Jakarta, JaringBisnis (Selasa, 18/8/2026). Gempa Magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026) berdampak terhadap sektor pariwisata. Hingga saat ini, lembaga terkait masih melakukan pendataan dan verifikasi dampak gempa NTT di kawasan wisata.
Berdasarkan pemantauan Pos Pendamping Nasional (Pospenas), gempa berdampak pada sektor pariwisata, seperti akomodasi, daya tarik wisata, fasilitas, aksesibilitas dan sarana pendukung pariwisata.
Berton Panjaitan, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan Kementerian Pariwisata, pemerintah daerah dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) masih melakukan pendataan dan verifikasi terhadap kerusakan khususnya di wilayah yang mengalami kendala jaringan listrik dan telekomunikasi,”jelas .
“BPOLBF memantau Labuan Bajo dan kawasan Taman Nasional Komodo secara umum tetap dapat menjalankan aktivitas pariwisata, setelah akses pelayaran dibuka kembali,” jelas Berton dalam siaran pers BNPB hari ini.
Pada Minggu (16/8/2026) sebanyak 308 kapal wisata tercatat berangkat dengan mengangkut 811 wisatawan domestik dan 2.840 wisatawan mancanegara. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Labuan Bajo menginformasikan aktivitas Pelabuhan Marina Labuan Bajo berjalan normal, lancar, aman, dan kondusif.
“Akses pelayaran menuju Taman Nasional Komodo, fasilitas ini telah dibuka kembali dan aktivitas wisatawan terpantau berjalan normal,” jelas Berton.
Transportasi udara
Pada transportasi udara, penyesuaian operasional diberlakukan sesuai dengan kondisi pascagempa. Hasil asesmen menunjukkan operasional Bandara Komodo Labuan Bajo berjalan normal pada Senin (17/8/2028).
“Kondisi penerbangan di Flores masih bersifat dinamis. Hal itu bergantung pada hasil pemeriksaan keselamatan serta keputusan operasional masing-masing maskapai dan pengelola bandara,” ujar Berton.
Pada sektor penginapan atau perhotelan, sejumlah fasilitas ini mengalami kerusakan akibat gempa. Catatan sementara, 10 hotel mengalami rusak ringan dan 2 hotel rusak berat. Sedangkan 7 hotel lain tidak mengalami kerusakan. Satu hotel yang rusak berat berada di Kabupaten Nagekeo.
Selain perhotelan, terdapat sejumlah penginapan sekelas homestay yang mengalami kerusakan. Hasil asesmen sementara, 5 bangunan mengalami rusak ringan, dan 3 rusak berat. Akomodasi tersebut berlokasi di Kabupaten Manggarai.
“Otoritas pariwisata akan terus memperbarui informasi terkait pembukaan kembali destinasi-destinasi yang saat ini ditutup. Wisatawan diimbau untuk selalu mengikuti arahan dari petugas di lapangan dan memantau informasi dari saluran resmi pemerintah daerah,” pungkas Berton. (JB/03/Wid)


