Jakarta, JaringBisnis (Jumat, 272/2026). Sepanjang 2025, PT Astra International Tbk meraih pendapatkan bersih konsolidasian sebesar Rp323,4 triliun, 2% lebih rendah dibandingkan dengan 2024 yang sebesar Rp328,5 triliun. Sedangkan laba bersih turun 3% dari Rp33,901 triliun pada 2024 menjadi Rp32,769 triliun.
Presiden Direktur Astra Internasional Djony Bunarto Tjondro dalam keterangannya menyebutkan penurunan ini disebabkan turunnya kontribusi dari bisnis jasa penambangan dan pertambangan batu bara serta bisnis mobil baru. Namun, hal tersebeut diimbangi kinerja yang lebih baik dari bisnis pertambangan emas, jasa keuangan dan bisnis sepeda motor.
“Pada 2025, laba Grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya,” jelas Djony.
Dikatakan Djony, meskipun kondisi operasional pada beberapa bisnis kami masih tetap menantang, Astra Internasional memperkirakan sentimen konsumen secara keseluruhan akan membaik.
“Astra akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin, dengan memanfaatkan posisi neraca Astra yang kuat untuk mendukung penciptaan nilai yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan,” katanya.
Lebih jauh Djony menyebut Nilai aset bersih per saham pada 31 Desember 2025 naik sebesar 8% menjadi Rp5.692. Kas bersih, tidak termasuk anak perusahaan Jasa Keuangan Grup, mencapai Rp7,2 triliun pada 31 Desember 2025, menurun dibandingkan Rp8,0 triliun pada 31 Desember 2024.
Utang bersih anak perusahaan Jasa Keuangan Grup mencapai Rp64,9 triliun pada 31 Desember 2025, meningkat dibandingkan Rp60,2 triliun pada 31 Desember 2024.
Dividen final sebesar Rp292 per saham turun dibanding 2024 yang sebesar Rp308 per saham akan diusulkan pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Perseroan pada April 2026. (JB/03/Wid)















