Jakarta, JaringBisnis (Sabtu, 28/2/2026). Untuk menyemarakkan bulan suci Ramadan, Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia bekerja sama dengan Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia menyelenggarakan Majelis Nyala Purnama #10, dengan tema: “Rahmatan Lil Alamin (Cinta Kasih Terhadap Semua)”. Adapun judul acara adalah “Tadarus Cinta: Cinta Kasih Terhadap Semua”, Jumat (27/2/2026) malam.
Acara yang berlangsung di Makara Art Center Universitas Indonesia ini dikemas dalam berbagai bentuk kegiatan seperti orasi budaya, musik, tari, pembacaan puisi, dan meditasi, dengan para pengisi acara antara lain Dr. Ngatawi Al Zastrouw, Dr. Turita Indah Setyani, Drs. Raymond Michael Menot, Rocky Gerung, Dwi Woro Retno Mastuti M.Hum, Fitra Manan, Swara SeadaNya, dan Yogie Sany.
“Cinta adalah hak semua manusia, dan oleh karena itu setiap upaya membunuh dan mengabaikan cinta harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Saat ini kita melihat maraknya penyalahgunaan cinta. Atas nama cinta orang mencaci, membenci bahkan saling menista sesamanya. Melalui Majelis Nyala Purnama kita ingin berbagi cinta untuk semua. Menebar Cinta yang menyehatkan jiwa dan raga, cinta yang membahagiakan lahir dan batin.”, ujar Ngatawi Al Zastrouw, Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia.
“Tadarus cinta adalah sebuah dialektika hati di mana kita tidak hanya membaca lembaran kasih sayang, tetapi juga menghayati setiap denyut kepedulian bagi sesama tanpa memandang kasta atau rupa. Dalam setiap bait interaksinya, terkandung semangat untuk menyebarkan kehangatan yang inklusif, mengubah perbedaan menjadi harmoni, dan menjadikan kasih sebagai bahasa universal yang menyatukan jiwa-jiwa yang haus akan kedamaian. Mencintai semua adalah bentuk ibadah sosial tertinggi, sebuah perayaan kemanusiaan yang memastikan bahwa tak ada satu pun hati yang dibiarkan dingin dalam kesendirian”, tambah Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan.
Salah satu pembicara, Dwi Woro Retno Mastuti banyak menyampaikan testimoni tentang bagaimana perjalanan hidupnya merawat kecintaannya pada wayang potehi. Menurutnya cara Tuhan menganugerahkan rasa cinta tersebut sungguh di luar kebiasaan, bahkan saking cinta nya, Woro dia rela menelusuri dan meneliti Potehi sampai ke beberapa belahan dunia, seperti Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat, dengan uang yang sangat minim, tapi ajaibnya semua bisa terlaksana.
Di akhir acara, digelar sesi meditasi yang dipimpin Dr. Turita Indah Setyani. (JB/03/Wid)















