Jakarta, JaringBisnis (Rabu, 28/10/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca ekstrem akan terjadi di beberapa wilayah Indonesia dalam sepekan mendatang. Untuk itu, masyarakat diimbau waspada.
BMKG mengantisipasi potensi hujan signifikan di berbagai wilayah Indonesia akibat aktivitas dinamika atmosfer. Berdasarkan prakiraan Musim Hujan 2026/2027, sebagian besar wilayah Sumatera bagian utara telah memasuki periode musim hujan, seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat bagian utara, dan Riau bagian utara.
Secara umum, pada Dasarian I November 2026 menunjukkan bahwa 77,72% wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan kategori menengah, yakni 50–150 milimeter per dasarian. Wilayah tersebut mencakup Sumatra, Kalimantan, Papua, serta sebagian Jawa dan Sulawesi. Sementara itu, curah hujan kategori rendah diprakirakan mendominasi sebagian wilayah Lampung, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
“Meskipun demikian, aktivitas MJO, Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, serta sirkulasi siklonik di Laut Andaman dan sebelah utara Papua Barat Daya berpotensi memicu hujan signifikan dalam skala harian,” ujar Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani dalam siaran pers BMKG.
Pada periode 27–29 Oktober 2026, BMKG menetapkan status siaga hujan lebat hingga sangat lebat untuk sejumlah wilayah, yaitu Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Selanjutnya, pada periode 30 Oktober–2 November 2026, Kalimantan Barat berstatus siaga hujan lebat. BMKG juga mengingatkan potensi angin kencang di beberapa wilayah Sumatra, Jawa, dan Sulawesi Selatan.
Khusus di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, masyarakat perlu mewaspadai potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai angin kencang selama sepekan ke depan. Kondisi tersebut antara lain berkaitan dengan dinamika atmosfer dan keberadaan sirkulasi siklonik di sekitar Laut Andaman sebelah utara Aceh. Sementara itu, tinggi gelombang laut di Selat Malaka diprakirakan berada pada kategori rendah, yaitu 0,5–1,25 meter.
Peringatan Dini Cuaca
Menghadapi kondisi tersebut, Sekretaris Utama BMKG, Guswanto menjelaskan BMKG akan terus memantau perkembangan Siklon Tropis ARNAB dan sirkulasi siklonik di sekitar Laut Andaman dalam sepekan. Apabila terdapat perkembangan signifikan yang berpotensi memengaruhi wilayah Indonesia, BMKG akan menyampaikan pembaruan informasi melalui kanal resminya.
Guswanto kembali mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. BMKG meminta masyarakat menjadikan peringatan dini cuaca sebagai salah satu acuan dalam mengambil langkah antisipasi.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tetapi tidak mengabaikan potensi cuaca ekstrem. Kenali kondisi lingkungan sekitar, tingkatkan kewaspadaan ketika hujan lebat berlangsung, dan ikuti arahan pihak berwenang apabila kondisi cuaca berpotensi membahayakan. Pastikan informasi yang diterima bersumber dari kanal resmi BMKG agar masyarakat dapat mengambil langkah antisipasi secara tepat,” pungkasnya. (JB/03/Wid)


