Jakarta, JaringBisnis (Senin, 15/6/2026). Selama ini, penelitian menunjukkan alkohol yang dikonsumsi perempuan selama kehamilan berisiko meningkatkan risiko gangguan perkembangan janin yang dikandungnya.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa paparan alkohol terhadap peremuan kehamilan dapat berdampak serius pada janin. Bahkan, sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi alkohol oleh ibu dalam jumlah yang sangat kecil, termasuk sekitar satu gelas per minggu, dapat memengaruhi perkembangan otak, fungsi kognitif, perilaku, hingga bentuk wajah anak. Karena itu, berbagai otoritas kesehatan terus menegaskan bahwa tidak ada batas konsumsi alkohol yang benar-benar aman selama kehamilan.
Dampak paparan alkohol pada masa prenatal diketahui mencakup berbagai gangguan yang kini dikenal sebagai Fetal Alcohol Spectrum Disorders (FASD). Kondisi ini meliputi gangguan perkembangan saraf, karakteristik wajah tertentu, keterlambatan bicara, serta masalah perilaku, belajar, dan fungsi kognitif.
Namun, temuan ilmiah terbaru mulai mengungkap bahwa kebiasaan minum alkohol calon ayah sebelum pembuahan juga mungkin berperan terhadap kesehatan anak. Michael Golding, ahli fisiologi perkembangan dari Texas A&M University, menilai penelitian tentang kesuburan dan reproduksi selama ini terlalu berpusat pada perempuan sehingga kontribusi faktor paternal sering kali terabaikan.
Menurut Golding, selama bertahun-tahun ia menerima laporan dari para ibu yang mengaku tidak mengonsumsi alkohol selama kehamilan, tetapi tetap memiliki anak dengan gejala FASD, sementara pasangan mereka diketahui sebagai peminum berat kronis.
Hal ini kerap dianggap sebagai kesalahan ingatan atau bahkan ketidakjujuran dari pihak ibu. Namun, penelitian terbaru mulai menunjukkan bahwa kemungkinan tersebut tidak dapat diabaikan begitu saja. Sejumlah studi populasi menemukan adanya hubungan antara konsumsi alkohol oleh ayah sebelum pembuahan dengan meningkatnya risiko berbagai gangguan kesehatan pada janin.
Merespon hal ini, Golding dan timnya melakukan penelitian dengan tikus sebagaiu subyek. Mereka mengembangkan model yang meniru karakteristik FASD pada manusia, seperti ukuran mata yang lebih kecil dan ukuran kepala yang berkurang.
Hasil penelitian tersebut cukup mengejutkan. Anak tikus dari induk betina yang mengonsumsi alkohol memang menunjukkan gejala yang sesuai dengan karakteristik FASD. Namun sejumlah perubahan pada bentuk wajah dan pertumbuhan tubuh menjadi lebih berat ketika kedua induk terpapar alkohol.
Yang lebih menarik, beberapa kelainan pada rahang, jarak antar gigi, ukuran mata, dan jarak antar mata justru tampak lebih jelas pada anak tikus yang ayahnya terpapar alkohol dibandingkan kelompok yang hanya induk betinanya terpapar.
Pada Juli 2024, timnya kembali menerbitkan dua penelitian yang semakin memperkuat dugaan pengaruh alkohol dari pihak ayah. Mereka menemukan bahwa tikus yang kedua orang tuanya terpapar alkohol menunjukkan tanda-tanda penuaan sel yang lebih cepat pada otak dan hati ketika memasuki usia paruh baya.
Penelitian tersebut juga menemukan gangguan fungsi mitokondria, yaitu struktur sel yang berperan dalam produksi energi. Gangguan paling berat ditemukan pada kelompok yang kedua orang tuanya terpapar alkohol. Temuan ini dinilai dapat membantu menjelaskan mengapa individu dengan FASD pada manusia cenderung lebih sering dirawat di rumah sakit dan memiliki harapan hidup yang lebih rendah dibandingkan populasi umum.
Alkohol memengaruhi sperma
Golding menemukan bukti bahwa konsumsi alkohol oleh ayah dapat menyebabkan perubahan pada sperma yang berpengaruh terhadap pertumbuhan janin. Bahkan, bentuk wajah anak tikus ditemukan berubah seiring meningkatnya jumlah alkohol yang dikonsumsi oleh ayah.
