Jakarta, JaringBisnis (Jumat, 6/3/2026). Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat literasi keuangan nasional telah mencapai 66,46 persen dengan inklusi 80,51 persen. Namun, di sektor syariah, tingkat literasi baru mencapai 43,42 persen dengan tingkat inklusi 13,41 persen.
Data tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk memperkuat ekosistem keuangan syariah nasional, khususnya melalui peningkatan literasi dan akses layanan keuangan syariah kepada masyarakat.
Untuk mempercepat peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah, PT Bank Syariah Indonesia (BSI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menginisiasi 5000 Duta Literasi Keuangan Syariah. Program ini menempatkan generasi muda sebagai motor penggerak edukasi finansial berbasis komunitas di tengah masih lebarnya kesenjangan literasi dan inklusi keuangan syariah nasional.
Kick-off program tersebut dilaksanakan dalam Talkshow Literasi Keuangan Syariah bertema “Generasi Emas Melek Finansial: Keuangan Syariah untuk Indonesia Maju”, yang merupakan bagian dari rangkaian Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2026 di Auditorium BSI The Tower Jakarta.
Direktur Risk Management BSI Grandhis Helmi Harumansyah mengatakan, kolaborasi antara OJK dan BSI dalam program ini merupakan langkah strategis untuk menghadirkan pendekatan literasi yang lebih partisipatif dan dekat dengan generasi muda.
“Generasi muda memiliki peran penting sebagai agen perubahan dalam memperluas literasi keuangan syariah. Melalui program Duta Literasi Keuangan Syariah, kami ingin mendorong lahirnya anak-anak muda yang tidak hanya memahami konsep keuangan syariah, tetapi juga mampu mengedukasi serta menggerakkan lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Perkuat peran keuangan syariah
Ia menambahkan, penguatan literasi keuangan syariah menjadi fondasi penting dalam membangun perilaku finansial yang sehat, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang, terutama di tengah momentum bonus demografi Indonesia.
Melalui program ini, para Duta Literasi Keuangan Syariah akan berperan sebagai agen edukasi di lingkungan kampus, komunitas, serta ruang digital untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap prinsip dan praktik keuangan syariah, mendorong perubahan perilaku finansial.
“Literasi harus mampu mendorong transisi dari kesadaran yang melahirkan aksi. Artinya, masyarakat tidak hanya memahami konsep keuangan syariah, tetapi juga mulai memanfaatkan produk dan layanan keuangan syariah dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Ia mencontohkan, BSI memperoleh mandat sebagai Bank Emas pertama oleh Presiden Prabowo Subianto. Mandat ini menjadi langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi sekitar 1.800 ton emas yang beredar di masyarakat agar dapat dimonetisasi secara produktif, sekaligus membuka akses kepemilikan emas yang lebih luas dan terjangkau bagi masyarakat. “Para Duta Literasi diharapkan mampu menyuarakan sekaligus menggerakkan ini secara lebih masif sehingga kebermanfaatannya akan lebih terasa,” ujarnya.
BSI optimistis, melalui kolaborasi multipihak antara regulator, industri, dan generasi muda, literasi dan inklusi keuangan syariah dapat terus meningkat sekaligus memperkuat peran keuangan syariah sebagai fondasi pembangunan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan. (JB/03/Wid)
bsi, bank syariah indonesia, perbankan syariah, inklusi keuangan, literasi keuangan















