Jakarta, JaringBisnis (Selasa, 5/5/2026). Pemerintah sedang mengkaji penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) menggantikan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Hal ini dilakukan untuk mengurangi impor energi.
Hal tersebut dikatakan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Bahlil Lahadalia usai menghadap Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Dikatakan Bahlil, harga CNG nantinya akan lebih murah sekitar 30 persen dibanding LPG. Pasalnya, sumber energi dan industri CNG berasal dari dalam negeri, sehingga dari biaya transportasi dapat lebih murah daripada LPG yang didapat dari impor.
“Gas dan industrinya ada di kita, di dalam negeri. Jadi tidak kita melakukan impor. Biaya transportasinya saja sudah bisa mengcover. Yang kedua, CNG berada di hampir semua wilayah yang ada sumber-sumber gasnya.Jadi itu jauh lebih efisien,” ujar Bahlil seperti dikutip esdm.go.id.
Hemat hingga Rp130 triliun
Dikatakan, pemanfaatan CNG untuk masyarakat diproyeksikan dapat menghemat devisa negara hingga Rp130 triliun dan akan mengurangi jumlah subsidi energi. Terkait hal tersebut, pemerintah saat ini sedang melakukan uji coba tabung CNG ukuran 3 kilogram yang banyak digunakan masyarakat.
Berbeda dengan LPG, CNG memiliki tekanan yang lebih besar yang mencapai 250 bar. Hal itu membuat, sehingga diperlukan modifikasi dari tabung LPG 3 kilogram yang saat ini digunakan masyarakat. “Hasilnya akan keluar pada dua hingga bulan mendatang,” jelas Bahlil. (JB/03/Wid)














