PRESIDEN GELAR RATAS, BAHAS KONDISI EKONOMI TERKINI DAN KEUANGAN

Gubernur BI Perry Warjiyo (tengah) bersama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kedua kanan), Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (kedua kiri), Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi (kiri) dan Ketua LPS Anggito Abimanyu memberikan keterangan pers seusai mengikuti rapat terbatas sejumlah menteri Kabinet Merah Putih dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (05/05/2026). BPMI Setpres/Laily Rachev

Jakarta, JaringBisnis. Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, (05/05/2026). Dalam rapat tersebut, pemerintah membahas perkembangan kondisi ekonomi dan stabilitas sektor keuangan, termasuk dinamika pasar modal di tengah tekanan global.

Seusai rapat tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini berstatus undervalued atau berada di bawah nilai fundamentalnya.

Perry menjelaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini sebenarnya sangat kuat untuk menopang nilai tukar. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen serta tingkat inflasi yang tetap terjaga rendah. Indikator penguat lainnya adalah pertumbuhan kredit yang tinggi serta cadangan devisa yang memadai.

Namun, Perry tidak menampik adanya tekanan jangka pendek yang menyebabkan mata uang Indonesia melemah. Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang memengaruhi, yakni faktor global dan faktor musiman.

Pada penutupan perdagangan Selasa (05/05/2026), nilai tukar rupiah melemah 30 poin atau 0,17 persen menjadi Rp17.424 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.394 per dolar AS. (JB/07/YAY)