan tersebut dapat bertahan atau justru mengalami keretakan.

Laksda TNI Nengah Putra mengatakan, salah satu hal menarik dari buku ini adalah cara penulis melihat arsitektur kekuatan dari dua sisi, yakni kekuatan yang tampak dan kekuatan yang sesungguhnya. “Buku ini mengenai arsitektur kekuatan yang terlihat, visible, yang belum tentu sama dengan yang sesungguhnya.”

Menurutnya, sebuah negara atau organisasi dapat memiliki berbagai atribut kekuatan berupa struktur, sumber daya, kewenangan dan perangkat pertahanan. Namun, kekuatan tersebut belum tentu menunjukkan ketahanan yang sebenarnya apabila fondasi internalnya rapuh. “Pandangan tersebut menjadi relevan ketika berbagai contoh sejarah dalam buku dibaca bukan hanya sebagai rangkaian peristiwa, tetapi sebagai pelajaran mengenai bagaimana pemimpin menghadapi krisis, mempertahankan dukungan dan mengelola kekuatan,” paparnya.

Rangkaian kisah sejarah dalam buku menunjukkan bahwa setiap pemimpin menghadapi bentuk kerentanan yang berbeda. Julius Caesar, misalnya, menjadi bagian dari pembahasan mengenai bagaimana kekuasaan yang semakin besar dapat sekaligus menciptakan ketakutan dan resistensi dari lingkungan di sekitarnya.

Sementara Mustafa Kemal Atatürk memberikan perspektif mengenai kepemimpinan dalam membangun kembali sebuah bangsa melalui perubahan fundamental setelah keruntuhan Kesultanan Utsmaniyah.

Kisah Vladimir Lenin memperlihatkan bagaimana revolusi dan perubahan politik dapat mengubah struktur kekuasaan secara radikal. Sebaliknya, pengalaman Tsar Nicholas II menunjukkan bagaimana sebuah kekuasaan yang secara formal masih memiliki struktur pemerintahan dapat kehilangan dukungan internal dan akhirnya runtuh.

Peristiwa Dunkirk dalam Perang Dunia II menjadi contoh lain tentang bagaimana sebuah situasi yang secara militer tampak sebagai kekalahan dapat berubah menjadi momentum untuk membangun kembali moral dan kepercayaan.

Hal serupa terlihat dari kisah Winston Churchill, yang memilih menyampaikan kenyataan perang kepada rakyat Inggris secara terbuka. Sementara Mahatma Gandhi menunjukkan bagaimana kepercayaan dapat diubah menjadi gerakan kolektif melalui tindakan sederhana yang dapat diikuti masyarakat.

Tokoh lain yang dibahas adalah Spartacus, yang menjadi simbol pemberontakan terhadap kekuasaan Romawi, serta Charles de Gaulle, yang memperlihatkan bagaimana kepemimpinan dan legitimasi dapat memainkan peran penting dalam mempertahankan identitas serta keberlanjutan sebuah bangsa.

Dari berbagai contoh tersebut, buku ini menemukan pola bahwa kekuatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan legitimasi, kepercayaan dan dukungan dari dalam. Hal ini sejalan dengan gagasan utama buku mengenai kerentanan internal atau blind spots.

Pembahas buku, Dr. Ian Montratama, Tenaga Ahli Utama Dewan Pertahanan Nasional RI, mengatakan dirinya menemukan istilah menarik dalam buku tersebut, yakni “front”. Istilah tersebut menggambarkan lapisan luar atau tampilan yang dapat membentuk persepsi mengenai kekuatan, sementara kondisi sebenarnya di balik tampilan tersebut belum tentu sama.

Konsep “front” menjadi penting untuk membaca hubungan antara persepsi dan realitas kekuatan. Sebuah negara atau organisasi dapat terlihat kokoh di mata publik, tetapi menyimpan persoalan internal yang tidak terlihat. Dalam perspektif geopolitik, ungkapnya, kondisi tersebut juga dapat menjadi celah yang dimanfaatkan oleh pihak eksternal. Kelemahan internal yang tidak dikenali atau tidak diselesaikan dapat berubah menjadi kerentanan strategis.

Sementara itu, Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta Dr. Nasruddin Djoko Suryono, yang menjadi tuan rumah kegiatan bedah buku, menyoroti empat aspek ilusi yang berkaitan dengan kekuasaan. Salah satu pesan penting yang disampaikannya Adalah “Kekuasaan dapat membuat orang hadir, tetapi kepercayaan yang membuat orang selalu ada.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan perbedaan antara kepatuhan yang muncul karena kekuasaan dengan dukungan yang lahir dari kepercayaan.

