Jakarta, JaringBisnis (Senin, 12/1/2026). Melalui musik kontemporer, Swara SeadaNya berkomitmen menghadirkan ruang dialog antara masa lalu dan masa kini serta antara bunyi tradisional dan imajinasi modern. Karya-karya kelompok musik etnik kontemporer dari Komoenitas Makara ini diharapkan tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi serta menggugah kesadaran budaya masyarakat.
Komitmen tersebut diwujudkan Swara SeadaNya dengan berdialog dengan Dr. Sri Ratna Saktimulya, M.Hum, seorang pakar naskah dan sejarah Jawa senior asal Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (8/1/2026). Pertemuan ini juga dihadiri Wakil Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Dr. Lily Tjahjandari dan Pakar Kesusastraan FIB UI Dr. Turita Indah Setyani, dan Praktisi Meditasi Sano Rizal yang juga ikut memberikan masukan.
Kepada personel Swara SeadaNya yaitu Asep Rachman Muchlas, Theressa Rida, Ayie Suminar, Gunawan Wicaksono, Abrar Husin, dan Indonesiana Ayuningtyas, Sri Ratna Saktimulya atau yang akrab disapa Ibu Kenit, banyak memberi masukan kepada para personel Swara SeadaNya yang sedang mempelajari beberapa naskah Nusantara untuk nantinya dialih wahanakan dalam bentuk pertunjukan musik, puisi, dan tari.
Pada kesempatan tersebut, Ibu Kenit juga membagi pengalamannya dalam mementaskan Alih Wahana Manuskrip Kuna ke Seni Pertunjukan, “Adisari: Cahaya Kasih di Balik Penaklukan” di Yogyakarta pada Oktober 2025. Pentas atas izin dari Paku Alam X dan dipersembahkan oleh Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, UGM ini berasal dari hasil alih wahana manuskrip kuna ke bentuk senipertunjukan, dengan mengangkat kisah Putri Adisari berdasarkan manuskrip milik Pura Pakualaman yang berjudul Babad Matawis. Pementasan ini dikemas dalam bentuk drama tari berpadu dengan gelaran wayang diiringi lagon, geguritan, macapat dan gamelan. (JB/03/Wid)















