Jakarta, JaringBisnis (Kamis, 8/10/2026). Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, perekonomian Indonesia terbukti tetap resilien. Hal ini tercermin dari tiga indikator penting yang dirilis awal Oktober 2026 yaitu inflasi yang terkendali, neraca perdagangan yang terus surplus, serta kembalinya aktivitas manufaktur ke zona ekspansi.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyampaikan inflasi September 2026 tercatat 3,28% (yoy), masih dalam sasaran nasional 2,5±1%. Inflasi inti melandai menjadi 2,84% (yoy), sedangkan inflasi Administered Prices (AP) turun menjadi 3,25% (yoy). Hal ini antara lain dipengaruhi normalisasi mobilitas pascalibur sekolah dan dampak penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang relatif terbatas.
“Komponen Volatile Food masih menjadi perhatian dengan inflasi 5,03% (yoy). Hal ini dipengaruhi dinamika permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam. Pemerintah terus memperkuat koordinasi pusat dan daerah untuk menjaga pasokan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga, khususnya menjelang akhir tahun,” ujar Haryo seperti dikutip kemenkeu.go.id.
Untuk menjaga daya beli dan ketahanan pangan, Pemerintah memperkuat penyaluran PKH Tahap III, Bantuan Pangan Beras 10 kg per bulan pada Oktober–Desember 2026, serta percepatan SPHP beras medium melalui Perum Bulog.
Upaya tersebut dilengkapi Gerakan Pangan Murah (GPM), optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah (CBP), kerja sama antardaerah, serta penguatan produksi melalui pengelolaan air dan jaringan irigasi, pengaturan pola tanam, pemanfaatan lahan produktif, pemetaan wilayah rawan, dan Early Warning System.
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif US$7,25 miliar sepanjang Januari–Agustus 2026. Kinerja ekspor Januari–Agustus 2026 antara lain ditopang besi dan baja sebesar US$19,18 miliar atau tumbuh 4,88%.
Sedangkan CPO dan turunannya US$17,75 miliar atau tumbuh 6,57%, serta batu bara US$16,58 miliar atau tumbuh 4,31%. Ekspor industri pengolahan juga tumbuh 6,62%, mencerminkan kontribusi hilirisasi terhadap kinerja ekspor.
Jaga momentum
Dari sisi impor, bahan baku atau penolong dan barang modal mendominasi dengan masing-masing US$133,38 miliar dan US$36,74 miliar atau secara total mencapai 91,3% dari impor. Peningkatan impor mesin atau peralatan mekanis 15,26% dan mesin/perlengkapan elektrik 22,94% menunjukkan meningkatnya kebutuhan input produksi dan barang modal sejalan dengan aktivitas produksi dan investasi domestik.
Selain itu, penguatan aktivitas manufaktur tercermin dari PMI Manufaktur September 2026 yang meningkat menjadi 52,4 dari 49,8 pada Agustus dan kembali berada di zona ekspansi. Perbaikan tersebut didukung peningkatan pesanan baru dan produksi, pertumbuhan pesanan ekspor, masuknya proyek baru, serta membaiknya daya beli.
Selanjutnya pada September 2026, pesanan baru tumbuh pada laju tercepat sejak Februari 2026. Sementara pesanan ekspor mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.
Di samping itu, penyerapan tenaga kerja, pembelian, dan persediaan input kembali meningkat. Di sisi biaya, inflasi harga input dan output melambat ke level terendah dalam enam bulan, sementara keyakinan pengusaha terhadap prospek produksi 12 bulan ke depan tetap tinggi.
“Ke depan, kebijakan Pemerintah akan tetap diarahkan untuk menjaga daya beli, mendorong investasi dan produksi, serta meningkatkan daya saing industri nasional. Dengan fondasi stabilitas yang terjaga dan aktivitas ekonomi yang kembali menguat, kita ingin memastikan momentum ini berlanjut dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat,” tegas Haryo. (JB/03/Wid)


