Jakarta, JaringBisnis (Selasa, 11/8/2026). Percepatan pendalaman pasar keuangan nasional terus didorong menjadi tumpuan utama pembiayaan pembangunan. Keberadaan pasar modal merupakan katalis pertumbuhan ekonomi nasional.
Hal itu diungkapkan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung terus dalam Peringatan HUT ke-49 Kebangkitan Pasar Modal Indonesia yang diselenggarakan di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta kemarin.
“Pasar modal memegang peran strategis sebagai sumber pembiayaan swasta. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan dana masyarakat. Ia adalah sumber pembiayaan yang efisien, transparan, dan berkeadilan,” tegas Juda Agung seperti dikutip kemenkeu.go.id.
Dirinya pun mendorong terwujudnya pasar modal Indonesia yang dalam, liquid, terpercaya, serta kredibel sehingga dapat berperan secara optimal dalam memfasilitasi investasi dan mendukung target-target pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Sepanjang semester I 2026, lebih dari Rp125 triliun telah berhasil dihimpun dengan jumlah investor pasar modal mencapai 28 juta investor, Walau demikian, Wamenkeu ia meminta para pelaku industri untuk tidak berpuas diri.
“Kita perlu terus memperluas basis investor, menambah keragaman instrumennya, meningkatkan likuiditas, serta memperkuat tata kelola pasar modal Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah menyambut baik agenda reformasi yang tengah dijalankan oleh Otroritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI). Mulai dari penguatan likuiditas, peningkatan transparansi, penguatan tata kelola, hingga pendalaman pasar yang tercakup dalam rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia.
Peluncuran ETF Emas
Pada kesempatan yang sama, Wamenkeu Juda Agung mengapresiasi peluncuran Exchange-Traded Fund (ETF) Emas. Langkah ini sebagai salah satu langkah konkret perluasan ragam instrumen dan penguatan likuiditas pasar modal agar makin bersaing di tingkat regional maupun global.
Menurutnya, di pasar modal global, minat terhadap ETF berbasis emas meningkat. Ia menyebut, pada 2025 aset kelolaan ETF emas global mencapai US$559 miliar dengan kepemilikan emas mencapai 4.025 ton.
Wamenkeu menekankan, karena ETF Emas memiliki underlying berupa fisik emas riil, maka kepercayaan investor terhadap aspek penyimpanan, valuasi, serta akuntabilitas transaksi menjadi sebuah harga mati. “Inovasi membutuhkan integritas, dan integritas adalah fondasi dari kepercayaan (trust),” ucapnya.
Ia pun berharap peluncuran ETF Emas ini tidak hanya membesarkan ukuran pasar modal Indonesia. Tetapi juga menjadikannya lebih dalam, inklusif, prudent, dan kredibel demi mendukung target pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
“Pasar yang dalam membutuhkan inovasi. Inovasi membutuhkan integritas. Integritas adalah fondasi dari kepercayaan. Mari kita bersama membangun dan menjaga kepercayaan tersebut,” pungkasnya. (JB/03/Wid)