Orang dapat hadir karena jabatan, kewajiban atau struktur. Namun, ketika menghadapi krisis, keberadaan yang bertahan membutuhkan fondasi yang lebih kuat, yakni kepercayaan terhadap pemimpin dan tujuan bersama. Perspektif berbeda disampaikan Dr. Darwin Silalahi, yang mengaitkan gagasan buku tersebut dengan dunia korporasi melalui konsep corporate purpose.

Darwin melihat bahwa kekuatan organisasi modern tidak hanya ditentukan oleh strategi, struktur maupun sumber daya, tetapi juga oleh hubungan antara nilai individu dan nilai organisasi. “Buku ini mencoba mengangkat relevansi internal trust, keselarasan nilai-nilai, kontribusi memperkaya nilai-nilai individu terhadap organisasi, perusahaan, negara, atas identitas diri.”

Menurut Darwin, ketika nilai individu memiliki titik temu dengan nilai dan tujuan organisasi, akan muncul rasa memiliki yang menjadi salah satu fondasi kepercayaan internal. Sebaliknya, ketika terjadi kesenjangan antara identitas individu dengan organisasi, hubungan tersebut dapat melemah. Karena itu, corporate purpose tidak hanya berbicara mengenai tujuan bisnis, tetapi juga mengenai alasan mengapa orang-orang di dalam organisasi memilih untuk memberikan kontribusi dan tetap menjadi bagian dari organisasi tersebut.

Dalam buku The Secret Weakness of Every Great Power, Eko juga menyoroti hilangnya suara kritis sebagai salah satu tanda awal kerapuhan. Kondisi ketika tidak ada lagi orang yang menyampaikan kritik dapat terlihat sebagai situasi yang harmonis. Namun, kondisi tersebut justru dapat menjadi tanda bahwa orang-orang di dalam sistem sudah tidak merasa aman untuk berbicara atau bahkan sudah tidak memiliki kepercayaan bahwa suara mereka akan didengar.

Gagasan tersebut dirumuskan Eko melalui konsep SPLIT, yakni kondisi ketika kekuatan dari luar masih terlihat utuh, sementara dukungan dan kepercayaan dari dalam perlahan menjauh. Konsep ini juga dikaitkan dengan pengalaman runtuhnya Uni Soviet, ketika kekuatan militer dan perangkat negara masih terlihat besar, tetapi fondasi dukungan terhadap sistem telah melemah.

Eko menilai, keberanian menyampaikan pendapat berbeda seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman bagi pemimpin. Justru, suara kritis menunjukkan bahwa masih ada kepedulian terhadap keberlangsungan sebuah organisasi atau negara. Karena itu, buku ini pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai sejarah kekuasaan. The Secret Weakness of Every Great Power menawarkan refleksi bagi pemimpin pemerintahan, militer, perusahaan maupun organisasi tentang bagaimana membaca kekuatan yang sesungguhnya.

Pertanyaan yang diajukan bukan hanya “Seberapa kuat kita terlihat?”, tetapi juga “Seberapa kuat kita sebenarnya?” Dan yang tidak kalah penting, “Apakah orang-orang di dalam sistem masih percaya, masih berani berbicara, dan masih memilih untuk berjalan bersama?” Bagi Eko, kekuatan yang dapat bertahan bukan hanya dibangun dengan kekuasaan dan sumber daya, tetapi dengan kepercayaan, keselarasan nilai, purpose, legitimasi dan keberanian untuk mendengarkan suara kritis dari dalam.

Dengan membaca strategi dan pengalaman para pemimpin besar sepanjang sejarah, buku ini mencoba menunjukkan bahwa great power tidak selalu jatuh ketika musuh dari luar menjadi lebih kuat. Kadang-kadang, keruntuhan dimulai ketika kekuatan dari dalam perlahan kehilangan kepercayaan. “Pada akhirnya, kekuatan yang dapat bertahan bukan hanya dibangun melalui kekuasaan dan sumber daya, tetapi juga melalui kepercayaan, keselarasan nilai, purpose dan keberanian untuk mendengarkan suara kritis dari dalam,” ungkapnya. (JB/02/GlG/Putu)

Related Post