Jakarta, JaringBisnis (27/7/2020). Langkah nyata dalam membangun ekosistem sosial yang lebih inklusif kembali ditunjukkan oleh generasi muda Jakarta. Bersama Rumah Sahabat Inklusi, mahasiswa LSPR Institute of Communication and Business Fakultas Komunikasi (Jurusan Marketing Communication Batch 27) resmi menggelar program Community Development bertajuk DisLabel, di Ice Palace Concert Hall, Lotte Mall Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Melalui pendekatan yang segar khas anak muda, DisLabel 2026 menghadirkan rangkaian acara interaktif yang tak sekadar menjadi tontonan, melainkan sebuah pengalaman berkesan bagi para pengunjung. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi Talkshow and Sharing Session, Art Exhibition, Fashion Showcase busana adaptif oleh BHOELAN, Sign Language Workshop, Empathy Challenge, hingga penampilan musik dari D’Empire Band, grup musik inspiratif dengan anggota anak-anak berspektrum autisme.
Menghapus Label, Membuka Ruang Tanpa Batas
Maritzki Aleeva Cesario Putra, selaku Ketua Pelaksana Program Comdev DisLabel 2026, menjelaskan alasan utama di balik hadirnya gerakan sosial ini. “Kami ingin mengangkat isu inklusivitas supaya orang-orang lebih aware lagi, serta mengubah stigma masyarakat yang awalnya menganggap teman-teman difabel kurang baik atau tidak punya bakat. Lewat program ini, kami ingin mengentaskan label tersebut,” ujar Rio.
Dosen Pengampu Mata Kuliah Community Development LSPR, Faradiska Aurora Kencana, menambahkan bahwa proyek ini merupakan bukti kepedulian mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu komunikasi agar berdampak sosial. Ia menegaskan komitmen LSPR untuk mematahkan stigma negatif terhadap penyandang disabilitas, yang juga sejalan dengan visi inklusif kampus melalui keberadaan Unit Layanan Disabilitas dan London School Beyond Academy. dengan visi dan misi DisLabel.
Fasilitas Publik Harus Nyata, Bukan Basa-Basi
Menanggapi kolaborasi ini, Teuku Jordan Zacky. selaku Pembina Rumah Sahabat Inklusi (RSI) menekankan pentingnya sinergi untuk memperluas awareness serta penyediaan fasilitas publik yang nyata bagi saudara-saudara disabilitas.
“Mereka perlu ruang yang aman, ruang yang nyaman, baik itu dari ruang publik ataupun di mana mereka akan berpijak dan berada, termasuk di universitas. Saya dengar LSPR juga menerima teman-teman berkebutuhan khusus.” papar Teuku.
Komitmen Bersama untuk Ekosistem Inklusif
Apresiasi senada turut disampaikan oleh pihak manajemen Lotte Mall Jakarta melalui Ibu Anastasia. Pihaknya mendukung penuh inisiatif ini dan menegaskan bahwa pusat perbelanjaan harus menjadi ruang yang aman, nyaman, serta ramah bagi saudara-saudara penyandang disabilitas, bukan sekadar tempat berbelanja.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa LSPR, Rumah Sahabat Inklusi, dan Lotte Mall Jakarta, DisLabel 2026 menjadi bukti nyata bahwa kesetaraan dan inklusivitas bisa diwujudkan mulai dari aksi sederhana generasi muda. Gerakan ini diharapkan mampu menginspirasi berbagai sektor untuk terus membuka ruang ramah disabilitas tanpa batas. (JB/02/Glg/Kevin)


