Jakarta, JaringBisnis (Minggu, 28/6/2026). Berada di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl), Kamojang dikenal sebagai kawasan penghasil energi panas bumi. Dioperasionalkan oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), panas bumi menghasilkan listrik ramah lingkungan yang dimanfaatkan oleh ratusan ribu rumah tangga
Namun, tidak hanya itu. Energi panas bumi dari kawasan yang berada di Jawa Barat ini juga bermanfaat bagi sektor pertanian. Salah satunya adalah bagi perkebunan kopi.
Kamojang memang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi di Indonesia. Kehadiran PGE membantu para petani kopi di Kamojang dalam proses pengeringan biji kopi. Melalui teknologi Geothermal Dry House, fasilitas pengeringan yang memanfaatkan panas dari steam trap sistem panas bumi, petani sangat terbantu dalam proses pengeringan biji kopi.
Lebih higienis
Corporate Secretary PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Muhammad Taufik mengatakan inovasi tersebut membuat proses pengeringan menjadi lebih higienis dengan tingkat kematangan biji kopi yang lebih merata.
“Dari sisi operasional, waktu pengeringan meningkat. Jika sebelumnya petani membutuhkan waktu sekitar 30–45 hari, dengan teknologi tersebut, proses pengeringan hanya butuh waktu sekitar 3–10 hari,” kata Taufik.
Dampaknya, kapasitas produksi meningkat dan biaya operasional bisa ditekan. Selain itu, kualitas biji kopi tetap terjaga sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan mampu bersaing di pasar ekspor.
Dalam program ini, PGE melibatkan tiga kelompok tani, yakni Ecovill, Akkar, dan Penyoeka Kopi. Kolaborasi tersebut telah memberdayakan sekitar 320 keluarga petani kopi di kawasan Kamojang.
“Melalui inovasi seperti Geothermal Dry House, kami ingin memperlihatkan bahwa panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk meningkatkan kualitas produk lokal dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” kata dia.
Kehadiran Geothermal Dry House berdampak pada meningkatnya produksi biji kopi petani. Saat ini, hasil produksi kopi Kamojang telah merambah pasar internasional seperti Jepang dan Jerman, serta pasar lokal.
Berbagai program
Tidak hanya pada kopi, energi panas bumi Kamojag juga dimanfaatkan untuk sektor lain. Manajer HSSE PGE Area Kamojang, Hendrik Sinaga mengatakan, PGE juga mengembangkan program KANYAAH atau Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal yang memperluas penggunaan energi panas bumi ke berbagai sektor produktif.
Disebutkan, panas bumi dimanfaatkan PGE untuk mendukung sektor perikanan melalui Geothermal Fishery, pertanian melalui Geothermal Farming, pengolahan hasil panen melalui Geothermal Food, hingga produksi pupuk organik ramah lingkungan melalui GeO-Fert.
Di bidang lingkungan, perusahaan juga menjalankan program konservasi Elang Jawa melalui Pusat Konservasi Elang Kamojang. Upaya menjaga keseimbangan antara pengembangan energi bersih, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat tersebut mengantarkan Area Kamojang menjadi satu-satunya unit panas bumi di Indonesia yang berhasil meraih 15 penghargaan Proper Emas secara berturut-turut.
Berbagai program pemberdayaan yang dijalankan perusahaan telah memberikan manfaat kepada sekitar 15.000 penerima manfaat di sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan. (JB/03/Wid)



