Jakarta, JaringBisnis (Kamis, 30/7/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino tahun mencapai level sangat kuat dan memicu musim kemarau yang lebih kering dan berdurasi lebih panjang. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta berbagai dampak pada sektor strategis lain.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan terdapat dua fokus utama dalam menghadapi musim kemarau yang dipengaruhi El Nino tahun ini. Pertama, terkait dengan ketersediaan air melalui pengisian waduk-waduk dengan metode modifikasi cuaca dan lain sebagainya.
“Kedua, untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pembasahan pada lahan-lahan yang rentan atau sudah terbakar,” ujar Faisal.
Sejalan dengan kondisi tersebut, risiko kebakaran hutan dan lahan diperkirakan mulai meningkat sejak Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Wilayah dengan tingkat risiko tinggi diprediksi meluas, terutama di Sumatera dan Kalimantan.
BMKG mengidentifikasi lima provinsi prioritas yang memerlukan intensifikasi pemantauan dan pengawasan, yaitu Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi.
Menurut Faisal, upaya mitigasi yang dilakukan pemerintah tidak hanya berfokus pada kekeringan dan karhutla, tetapi juga menjadi bagian dari persiapan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah pada akhir tahun.
“Jadi, tidak hanya terkait dengan kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga bencana-bencana hidrometeorologi basah. Ini sekaligus sebagai persiapan kita untuk menghadapi akhir tahun nanti ketika hujan kembali datang, di mana akan ada ancaman bencana hidrometeorologi basah seperti siklon tropis dan sebagainya,” katanya seperti dikutip bmkg.go.id.
Langkah preventif
Lebih lanjut, Faisal menjelaskan bahwa BMKG bersama berbagai kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah terus memperkuat pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah preventif menghadapi dampak El Nino. Pelaksanaan OMC dilakukan secara berbasis data dengan memanfaatkan informasi meteorologi, kondisi tinggi muka air tanah pada kawasan gambut, serta pemantauan titik panas (hotspot).
“Kita menjaga agar permukaan air tetap pada kondisi normalnya sehingga gambut tetap jenuh basah dan tidak mudah terbakar,” jelasnya.
Selain mendukung pengendalian karhutla, operasi modifikasi cuaca juga dilakukan untuk menjaga ketersediaan air pada waduk-waduk strategis. Salah satu pelaksanaannya dilakukan di kawasan Danau Toba guna menjaga tinggi muka air yang dimanfaatkan untuk kebutuhan irigasi, penyediaan air bersih, serta operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA). (JB/03/Wid)


