USIA TAK JADI HALANGAN NENEK BERUSIA 83 TAHUN TAMPIL DI PASANGGIRI ANGKLUNG AHM

Pasanggiri Angklung Satu Hati (PASH) yang diselenggarakan PT Astra Honda Motor (AHM) menjadi ajang Merrywati Peruba, perempuan berusia 83 tahun, unjuk kebolehan dalam seni musik bersama kelompoknya. (dok ahm)

Jakarta, JaringBisnis (Minggu, 8/2/2026). Usia tidak menjadi penghalang bagi Merrywati Peruba untuk terus berkarya. Hal tersebut dibuktikan Merrywati yang sudah berusia 83 tahun ikut serta dalam Pasanggiri Angklung Satu Hati (PASH) yang diselenggarakan PT Astra Honda Motor (AHM).

Bersama kelompoknya, Merrywati menjadi satu dari 1.700 peserta PASH. Berusia lebih dari sewindu, Merrywati mengaku aktif bermain angklung bersama grup Gita Pundarika NSI sejak 1979.

“Bermain angklung menjadi salah satu cara untuk memperkuat daya ingat, memberikan kenyamanan dan perasaan bahagia. Dari angklung kita belajar pentingnya kerjasama guna menghasilkan melodi yang indah dan harmonis. Ajang PASH bagi kami adalah ruang untuk berkreasi sekaligus mengekspresikan hobi bermusik”, ujar Merrywati, pekan lalu di sela-sela kompetisi PASH.

Merrywati tampil memukau dewan juri bersama 39 pemain angklung lain yang rata-rata berusia lebih dari setengah abad. Memainkan lagu Donau Wellen, Merrywati dan kelompoknya berhasil memikat perhatian dewan juri sehingga tim angklung asal DKI Jakarta ini dinobatkan sebagai juara kategori umum.

Selain menetapkan Merrywati dan tim sebagai pemenang, AHM juga memberikan apresiasi kepada para pemenang dari 3 kategori kelompok lain yaitu Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA). Para pemenang ini berhasil menyisihkan ribuan peserta lain yang berasal dari 21 kabupaten dan kota di Tanah Air.

Selain pemenang di 3 kategori, AHM juga memilih 2 tim terfavorit yang berhasil mencuri perhatian netizen di media sosial. Saat kompetisi berlangsung, para peserta secara kreatif dan kompak membawakan beragam genre musik, mulai dari musik daerah lagu anak-anak hingga lagu original soundtrack film.

“Ini membuktikan angklung mampu berpadu dengan berbagai jenis musik. Teknik permainan musik, kreativitas aransemen hingga estetika dalam penampilan menjadi poin utama penilaian,” ujar Ahmad Muhibbuddin, General Manager Corporate Communication AHM.

Muhibbuddin mengapresiasi antusiasme seluruh peserta dalam menjaga warisan budaya angklung yang telah dikukuhkan oleh UNESCO lebih dari 2 dekade. Kreativitas peserta dalam bermain musik angklung yang dipadukan pengaruh sosial media dapat menjadi alat komunikasi lintas generasi yang berdampak luas

“Angklung mampu memukau dunia bukan sekedar alat musik yang memiliki nilai sejarah bagi bangsa namun turut mengajarkan konsistensi, daya juang dan harmonisasi kerjasama tim yang kami yakini dapat menjadi dasar pembentukan generasi unggul. PASH ini sebagai wadah bagi pecinta angklung di Indonesia dalam eksplorasi kemampuan bermusik tradisional dengan cara yang kekinian dan menyenangkan,” ujar Muhib.

Digitalisasi alat musik tradisional

Selain adu kreativitas, melalui PASH, AHM juga memberikan pembekalan wawasan bagi para peserta dalam bermain angklung yang diberikan langsung oleh pegiat seni yang dikemas dalam payung Astra Honda Berbagi Ilmu (AHBI). Pada sesi pembekalan, seluruh peserta mendapatkan materi secara komprehensif terkait seni ilmu angklung, teknik olah vokal, digitalisasi alat musik tradisional yang kekinian serta teknik pembuatan konten di sosial media guna menarik perhatian masyarakat.

“Saya bangga menjadi bagian dari ajang PASH, kami mendapat banyak ilmu serta bisa berjejaring dengan peserta dari daerah lain. Melestarikan alat musik tradisional menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi tenaga pendidik dalam meneruskan kecintaan budaya ke peserta didik,” ungkap Elsa, guru SDN Sunter Agung 13 Pagi Jakarta salah satu pemenang PASH kategori SD. (JB/03/Wid)