Live News

28.3°C
  • Jakarta
August 30, 2026
28.3°C
  • Jakarta
Follow Us:

Diterbitkan oleh

PT GEMA WARTA SEMBILAN

NIB: 1702230088809

Notaris: Noviar Beta Aurenaldi, SH, MKn

Jaring BisnisBlogHumanioraSeni BudayaMAGISNYA RITUAL RUWAT HUTAN OLEH KI MUGI YUSUF RAHARJO DAN SWARA SEADANYA

MAGISNYA RITUAL RUWAT HUTAN OLEH KI MUGI YUSUF RAHARJO DAN SWARA SEADANYA

Jakarta, JaringBisnis (Minggu, 30/8/2026). Di bawah langit fajar yang meredup, Hutan Universitas Indonesia melepas kabut tipisnya dengan enggan. Sabtu, 29 Agustus 2026, angin lembut menyapa permukaan kulit, berbaur aroma tanah basa.

Di sinilah, di antara tegakan pohon yang membisu, sebuah ritus dihidupkan. “Wayangan Ruwat Rawat Hutan” bukan sekadar pertunjukan, melainkan upaya mengetuk pintu langit dan bumi untuk memohon pada Sang Pencipta dalam upaya pelestarian hutan, yang digerakkan oleh kolaborasi antara Komoenitas Makara, Direktorat Kebudayaan UI, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Urban Spiritual Indonesia, dan Program Studi Sastra Jawa FIB UI.

Sebelum dimulainya Wayangan Ruwat Rawat Hutan, sebuah perhelatan magis diritualkan, Ki Mugi Yusuf Raharjo berdiri selaku pemangku ritus. Namun, upacara tak pernah berjalan dalam kesunyian mutlak.

Getaran paling arkais dalam upacara pagi itu ditiupkan oleh Swara SeadaNya, kelompok musik yang hadir bukan untuk menghibur, melainkan menggenapi sunyi. Lima personel larut dalam fokus mereka: Asep Rachman Muchlas, Theressa Rida, Indonesiana Ayuningtyas Wicaksono, Bay Guitaro, dan Ganeshauman Taqwa Lumakso.

Wajah mereka datar, steril dari ekspresi teatrikal. Ketika jemari menyentuh instrumen, waktu seolah membeku di bawah kanopi hutan di area Makara Art Center UI.

BACA JUGA  MERAJUT HARMONI WASTRA DAN RASA: DIALOG BUDAYA DI SUDUT IBUKOTA

Suara pertama yang membelah udara dingin adalah gesekan biola Bay Guitaro. Nada-nadanya panjang, menyayat, dan tanpa kompromi, seperti angin malam yang tertinggal di celah ranting. Tak lama, celempung mengambil alih denyut ritme. Ketukan alat musik bambu khas Jawa Barat ini mengalun konstan dalam kontrol Asep Rachman Muchlas, menciptakan detak jantung buatan bagi hutan yang sedang diruwat.

Di sudut lain, bunyi kecapi yang dimainkan Theressa Rida menyeruak, menghasilkan vibrasi rendah yang menggetarkan rongga dada. Suara kecapi ini mengalun lembut seolah bergerak dari dalam tanah.

Kontemplasi sunyi

Kombinasi instrumen etnik ini melahirkan lanskap suara unik ditambah dengan liukan tubuh dari penari Indonesiana Ayuningtyas Wicaksono dan Ganeshauman Taqwa Lumakso yang bersumber dari berbagai ragam gerak tari Nusantara yang menambah magis suasana. Musik mereka tidak megah, justru terasa minimalis, apa adanya, dan mekanis dalam presisinya, sejalan dengan nama kelompok mereka yang berserah pada apa yang ‘seadanya’ di alam dan ‘seadaNya’ pemberian Tuhan.

BACA JUGA  SEMAAN PUISI TAUFIQ ISMAIL HIDUPKAN JIWA SASTRA DI TIM

Swara SeadaNya tidak sedang bermain musik dan menari dalam artian modern; mereka menyusun struktur frekuensi. Setiap bebunyian dan tarian dikirimkan untuk mengiringi rapalan doa dan juga mantra Ki Mugi Yusuf Raharjo yang tenggelam dalam kepulan asap kemenyan.

Saat mantra diucapkan, instrumen etnik itu merespons layaknya gema dari dinding gaib hutan kampus. Bunyi biola yang dingin berpadu ketukan celempung repetitif, mengunci kesadaran siapa pun yang hadir ke dalam titik nol, sebuah ruang hampa di mana manusia dipaksa berkaca pada kerusakan alam.

Ketika ritual mencapai puncaknya, semua instrumen menyatu dalam gelombang suara yang pekat. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorak-sorai. Hanya ada kepatuhan total pada ritus. Ki Mugi Yusuf Raharjo dan Swara SeadaNya sukses meletakkan fondasi bunyi yang asing, dingin, dan murni di tanah Universitas Indonesia pagi itu.

Mereka membuktikan bahwa untuk merawat hutan yang sekarat, manusia tidak butuh selebrasi yang bising, melainkan kontemplasi sunyi yang dingin, langsung ke jantung bumi. (JB/03/Wid)

 

Related Post