Jakarta, JaringBisnis (Jumat, 24/7/2026). Gubernur bank sentral kawasan Asia Pasifik sepakat memperkuat tata kelola adopsi kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI). Forum ini membahas peluang pemanfaatan AI untuk meningkatkan kinerja bank sentral sekaligus potensi resikonya terhadap perekonomian dan stabilitas sistem keuangan.
Karena itu, kesigapan bank sentral dinilai penting dalam merespons dinamika global melalui bauran kebijakan yang adaptif, serta memastikan adopsi AI dilakukan secara bertanggung jawab melalui penguatan tata kelola, pengawasan, dan mitigasi risiko.
Demikian mengemuka pada rangkaian 31st Executive Meeting of East Asia-Pacific Central Banks (EMEAP) Governors’ Meeting di Singapura, 23–24 Juli 2026. Forum ini dihadiri Gubernur Bank Sentral Australia, Hong Kong SAR, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, dan Thailand, serta Deputi Gubernur Bank Sentral Tiongkok dan Hong Kong SAR.
Tingkatkan produktivitas
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan bahwa AI berpotensi meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan inovasi dalam pelaksanaan tugas bank sentral maupun sektor keuangan dalam jangka menengah dan panjang.
Menurut Perry, implementasi AI di BI dilakukan secara bertahap melalui penguatan kualitas data dan metadata, tata kelola, kapabilitas sumber daya manusia, serta pengembangan berbagai inovasi, dengan tetap menjaga kedaulatan data dan infrastruktur strategis.
“Keberhasilan adopsi AI tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada sinergi antara manusia, proses, dan tata kelola yang baik,” ujar Perry
Forum juga menyoroti bahwa adopsi AI di bank sentral dan sektor keuangan perlu diimbangi dengan penguatan tata kelola dan kerangka pengawasan. Langkah tersebut penting untuk mengantisipasi meningkatnya resiko akibat ketergantungan pada penyedia teknologi AI dan komputasi awan (cloud), serta keterkaitan risiko antarlembaga keuangan dan lintas negara.
Sejalan dengan itu, para Gubernur Bank Sentral EMEAP juga sepakat memperkuat kolaborasi regional untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam pengembangan tata kelola AI, peningkatan ketahanan siber, serta penanganan penipuan digital (digital fraud and scams) yang semakin bersifat lintas negara. (JB/03/Wid)


