APBN 2026 CATATKAN DEFISIT RP135,7 TRILIUN PER FEBRUARI 2026

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) didampingi Wakil Menkeu Juda Agung (tengah) dan Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Febrio Kacaribu menyampaikan paparan dalam Konferensi Pers APBN KiTA Edisi Maret 2026 di Jakarta, Rabu (11/3/2026). JaringBisnis/Yayus Yuswoprihanto

Jakarta, JaringBisnis. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2026 mencatatkan defisit 0,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau senilai Rp135,7 triliun per akhir Februari 2026 meski pendapatan negara meningkat sebesar 12,8 persen (year-on-year/yoy) menjadi Rp358 triliun, atau 11,4 persen dari target APBN sebesar Rp3.153,6 triliun.

Kemenkeu juga mencatat penerimaan pajak bersih (netto) mencapai Rp245,1 triliun, tumbuh 30,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), hingga akhir Februari 2026. Realisasi tersebut setara 10,4 persen dari target APBN 2026. Sementara itu, penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai tercatat sebesar Rp44,9 triliun atau sekitar 13,4 persen dari target, namun masih mengalami kontraksi 14,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada kesempatan tersebut juga dipaparkan sejumlah risiko yang dapat dihadapi perekonomian Indonesia akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran di kawasan Timur Tengah, salah satu risiko utama berasal dari potensi penutupan Selat Hormuz yang bisa mengganggu suplai energi global dan memicu lonjakan harga komoditas, khususnya minyak.

Hingga saat ini pemerintah belum memiliki rencana untuk melakukan revisi APBN 2026 meski perekonomian global diwarnai ketidakpastian imbas perang AS dan Iran. (JB/07/YAY).