Jakarta, JaringBisnis (17/7/2026). Mencerna judul film besutan Dedy Mercy dan Jonathan Ozoh, barangkali ingatan Anda akan melayang pada kisah kesenian ketoprak Warok Ponorogo, Suminten Edan. Kepala kita mulai dipenuhi intrik cinta beda hirarki kelas sosial ala Karl Marx, hingga teori patriarki di mana wanita menjadi sub-ordinat ala Sara Mills.
Namun begitu Anda duduk di kursi dan menikmati sepuluh menit pertama film ini, semua referensi yang ada di kepala Anda akan buyar. Bahwa terjadi cinta beda kelas sosial memang benar, namun landasan utama film ini berkutat antara dendam dan ilmu hitam.
Ya, pendekatan horor yang bersifat thriller -di mana tokoh utama berjuang melawan tokoh antagonis dalam kondisi yang mengancam jiwa, dengan sebaran fitnah di sana-sini, dipadu-padankan dengan klenik semacam santet, dibangun secara apik menit demi menit. Sebagai sebuah hiburan, ditemani popcorn, film ini cukup asyik untuk dinikmati. Apalagi, Dedy sama sekali tidak memaksakan ke-horor-an dengan adegan-adegan yang jumpscare. Sang sutradara menjalankan misinya senatural mungkin.
Yang menjadi catatan menarik adalah pemilihan lokasi pengambilan gambar, suasana kampung nelayan, atmosfer tambak garam, pasar, lalu pantai, yang membuat kita mengingat Indonesia di masa lalu. Ya, pengambilan gambar dari udara menuju perkampungan nelayan mengingatkan kita pada serial dokumenter Life On The Edge: Taming the Alaskan Wilderness. Kecantikan Indonesia tampak, meski hanya sekelebat bayangan.
Juminten Edan, mungkin cocok bagi Anda yang ingin menikmati film horor tanpa terlalu terbebani dengan adegan jumpscare namun tetap ingin merasakan atmosfer suasana yang kelam, hitam dan getir. Film ini akan tayang perdana pada 23 Juli 2026. (JB/02/GlG)


