Jakarta, JaringBisnis (27/7/2026). Keris merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Menurut catatan Sir Thomas Stamford Raffles dalam History of Java, wanita bangsawan Jawa biasanya membawa keris yang ukurannya lebih kecil dari keris pria yang disebut dengan patrem. Demikian pula menurut Tome Pires (1512-1515) dalam Suma Oriental yang mengatakan bahwa semua lelaki di Jawa, apakah kaya atau miskin, harus memiliki keris di rumahnya.
Bahkan, lanjutnya, tidak ada anak lelaki yang keluar rumah tanpa membawa keris di pinggangnya. Bagi masyarakat Jawa dan Sunda saat itu, keris merupakan identitas diri dan menunjukkan strata sosial tertentu. Semisal petani, mereka umumnya memiliki keris berdapur kebo -bilah keris lurus dengan pangkal yang besar dan menggambarkan kerbau yang identik untuk membajak sawah. Sementara bagi para bangsawan, keris dengan dapur nogo dan singo menjadi pilihan, yang menggambarkan keagungan, kedigjayaan, yang bahkan untuk material pamornya dipilih yang terbaik dan mempergunakan kinatah emas.
Karena itulah, dapur, pakem, pamor, jenis, hingga sandangan keris bisa sangat banyak ragamnya, tergantung kebutuhan para pemakainya. Bahkan, setiap mpu (pembuat keris) dan setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing.
Sebegitu tingginya nilai filosofis keris, sehingga para mpu di masa lalu melakukan ritual tertentu bagi para pemesannya. Mulai dari mendata waktu lahir, jenis keris yang tepat, bahan yang digunakan, hingga hal-hal lain seperti melakukan puasa dan upacara. Intinya, semua hal ini dilakukan sebagai bentuk doa kepada Yang Maha Kuasa agar benda -berupa keris yang dibuat, memberi manfaat baik bagi pemesannya.
Keris Bagi Wanita
Para wanita umumnya memakai keris jenis patrem, yang ukurannya di bawah 29 sentimeter. Biasanya, dapur yang dipilih sederhana, yaitu brojol (bilah lurus) dan cundrik (bilah lurus sedikit membungkuk).
Meski dapurnya sederhana, status simbol bisa sangat menentukan. Bagi wanita bangsawan, biasanya memakai pamor dari bahan meteorit, dengan jenis pamor melati rinonce maupun melati tumpuk -filosofinya bunga harum semerbak dan persahabatan. Pilihan lainnya adalah pedaringan kebak dan wos wutah yang menggambarkan kerejekian.
Bagi kalangan wanita dari strata sosial biasa, bukan tak mungkin mereka juga memiliki keris istimewa, mengingat keris juga menjadi bagian dari perhiasan yang mereka miliki. Meskipun, kebanyakan merupakan keris garapan mpu biasa, dengan ricikan dan pamor yang biasa pula.
Wanita biasanya meyelipkan keris di kemben, stagen, atau lipatan kain sehingga letaknya tersembunyi. Namun, mudah dicabut pada saat-saat genting. Jangan lupa, sejarah mencatat bahwa di masa lalu wanita juga ikut berperang seperti halnya lelaki. Tercatat ada Inong Bale di Aceh, Langen Kusuma di Kesultanan Jogjakarta, Estri Ladrang Mangungkung di Mataram,
Keris Bagi Anak-Anak
Hampir sama dengan keris bagi wanita, keris untuk anak-anak biasanya berdapur brojol dan tilam upih. Keduanya merupakan dapur lurus, di mana bedanya hanya pada area yang disebut tikel alis. Pada anak-anak, ukuran keris biasanya menjadi lebih kecil lagi yang disesuaikan dengan proporsi tubuh mereka. Bahkan, pada mereka yang balita dan anak-anak usia di bawah 10 tahun, mereka membawa keris atau pusaka yang disebut jimatan -sebagai simbol pertahanan diri.
Keris pada anak-anak lebih pada fungsi edukasi, yaitu untuk melatih motorik dengan kemampuan pencak silat, pun belajar etika sejak usia dini dalam membawa serta memperlakukan senjata.
Mengapa Keris Kini Seperti Tabu Bagi Wanita dan Anak-Anak?
Sejarah mencatat, bahwa VOC maupun pemerintah kolonial Belanda biasa melakukan perampasan dan pelucutan senjata pada para pejuang nusantara. Setidaknya ini tergambar dari pelucutan keris Pangeran Diponegoro (Perang Jawa 1825-1830) dan Perang Klungkung 1908.
Bagaimanapun, pusaka seperti keris dianggap sebagai simbol perlawanan. Itu sebabnya, hingga saat ini, setiap satu museum di Belanda bisa menyimpan ratusan hingga ribuan bilah keris. Meski tidak ada catatan secara khusus, tentunya telah terjadi perampasan, pelarangan, atau mungkin razia keris di masa lalu. Secara psikologis penjelasannya sederhana, yaitu sebagai simbol penaklukan bahwa kedaulatan lokal telah ditundukkan, menghancurkan wibawa pemimpin lokal (nusantara), dan sebagai trofi kemenangan penjajah.
Kondisi ini memberi rasa traumatis bagi wanita dan anak-anak, mengakar pada DNA bangsa bahwa membawa keris berbahaya bagi mereka. Karena dalam situasi terjajah, hal kecilpun bisa dibuat sebagai kesalahan yang dapat merenggut kehormatan bahkan jiwa.
Sejak saat itu, wanita dan anak-anak khususnya di Sunda dan Jawa tidak lagi membawa keris sebagai identitas diri.
Hal ini, diperparah dengan propaganda bahwa keris adalah sesuatu yang mistik, benda milik dukun yang digunakan untuk hal-hal ghaib terutama untuk ilmu hitam: Santet, pelet, pesugihan, dan senjata pembunuh.
Kemerdekaan Indonesia tidak mengubah hal itu, bahkan memperparah dengan film-film horor, di mana dukun jahat selalu identik dengan keris. Hal inilah yang dikonsumsi masyarakat moderen sehingga keris identik dengan mampu terbang sendiri, bisa bergerak tiba-tiba, keluar dari warangkanya, haus darah, dimandikan karena kalau tidak khodamnya akan mengamuk, dan hal-hal irasional lainnya.
Tentunya, semua kondisi ini distigmakan pada keris dan pusaka lainnya, agar masyarakat Indonesia menjauh dari akar budaya serta filosofi luhur bangsanya sendiri. Penjajah dan fim-film Indonesia telah berhasil menancapkan kesalahan kolektif tersebut dari generasi ke generasi. (JB/02/GlG)


