KEBIJAKAN FISKAL PRO-GROWTH PERKUAT FONDASI PEREKONOMIAN 2026

Ilustrasi. (meta ai)

Jakarta, JaringBisnis (Rabu, 4/2/2026). Kebijakan fiskal pro-growth yang ditempuh pemerintah pada paruh kedua 2025 berhasil membalikkan arah perekonomian nasional dan memperkuat fondasi pertumbuhan memasuki 2026. Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI membahas kinerja penerimaan negara tahun 2025 yang diselenggarakan di Jakarta pada Rabu (4/2/2026).

Menkeu menjelaskan menjelang akhir 2025, pemerintah menghadapi perlambatan ekonomi yang cukup signifikan. Hal itu tercermin dari penurunan indeks kepercayaan konsumen hingga September 2025. Kondisi tersebut mendorong pemerintah mengambil kebijakan ekspansif dengan menginjeksi likuiditas ke perekonomian.

Kebijakan tersebut terbukti mendorong perbaikan berbagai indikator konsumsi. Indeks kepercayaan konsumen meningkat sejak Oktober hingga Desember 2025, penjualan mobil tumbuh 17,9 persen, dan penjualan sepeda motor meningkat 14,5 persen di akhir tahun.

Indeks penjualan ritel dan konsumsi BBM juga menunjukkan tren kenaikan sejak kebijakan tersebut dijalankan. Menurut Menkeu, kebijakan tersebut berdampak pada sisi fiskal karena pemerintah memilih tidak menaikkan pajak demi menjaga daya beli masyarakat.

“Yang penting adalah kita berhasil membalik arah ekonomi dengan cukup signifikan tanpa melanggar kaidah-kaidah kebijakan fiskal yang berkesinambungan,” ungkap Menkeu.

Dari sisi produksi, indikator manufaktur juga menunjukkan perbaikan. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur tetap berada di atas level ekspansif 50 dan pada Januari 2026 mencapai 52,6. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya optimisme pelaku usaha terhadap permintaan ke depan.

“Jadi kelihatannya momentum pertumbuhan ekonomi yang kita balik di triwulan keempat tahun lalu akan berkelanjutan, paling enggak kalau kita lihat di sini sampai Januari 2026,” ujar Menkeu seperti dikutip kemenkeu.go.id.

Belanja negara

Menkeu menegaskan pemerintah akan terus memastikan belanja negara dilakukan tepat waktu serta menjaga koordinasi dengan bank sentral agar likuiditas di pasar tetap memadai untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Jadi secara keseluruhan indikator ini menunjukkan bahwa perekonomian memasuki 2026 dalam kondisi yang jauh lebih kuat. Konsumsi terus meningkat, mobilitas pulih, kegiatan industri aktif, dan optimisme masyarakat berada pada level yang tinggi. Kombinasi ini memperkuat fondasi pertumbuhan yang lebih stabil untuk 2026 dan ke depannya,” kata Menkeu. (JB/03/Wid)