Menurut Golding, dampak konsumsi alkohol pada laki-laki tidak bersifat hitam-putih. Efeknya cenderung bertingkat. Semakin banyak alkohol yang dikonsumsi, semakin besar pula risiko yang muncul pada keturunannya.
Temuan serupa juga dilaporkan oleh peneliti lain.
Kelly Huffman, profesor psikologi dan peneliti ilmu saraf perkembangan dari University of California Riverside, juga menemukan adanya perubahan pada struktur otak, perilaku, dan kemampuan motorik anak tikus yang ayahnya mengonsumsi alkohol sebelum pembuahan.
Meskipun efeknya tidak sekuat paparan alkohol langsung dari ibu selama kehamilan, anak tikus tersebut menunjukkan organisasi otak yang berbeda, kemampuan belajar yang lebih lambat, koordinasi gerak yang kurang baik, serta gangguan integrasi sensorik dan motorik.
Para peneliti menduga fenomena ini berkaitan dengan mekanisme epigenetik, yaitu perubahan yang memengaruhi aktivitas gen tanpa mengubah urutan DNA. Penelitian menunjukkan bahwa alkohol dapat mengganggu pola metilasi DNA pada sperma sehingga memengaruhi cara gen diekspresikan pada embrio setelah pembuahan.
Golding dan timnya juga menemukan bahwa konsumsi alkohol kronis dapat mengubah komposisi fragmen RNA dalam sperma. Perubahan tersebut diduga turut memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin.
Meskipun penelitian mengenai efek epigenetik alkohol pada ayah masih relatif baru, bukti mengenai dampak paparan lain dari pihak ayah sudah lebih banyak tersedia. Sebagai contoh, anak dari ayah perokok diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami cacat lahir, leukemia, dan kelebihan lemak tubuh. Mekanisme epigenetik diduga turut berperan dalam hubungan tersebut.
Walaupun demikian, sebagian besar peneliti tetap sepakat bahwa konsumsi alkohol oleh ibu memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap perkembangan janin dibandingkan konsumsi alkohol oleh ayah.
Peran calon ayah
Elizabeth Elliott, profesor kesehatan anak dan remaja dari University of Sydney, menjelaskan bahwa alkohol dalam darah ibu dapat langsung melewati plasenta dan masuk ke tubuh janin. Paparan tersebut dapat memengaruhi perkembangan otak, pembentukan wajah, paru-paru, jantung, telinga, mata, dan berbagai organ lainnya.
Para ahli juga mengingatkan bahwa hasil penelitian pada tikus tidak serta-merta dapat diterapkan langsung pada manusia. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui secara pasti seberapa besar kontribusi konsumsi alkohol ayah terhadap risiko FASD pada manusia.
Meskipun demikian, Elliott dan sejumlah peneliti lainnya menilai bahwa peran ayah tidak boleh diabaikan. Selain kemungkinan dampak biologis secara langsung, kebiasaan minum alkohol oleh ayah juga dapat memengaruhi perilaku ibu selama kehamilan.
Elliott menyebut bahwa salah satu faktor yang paling menentukan apakah seorang perempuan mengonsumsi alkohol selama kehamilan adalah apakah pasangannya juga mengonsumsi alkohol. Karena itu, kampanye kesehatan masyarakat dinilai perlu mulai menargetkan kedua orang tua, bukan hanya ibu.
Lalu, berapa batas aman konsumsi alkohol bagi calon ayah?
Hingga saat ini belum ada jawaban pasti. Golding menilai bahwa konsumsi alkohol yang sangat jarang kemungkinan tidak menimbulkan dampak besar, terutama jika disertai pola hidup sehat seperti rutin berolahraga dan menjaga pola makan. Namun secara pribadi ia mengaku akan menyarankan anak-anaknya untuk menghentikan konsumsi alkohol sepenuhnya ketika merencanakan keturunan.
Meski besarnya dampak konsumsi alkohol oleh ayah masih terus diteliti, para ilmuwan sepakat pada satu hal. Kesehatan calon ayah juga berperan dalam perkembangan janin. Karena itu, tanggung jawab menjaga kesehatan calon bayi tidak hanya berada di tangan ibu, tetapi juga ayah. (JB/BBC/03/Cla)


