JAVA FRESH ANTAR BUAH INDONESIA TEMBUS PASAR DUNIA

(Ki-ka) Co-Founder & CEO Java Fresh Margareta Astaman, Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika, dan Co-Founder & CMO Java Fresh Swasti Karim di salah satu packing house milik Java Fresh di Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (9/4/2026). Sejak bermitra dengan DBS Foundation, Java Fresh terus memperkuat industri buah nasional. Hal ini tercermin dari peningkatan kualitas dan kapasitas produksi, dengan umur simpan manggis mencapai hingga 35 hari pada skala industri dan 45 hari pada skala laboratorium, serta volume ekspor buah segar yang telah melampaui 300.000 kg pada tahun 2025 yang mencakup buah-buahan tropis khas Indonesia, seperti manggis, salak, kelapa, buah naga, mangga, markisa, jeruk purut, dan komoditas unggulan lainnya. (ist)

Jakarta, JaringBisnis (Kamis, 9/4/2026). Indonesia merupakan salah satu negara terbesar penghasil buah-buahan di dunia, Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi buah Indonesia mencapai 28,24 juta ton pada 2023. Meski demikian, masih banyak kebun tidak terkelola secara optimal, yang berdampak pada konsistensi kualitas di pasar ekspor. Dari kondisi inilah Java Fresh lahir pada 2014 dengan tujuan membangun sistem yang menghubungkan petani kecil ke pasar global sekaligus membawa aktivitas ekonomi lebih dekat ke komunitas.

Co-Founder & CEO Java Fresh Margareta Astaman mengatakan, selama lebih dari satu dekade berdiri, Java Fresh secara aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari universitas dan lembaga riset hingga perusahaan, termasuk DBS Foundation bersama Bank DBS Indonesia.

“Terjun di bisnis buah-buahan lokal membuat Java Fresh semakin menyadari bahwa produk petani Indonesia memiliki kualitas yang tak kalah saing dengan pasar global. Pada tahun 2025 saja, kami berhasil mengekspor 300.000 ton buah segar,” katanya.

Dikatakan, Java Fresh tidak hanya berfokus pada pasar lokal, tetapi juga mulai mewujudkan visinya dengan membangun sistem yang menghubungkan petani kecil ke pasar global dan menghadirkan aktivitas ekonomi lebih dekat ke komunitas. Namun, kata Margareta, itu bukan hal mudah.

Menurutya, terdapat empat tantangan utama industri agrikultur di Indonesia yang harus diatasi untuk benar-benar membawa buah Indonesia ke panggung global. Pertama, luas lahan petani yang kecil dengan rata-rata hanya di bawah 0,5 hektare. Kedua reliabilitas dan sertifikasi serta keterbatasan teknologi

“Keempat adalah keterbatasan akses pembiayaan yang menghambat investasi pada peningkatan kebun, sertifikasi, dan adopsi teknologi, yang menurut studi Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) menjadi salah satu penghambat utama ekspor hortikultura Indonesia,” jelasnya Margareta.

Buka akses pasar global

Dikatakan, Java Fresh memiliki misi membuka akses pasar global bagi petani mikro, peluang yang sebelumnya sulit dijangkau. Selama ini, banyak petani dengan lahan kecil bergantung pada praktik ijon atau rantai distribusi panjang yang membuat nilai hasil panen mereka terbatas.

“Melalui pendekatan berbasis komunitas, Java Fresh menggandeng para petani kecil untuk mengelola kebun secara lebih terarah, mulai dari perawatan pohon, praktik panen yang tepat, hingga proses sorting dan standar grading internasional, agar mampu menghasilkan buah berkualitas ekspor. Dengan akses pasar yang lebih luas, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada jalur distribusi tradisional, sehingga memperoleh pendapatan yang lebih stabil dan bernilai tinggi, memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus memungkinkan mereka terus berkembang di daerah asal tanpa harus terdorong melakukan urbanisasi,” terang Margareta.

Disebutkan, pendekatan Java Fresh tidak hanya menciptakan pekerjaan, tetapi juga membangun keterampilan dan ekosistem yang memungkinkan perempuan berkembang. “Melalui pelatihan sorting, grading, dan handling sesuai standar ekspor, serta program kesehatan dan edukasi, perempuan yang sebelumnya memiliki akses terbatas kini memperoleh penghasilan, keterampilan, dan pemahaman finansial lebih baik,” jelasnya.

Peran DBS Foundation

Pada 2025, Java Fresh terpilih sebagai salah satu dari lima wirausaha sosial penerima dana hibah dari DBS Foundation Grant Program 2024, sebuah pengakuan atas dedikasi mereka memberdayakan petani mikro dan komunitas lokal. Dukungan ini membuka peluang untuk memperluas skala bisnis sekaligus memperkuat kemampuan menghadirkan solusi nyata bagi isu sosial, lingkungan, dan ekonomi.

“Sebagai purpose-driven bank, Bank DBS Indonesia berkomitmen untuk tumbuh bersama komunitas dan membangun ekosistem yang lebih inklusif melalui pilar keberlanjutan Impact Beyond Banking. Kami berharap dukungan dan kolaborasi ini dapat mendorong Java Fresh serta para petani melangkah lebih jauh dalam membawa buah Indonesia ke pasar global. Selain itu kami berharap semakin banyak bisnis berdampak sosial ini tumbuh di Indonesia” ujar Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika.

Sejak bermitra dengan DBS Foundation, Java Fresh terus memperkuat industri buah nasional sekaligus memberdayakan komunitas lokal. Hal ini tercermin dari peningkatan kualitas dan kapasitas produksi, dengan umur simpan manggis mencapai hingga 35 hari pada skala industri dan 45 hari pada skala laboratorium, serta volume ekspor buah segar yang telah melampaui 300 ribu kg.

Dengan jangkauan ekspor ke 25 negara, Java Fresh beroperasi mengacu pada sertifikasi Global Good Agricultural Practice (GLOBALG.A.P.) dan GLOBALG.A.P. Risk Assessment on Social Practice (GRASP), yang memastikan kepatuhan terhadap standar global dalam keamanan pangan, keberlanjutan, dan tanggung jawab sosial.

Dukungan DBS Foundation juga memperkuat kapasitas research and development (R&D) Java Fresh yang menjadi kunci dalam menghadapi gangguan iklim dan distribusi. Dengan umur simpan yang lebih panjang, risiko kerugian berkurang, limbah pascapanen menurun, dan efisiensi operasional meningkat.

Dampaknya, rantai pasok lebih tangguh, jangkauan pasar meluas hingga 25 negara, dan ekspansi ke tiga wilayah baru melibatkan 400 petani binaan serta 90 pekerja perempuan di pedesaan. Secara total, Java Fresh telah memberdayakan 210 pekerja perempuan di enam packing house. (JB/03/Wid)