DOSEN FKM UI EDUKASI PENCEGAHAN DINI DIARE PADA BALITA DI TANAH SAREAL BOGOR

Prof. Dr. drg. Ririn Arminsih W, MKes, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) memberikan edukasi pencegahan diare kepada ibu-ibu yang memiliki balita di Kelurahan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat pada 11 November 2025. (ist)

Jakarta, JaringBisnis (Selasa, 30/12/2025). Penyakit diare tergolong penyakit endemis di Indonesia dan beresiko menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Khusus di Jawa Barat, data menunjukkan, prevalensi kasus diare mencapai 8,6 persen, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 8 persen.

Bahkan, prevalensi kasus diare pada balita di Jawa Barat mencapai 14,4 persen, melampaui angka nasional yang berada di 12,3 persen. Kondisi ini menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius.

Menyikapi hal tersebut, Prof. Dr. drg. Ririn Arminsih W, MKes, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), turun langsung ke masyarakat melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) di Kelurahan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat pada 11 November 2025.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala UPTD Puskesmas Tanah Sareal, drg. Masayu Rubianti, MKM, Kasi Kesmas Kelurahan Tanah Sareal Resmah Herlina, SE, MA, Ketua Posyandu Kartini Rosdiana, serta Ketua Posyandu Dewi Sartika Siti Setiarini.

Program ini merupakan pengabdian masyarakat yang berasal dari sumber pendanaan hibah program pengabdian Masyarakat Dosen UI 2025. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat, terutama para ibu yang memiliki balita, tentang pentingnya menjaga kesehatan lingkungan dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai upaya pencegahan diare sejak dini.

“Berdasarkan Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Jawa Barat Tahun 2024, Kota Bogor termasuk wilayah dengan jumlah kasus diare yang cukup tinggi. Tercatat sebanyak 34.656 kasus diare pada semua usia dan 11.496 kasus pada balita. Dari seluruh kecamatan di Kota Bogor, Kecamatan Tanah Sareal menempati posisi tertinggi dengan 2.026 kasus,: jelas Ririn Arminsih W.

Fokus ke ibu balita

Berangkat dari kondisi tersebut, kegiatan penyuluhan difokuskan pada ibu balita sebagai garda terdepan dalam pencegahan diare di lingkungan keluarga. Penyuluhan dilaksanakan di Posyandu Kartini RW 1 dan diikuti oleh sekitar 45 balita beserta orang tuanya, bertepatan dengan kegiatan rutin posyandu. Wilayah ini juga tercatat sebagai daerah dengan kasus diare balita tertinggi dan terus meningkat setiap tahunnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta terkait sanitasi lingkungan dan pencegahan diare.
Ririn menyampaikan materi tentang pentingnya pengelolaan lingkungan, termasuk pemanfaatan lubang biopori sebagai solusi sederhana pengolahan sampah organik. Biopori tidak hanya membantu mengurangi sampah rumah tangga, tetapi juga meningkatkan resapan air dan menghasilkan pupuk alami.

Tak berhenti pada penyampaian materi, peserta juga diajak mengikuti demonstrasi langsung pemasangan lubang biopori agar dapat diterapkan secara mandiri di rumah masing-masing. Para ibu juga menerima buku saku berisi informasi tentang faktor risiko diare, standar sanitasi lingkungan sesuai Permenkes Nomor 2 Tahun 2023, serta panduan pemasangan dan manfaat biopori.

Untuk mendukung praktik di lapangan, kegiatan ini dilengkapi dengan pembagian 20 tabung biopori dan tiga unit alat bor biopori yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.

Di akhir kegiatan, peserta kembali mengikuti post-test. Hasilnya menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan, menandakan bahwa penyuluhan ini efektif dalam meningkatkan pemahaman ibu balita mengenai pencegahan diare.

Selain penyuluhan, tim juga melakukan kunjungan ke rumah ibu balita untuk wawancara dan observasi langsung terkait penerapan PHBS dan kondisi sanitasi lingkungan. Sebanyak 51 responden terlibat dalam kegiatan ini.

Hasil observasi menunjukkan bahwa 86 persen jamban memiliki lantai yang tidak kedap air dan kemiringan yang tidak sesuai standar, sehingga berpotensi menimbulkan genangan. Selain itu, 60,8 persen lingkungan sekitar jamban dinilai kurang bersih dan berbau, kondisi yang dapat meningkatkan risiko penularan penyakit, termasuk diare.

“Melalui kegiatan ini, FKM UI berharap masyarakat Tanah Sareal semakin sadar akan pentingnya sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat, demi melindungi balita dari ancaman diare dan mewujudkan kualitas hidup yang lebih sehat,” pungkas Ririn. (JB/03/Wid)