Jakarta, JaringBisnis (Sabtu, 29/8/2026). Komoenitas Makara bersama Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Urban Spiritual Indonesia, dan Program Studi Sastra Jawa FIB UI menyelenggarakan “Wayangan Ruwat Rawat Hutan” dengan tema: Strategi Kebudayaan dalam Pelestarian Lingkungan Hidup di hutan kampus Universitas Indonesia, Depok, Sabtu pagi 29 Agustus 2026.
Hadir dalam acara ini antara lain Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Direktur Kebudayaan UI Ngatawi Al-Zastrouw, pakar Kebudayaan Jawa FIB UI Prof. Dr. Darmoko, Dr. Ari Prasetiyo, S.S., M.Si, praktisi meditasi Turita Indah Setyani, dalang wayang kulit Ki Fakih Tri Sera Fil Ardhi, praktisi kebudayaan Ki Mugi Yusuf Raharjo dan kelompok Swara SeadaNya.
Dalam pernyataannya, Lestari Moerdijat menyebut kegiatan ini sebagai strategi kebudayaan dalam pelestarian lingkungan hidup sangat relevan. Menurutnya, krisis lingkungan bukan semata persoalan teknis, ekonomi, atau regulasi.
“Ini adalah persoalan nilai, cara pandang, dan kebudayaan. Hutan bukan sekedar hamparan pohon atau lahan yang menunggu dimanfaatkan, hutan adalah sumber kehidupan, sumber air, penyangga pangan, pengendali iklim, ruang hidup masyarakat, dan rumah keanekaragaman hayati. Ketika hutan rusak dampaknya hadir dalam berbagai dimensi,” Lestari Moerdijat.
Sedangkan Ngatawi Al Zastrouw menyebut hutan adalah bagian dari kehidupan manusia. Menjaga hutan adalah menjaga kehidupan dan kesadaran ini sudah tumbuh sepanjang peradaban manusia.
“Hal ini tercermin dalam berbagai tradisi, ritual adat dan budaya Nusantara. Ketika hutan sedang mengalami krisis sehingga mengancam kehidupan manusia, kita perlu menggali nilai dan spirit dari tradisi dan ritual adat sebagai strategi kebudayaan menjaga dan merawat hutan,” ujar Al Zastrouw.
Peran krusial tradisi lokal
“Wayangan Ruwat Rawat Hutan” dikemas dalam beberapa rangkaian acara. Acara ini diawali kirab dari massa gabungan dari civitas akademika UI, pegiat kebudayaan, hingga masyarakat umum yang semuanya mengenakan wastra Nusantara. Peserta bergerak dari Gedung Makara Art Center UI ke hutan kota tepi Danau Kenanga.
Kegiatan lalu berlanjut dengan doa oleh Ngatawi Al Zastrouw dan ritual adat yang dipimpin Ki Mugi Yusuf Raharjo sambil diiringi oleh musik etnik yang bersifat meditatif dengan ilustrasi gerak tari dari kelompok Swara SeadaNya.
Ki Fakih Tri Sera Fil Ardhi kemudian membuka wayangan dengan membawakan lakon Bambang Sudamala. Setelah wayangan, Turita Indah Setyani dari Urban Spiritual Indonesia memimpin para hadirin untuk bermeditasi bersama di bawah rimbunnya hutan UI yang menyegarkan. Sesi terakhir adalah focus group discussion yang membahas kajian akademis dan sosiologis dari Wayangan Ruwat Rawat Hutan dengan para pemantik diskusi.
“Acara menegaskan tradisi lokal memiliki peran krusial dalam menahan laju kerusakan lingkungan dan mengendalikan krisis iklim saat ini. Komoenitas Makara berharap pendekatan berbasis kebudayaan dapat menjadi strategi alternatif yang efektif dan inklusif dalam kebijakan pelestarian hutan nasional. Kolaborasi antara budayawan, aktivis lingkungan, dan generasi muda diharapkan mampu memperkuat komitmen bersama untuk menjaga kelestarian hutan demi masa depan Nusantara,” ungkap ketua Komoenitas Makara, Fitra Manan.
Sedangkan Turita Indah Setyani mengatakan meditasi hadir sebagai sebuah ruang refleksi budaya yang menempatkan hutan bukan semata-mata sebagai ruang ekologis di luar diri manusia, tetapi juga sebagai simbol kehidupan yang terdapat di dalam diri manusia sebagai belantara pikiran.
“Belantara pikiran mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan juga dapat berawal dari cara manusia berpikir—ketika keserakahan, ketidakpedulian, dan keterputusan dari alam menguasai kesadaran,” kata pendiri Urban Spiritual Indonesia tersebut. (JB/03/Wid)


