Jakarta, JaringBisnis (Jumat, 28/8/2026). Ruas jalan protokol Sudirman, pagi tadi diwarnai atribut bernuansa kuning cerah. Berbagai pegiat pesepeda dari lintas latar belakang berkumpul memadati selasar publik depan FX Sudirman sejak pukul 06.00 WIB untuk mengayuh bersama menuju Taman MRT Dukuh Atas dalam rangka peringatan 21 tahun lahirnya gerakan Bike to Work (B2W) Indonesia.
Aksi bersepeda bertajuk “B2W Day” ini diniatkan sebagai momentum kampanye bersepeda ke tempat beraktivitas sehari-hari (bike to work/activity). Ajang ini sekaligus menjadi wujud konsistensi mengampanyekan sepeda sebagai moda mobilitas perkotaan yang sehat, ramah lingkungan, aman, dan berkelanjutan.
Mengusung tema “Mengayuh untuk Perubahan”, B2W Indonesia merefleksikan bahwa perjuangan pesepeda di ruang publik bukan hanya soal kebugaran individu, melainkan upaya bersama mewujudkan tata ruang kota yang humanis.
“Yang diperjuangkan adalah kota yang berorientasi pada manusia, kota yang memberikan ruang bagi setiap orang untuk bergerak secara aman, sehat, nyaman, dan berkelanjutan,” tutur Ketua B2W periode 2024–2028 Hendro Subroto.
Melalui semangat “Satu Sepeda, Sejuta Saudara”, momentum 21 tahun ini diharapkan kian mempererat kekompakan para pesepeda, memperluas kemitraan strategis, serta mengukuhkan sepeda sebagai pilar penting mobilitas masa depan di Indonesia.
Perkuat 5 pilar
Gerakan B2W berakar dari deklarasi bersejarah yang dicetuskan 21 tahun silam, tepatnya 27 Agustus 2005 di Balai Kota DKI Jakarta. Kepengurusan perdananya resmi dikukuhkan pada Januari 2006. Turut hadir dalam perayaan dua dekade lebih ini, salah satu pendiri (founder) B2W Indonesia Toto Sugito dan perwakilan instansi pemerintah yang diwakili Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Ujang Harmawan.
Dalam masa kepengurusan periode 2024–2028, B2W Indonesia membawa napas gerakan yang semakin dinamis. B2W diposisikan bukan semata wadah komunitas yang eksklusif, melainkan rumah pergerakan bagi siapa pun yang beraktivitas menggunakan kayuhan pedal.
Gerakan ini bertumpu pada lima pilar utama yaitu Advokasi, Kampanye, Sosial, Inklusi, dan Edukasi (AKSIE). Melalui kelima pilar ini, B2W berikhtiar agar manfaat bersepeda makin dirasakan nyata oleh publik serta mampu menjalin kolaborasi strategis dengan berbagai pemangku kebijakan dalam menata ekosistem transportasi ramah pesepeda.
Hendro menegaskan bahwa advokasi dan pendekatan kampanye di setiap wilayah memiliki karakteristik yang beragam. Hal ini disebabkan perbedaan yang ada di masing-masing wilayah.
“Kalau di Jakarta, biasanya ke konteks keselematan. Tapi di Yogyakarta ataudaerah yang lain, dia concern-nya adalah kebersamaan, kolaborasinya gitu. Bukan berarti keselamatannya enggak ada, tapi lebih gimana caranya ngajak supaya berkendara (bersepeda),” ujar Hendro.
Jejaring Korwil
Hendro memaparkan bahwa kekuatan inti B2W terletak pada jejaring koordinator wilayah (Korwil) yang tersebar di berbagai daerah. Berdasarkan konsolidasi dan pemetaan terkini pada 2024–2026, B2W memetakan tantangan di lapangan secara kontekstual.
Penanganan di kawasan metropolitan padat lalu lintas tentu berbeda dengan daerah lain seperti Pemalang atau Yogyakarta yang lebih menitikberatkan pada rasa kekeluargaan serta kolaborasi budaya bersepeda.
Ia juga memberikan pesan motivasi bagi masyarakat umum dan kalangan muda yang ingin mulai menjajal sepeda sebagai sarana mobilitas harian. Menurut Hendro, pesepeda pemula tidak perlu merasa cemas atau takut turun ke jalan raya. B2W Indonesia siap membuka ruang pendampingan melalui jaringan komunitas maupun kanal komunikasi terbuka agar pemula merasa percaya diri di jalan raya.
Bagi mereka yang tinggal di area padat jalur industri atau lalu lintas kendaraan berat, Hendro menyarankan agar pesepeda bijak menentukan rute yang aman serta memilih waktu perjalanan yang tepat demi keselamatan. (JB/03/Wid)


