Live News

28.3°C
  • Jakarta
October 7, 2026
28.3°C
  • Jakarta
Follow Us:

Diterbitkan oleh

PT GEMA WARTA SEMBILAN

NIB: 1702230088809

Notaris: Noviar Beta Aurenaldi, SH, MKn

Jaring BisnisBlogBisnisEkonomiDUA SMELTER FREEPORT KEMBALI BEROPERASI, KAPASITAS HILIRISASI TEMBAGA MENGUAT

DUA SMELTER FREEPORT KEMBALI BEROPERASI, KAPASITAS HILIRISASI TEMBAGA MENGUAT

Jakarta, JaringBisnis (Rabu, 7/10/2026). Beroperasinya kembali dua fasilitas pengolahan tembaga milik PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadi momentum penting memperkuat hilirisasi mineral nasional. Kembali beroperasinya PT Smelting dan Smelter Manyar di Gresik, Jawa Timur, dinilai akan meningkatkan pengolahan konsentrat tembaga sekaligus memperkuat fondasi pengembangan industri turunan berbasis tembaga di dalam negeri.

PT Smelting sebelumnya sempat dihentikan sementara sejak 8 Agustus 2026 untuk perbaikan fasilitas furnace. Sementara Smelter Manyar kembali beroperasi setelah sebelumnya terdampak penghentian operasi pascainsiden di tambang Grasberg.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch (IMEW), Ferdy Hasiman, menyambut positif kembali beroperasinya kedua fasilitas pengolahan tembaga milik PTFI tersebut.

“Ya tentu positif karena smelter tembaganya Freeport merupakan yang terbesar. Dengan begitu nanti pengolahan konsentratnya menjadi lebih optimal,” ujar Ferdy.

Laporan kuartal III 2026 Freeport-McMoRan (FCX) menyebutkan kapasitas peleburan gabungan PTFI, termasuk PT Smelting, ditargetkan mampu menghasilkan hingga sekitar 800 ribu ton katoda tembaga per tahun. Kapasitas tersebut menjadi salah satu penguatan penting dalam rantai nilai tembaga nasional, mulai dari pengolahan konsentrat hingga menghasilkan produk bernilai tambah.

BACA JUGA  KEMENTERIAN ESDM PERKETAT PENGAWASAN PERTAMBANGAN DI RAJA AMPAT

Pemerintah melalui MIND ID yang saat ini menjadi pemegang saham Freeport Indonesia terus mendorong penguatan hilirisasi tembaga. Penguatan hilirisasi tembaga dari MIND ID tersebut juga menjadi bagian dari upaya untuk memastikan tembaga dari Indonesia tidak lagi sekadar diekspor dalam bentuk ore mentah, tetapi bahan baku industri atau produk hilir yang memberikan nilai ekonomi dan penerimaan negara yang lebih besar bagi Indonesia.

Jadi momentum

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan pemulihan operasional fasilitas pengolahan Freeport menunjukkan perkembangan yang positif. Smelter Manyar kembali menerima konsentrat pada Agustus dan mulai memproduksi katoda tembaga pada September, setelah sebelumnya pasokan konsentrat yang terbatas diprioritaskan untuk PT Smelting.

Yusuf berharap peningkatan kapasitas smelter terus berlangsung secara bertahap seiring dengan pemulihan produksi tambang Grasberg yang ditarget pada akhir 2027.

Ia menilai periode pemulihan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem industri hilir tembaga nasional. Menurutnya, peningkatan kapasitas smelter perlu diikuti dengan pengembangan industri pengolahan lanjutan agar nilai tambah dari komoditas tembaga semakin besar berada di dalam negeri.

BACA JUGA  ANGGOTA DPR MINTA PERTAMBANGAN DI RAJA AMPAT DIKAJI ULANG

Kendati demikian, Yusuf tetap memberi catatan bahwa sekitar tiga perempat produksi katoda PT Smelting masih diekspor karena industri pengolahan katoda domestik belum cukup besar. Kondisi tersebut juga menunjukkan adanya peluang pengembangan industri turunan tembaga di Indonesia, yang nantinya akan diorkestrasi pemerintah melalui MIND ID.

“Persoalannya bukan sekadar ada atau tidak ada permintaan. Yang juga menentukan adalah harga, kepastian kontrak jangka panjang, spesifikasi produk, dan pola pasokan industri,” tutup Yusuf saat dihubungi.

Dia menekankan, Indonesia memiliki posisi strategis karena didukung cadangan tembaga yang besar. Namun, pengembangan industri hilir harus konsisten diarahkan pada produk bernilai tambah lebih tinggi seperti batang tembaga, kawat, kabel, hingga copper foil untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik. (JB/03/Wid)

Share:

Related Post