Live News

28.3°C
  • Jakarta
August 13, 2026
28.3°C
  • Jakarta
Follow Us:

Diterbitkan oleh

PT GEMA WARTA SEMBILAN

NIB: 1702230088809

Notaris: Noviar Beta Aurenaldi, SH, MKn

Jaring BisnisBlogBisnisBursa & PerbankanKINERJA FUNDAMENTAL BISNIS BNI MAKIN KOKOH

KINERJA FUNDAMENTAL BISNIS BNI MAKIN KOKOH

Jakarta, JaringBisnis (Kamis, 13/8/2026). Kinerja fundamental yang solid dicapai PT Bank Negara Indonesia (BNI) hingga semester I 2026. Pencapaian itu ditopang pertumbuhan kredit yang sehat, struktur pendanaan yang kuat, kualitas aset yang terjaga, serta transformasi bisnis dan digital yang berkelanjutan.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, perseroan terus memperkuat fundamental bisnis melalui strategi pertumbuhan yang berorientasi pada kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital.

“Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, perseroan  mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen,” ujar Putrama dalam keterangannya.

Menurut dia, strategi tersebut sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan fundamental perusahaan, penerapan tata kelola profesional, serta penciptaan nilai secara berkelanjutan.

Transformasi digital dan penguatan jaringan menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan bisnis BNI. Hingga akhir Juni 2026, jumlah pengguna wondr by BNI mencapai 15,1 juta, dengan volume transaksi meningkat 110% secara tahunan.

Sementara itu, pada segmen wholesale, jumlah pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu. Volume transaksi melalui platform tersebut tumbuh 17% secara tahunan menjadi Rp6.039 triliun.

Dari sisi jaringan, implementasi BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) telah diterapkan di seluruh wilayah operasional BNI. Program tersebut ditujukan untuk memperkuat fungsi kantor cabang sebagai pusat penjualan, meningkatkan produktivitas jaringan, serta mengoptimalkan potensi bisnis di setiap daerah.

BACA JUGA  BTN DAN BSN DOMINASI PEMBIAYAAN RUMAH SUBSIDI

“Melalui BRAVE, setiap wilayah dan kantor cabang memiliki peran yang semakin kuat dalam menggali potensi ekonomi lokal serta membangun ekosistem bisnis. Integrasi antara kapabilitas jaringan dan solusi digital diharapkan dapat mempercepat akuisisi, memperluas transaksi, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan nasabah,” kata Putrama.

Kredit bertumbuh

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, kredit BNI hingga akhir Juni 2026 tumbuh 24,4% secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang portofolio kredit yang semakin terdiversifikasi pada berbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis, mulai dari korporasi, segmen menengah, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga konsumer.

Ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri serta profil risiko masing-masing debitur. Strategi tersebut diterapkan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio.

Di tengah persaingan likuiditas yang masih ketat, dana murah atau current account savings account (CASA) BNI tumbuh 11,2% secara tahunan. Rasio CASA tercatat sebesar 65,4%.

Penguatan CASA turut mendukung efisiensi biaya dana. Cost of fund dana pihak ketiga BNI turun menjadi 2,56% dari 2,78% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tumbuh 14,2% secara tahunan menjadi Rp22,3 triliun. Pendapatan berbasis komisi atau fee-based income (FBI) juga meningkat 14,2% menjadi Rp9 triliun.

Pertumbuhan kedua sumber pendapatan tersebut mendorong laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) mencapai Rp18,5 triliun. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam sejarah BNI untuk periode semester pertama. Adapun laba bersih BNI tercatat sebesar Rp10,8 triliun.

BACA JUGA  BNIDIRECT BISNIS, SOLUSI DIGITAL PRAKTIS UNTUK UMKM

“Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi,” ujar Paolo.

Kualitas aset terjaga

Pertumbuhan bisnis perseroan  juga diiringi dengan kualitas aset yang tetap terjaga. Hingga akhir Juni 2026, rasio loan at risk (LAR) membaik menjadi 8,1% dari 11,0% pada periode sebelumnya. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada pada level 1,9%.

BNI juga mempertahankan kebijakan pencadangan yang konservatif sebagai bagian dari penerapan manajemen risiko. Kebijakan tersebut ditujukan untuk memperkuat ketahanan neraca sekaligus memberikan ruang bagi perseroan untuk melanjutkan ekspansi bisnis secara sehat.

Sedangkan Direktur Risk Management,  David Pirzada mengatakan, kualitas aset yang terjaga merupakan hasil penerapan manajemen risiko secara disiplin dan konsisten di seluruh tahapan proses bisnis.

“Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit. BNI juga terus memperkuat sistem peringatan dini agar setiap perubahan profil risiko dapat diidentifikasi dan ditangani secara lebih cepat,” ujar David.

Memasuki paruh kedua 2026, BNI akan melanjutkan penguatan struktur pendanaan, menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdiversifikasi, serta mempertahankan kualitas aset melalui pengelolaan risiko dan pencadangan yang disiplin. (JB/03/Wid)

#bank negara indonesia  #perbankan

 

Related Post