Jakarta, JaringBisnis (Jumat, 15/5/2026). Salah satu hal yang membuat orang mengalami stres adalah berita-berita buruk seperti isu gejolak geopolitik dan tekanan ekonomi yang hangat dibahas belakangan ini. Ketidakpastian akan berita-berita buruk membuat masyarakat Indonesia diselimuti dengan rasa cemas dan kecewa.
Di saat ada tuntutan untuk untuk produktif selalu produktif setiap hari, berita-berita buruk tersebut membuat kelelahan pikiran dan kecemasan pun menjadi meningkat. Hal itu lalu ditambah dengan dampak gejolak ekonomi yang membuat opsi escape alias “pelarian” seperti travelling menjadi semakin mahal. Alhasil, generasi produktif masyarakat Indonesia pun harus mencari solusi self-care yang ekonomis dan mudah diakses.
Gen Z dan milenial, dua generasi utama yang menghadapi burnout dan kecemasan pascapandemi, saat ini paling proaktif mencari perawatan yang cepat mengubah ‘frame of mind’ tanpa biaya besar. “Akibat pandemi Covid-19, Gen z pun tampak masih kurang bisa grounding, kembali ke diri sendiri saat sedang mumet atau burnout,” kata Direktur Essentia Apothecary, Anastasia Anindya.
Selain faktor ekonomi, gelombang dekolonisasi budaya kesehatan mendorong khalayak untuk meredefinisi apa yang dianggap ‘wellness’ dan mencari otentisitas lokal dari pada produk impor yang dominan. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat Indonesia juga tetap harus mencari cara murah dan mudah untuk menenangkan diri.
Ritual lokal serta aroma tradisional yang otentik pun bisa menjadi salah satu solusi penawar. Gerakan ‘kembali ke akar’ atau decolonizing wellness bisa mendorong kebanggaan atas warisan wellness Nusantara. Ini menjadi alternatif terhadap narasi wellness Barat atau brand essential oil internasional.
“Kita harus lebih bangga dengan budaya sendiri. Di sini peran Essentia Apothecary untuk ikut mengedukasi masyarakat Indonesia bahwa ada wellness culture turun temurun yang sangat kaya,” ujarnya.
Hidupkan ulang kekayaan lokal
Dikatakan Anastasia Essentia Apothecary berupaya menghidupkan ulang kekayaan lokal itu. Brand yang cikal bakalnya sudah ada sejak era 1980-an ini mampu bertahan di tengah minimnya brand self-care lokal, bahkan sejak awal kehadirannya di pasar Tanah Air.
“Saat krisis moneter 1998, keterbatasan dan mahalnya bahan baku impor memicu inisiatif lokal untuk memanfaatkan sumber daya alam (SDA) Indonesia secara lebih serius. Kami mengawinkan kekayaan SDA dan tradisi wellness Nusantara menjadi produk yang layak dibanggakan di pasar domestik maupun internasional,” katanya.
Tak cuma soal harga, produk impor seringkali tidak mempertimbangkan fisiologi kulit masyarakat Asia Tenggara. Hal ini pun bisa menyebabkan iritasi dan jerawat pada kulit, atau rambut menjadi kering.
“Dengan formulasi yang menyesuaikan kebutuhan lokal dan uji coba yang relevan etnis?kultural, Essentia Apothecary ingin mengisi celah ini dan memberi alternatif yang lebih aman serta fungsional bagi masyarakat Indonesia,” ungkapnya.
Aroma sebagai inti
Essentia Apothecary menempatkan aroma sebagai inti, karena indera penciuman adalah yang paling primal dan memberi reaksi otak tercepat, ini sebuah jalur langsung untuk mengubah suasana hati dan mengatasi stres, kecemasan, atau susah tidur.
Beberapa riset pun menunjukkan aroma seperti jasmine, frangipani, dan jeruk mampu membawa efek neuro?biologis yang dapat menenangkan. Alhasil, essential oil menjadi modal praktis dan terjangkau bagi konsumen yang ingin “escape” tanpa biaya besar.
Dalam waktu dekat, Essentia Apothecary pun berencana akan segera merilis DIY kit berisikan gabungan beberapa botol minyak atsiri murni. Paket ini memberikan keleluasaan masyarakat untuk meracik house blend personal sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Rilis ini juga dilakukan beserta edukasi pemakaian tanpa diffuser agar manfaat wellness bisa diakses tanpa investasi besar pada alat. “Kami ingin orang Indonesia merasakan bahwa wellness itu bukan barang mewah impor, melainkan perpaduan hasil riset sains dari warisan turun temurun yang bisa dinikmati sehari?hari,” pungkas Anastasia. (JB/03/Wid)















