MAJELIS NYALA PURNAMA #8 UNGKAP SISI HUMANIS SEORANG GUS DUR

Inayah Wulandari Wahid, putri bungsu KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi salah satu pengisi acara Majelis Nyala Purnama #8 di Makara Art Center Universitas Indonesia, Depok, Selasa (9/12/2025) yang mengangkat tema 'Humanis Humoris, Bersatu untuk Lucu'. (dok komoenitas makara)

Jakarta, JaringBisnis. Sosok KH Abdurrahman Wahid atau lebih akrab dipanggil Gus Dur memang selalu menarik untuk dibahas. Tokoh yang menjabat Presiden RI 1999-2001 tersebut kerap dijadikan topik dalam berbagai kegiatan.

Pada acara Majelis Nyala Purnama #8 di Makara Art Center Universitas Indonesia, Depok, Selasa (9/12/2025) ketokohan Gus Dur diangkat menjadi tema. Event ini digelar sekaligus sebagai Haul Gus Dur ke-16.

Pentas yang diprakarsai Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia, Komoenitas Makara, dan Urban Spiritual Indonesia ini diawali dengan doa bersama untuk keselamatan masyarakat Indonesia yang akhir-akhir ini banyak dilanda musibah bencana alam.

Dalam acara yang bertema “Humanis Humoris, Bersatu untuk Lucu” ini, Inayah Wulandari Wahid, putri bungsu Gus Dur, berbagi kisah tentang sang ayah. Inayah membawakan materi-materi yang berkaitan dengan sosok ayahnya sendiri.

Inayah bahkan sempat menyampaikan materi satir bahwa apa pantas sang ayah menjadi pahlawan nasional. Dalam acara ini, Inayah juga bercerita sejumlah kisah-kisah lucu Gus Dur lainnya.

Misalnya saat Gus Dur diundang oleh KH Mustofa Bisri atau lebih dikenal dengan Gus Mus, untuk membuka pameran lukisan karyanya. Ketika berpidato Gus Dur bilang bahwa Gus Mus ini aneh.

“Wong orang yang tidak bisa melihat malah diundang ke acara pameran lukisan, diminta pidato pula,” kata Gus Dur saat itu.

Inayah juga bercerita bahwa Gus Dur yang banyak dikenal orang sebagai kiai atau tokoh agama ini ternyata masih punya keinginan-keinginan duniawi. Seperti misalnya saat Gus Dur pulang ceramah dibawakan oleh tuan rumah berupa dua besek/bungkus makanan, satu besar dan satu lagi kecil.

Saat itu, Gus Dur didampingi asisten pribadinya, Ngatawi Al Zastrouw. Oleh Gus Dur, Zastrouw diberikan besek yang kecil sementara besek besar untuknya.

“Ketika sampai rumah, diketahui besek besar yang dibawa Gus Dur hanya berisi nasi putih. Sedangkan besek kecil yang diberikabn ke Zastrouw berisi lauk pauk,” kaya Inayah disambut tawa hadirin, termasuk Dr Ngatawi Al Zastrouw yang saat ini sudah menjabat sebagai Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia. (JB/03/Wid)