Jakarta, JaringBisnis (Senin, 31/8/2026). Sabtu, 29 Agustus 2026, suasana pagi Hutan Kampus Universitas Indonesia (UI) masih menyisakan embun semalam dan menciptakan selimut kabut tipis di atas Danau Kenanga. Sejak pukul 07.00 WIB, ratusan pasang kaki yang dibalut wastra Nusantara telah menembus keheningan ini. Mereka berjalan dalam senyap kirab, bergerak dari Gedung Makara Art Center menuju jantung vegetasi kota.
Tidak ada ruang untuk keriuhan yang dangkal. Ketika jarum jam merangkak pascapergelaran wayang purwa lakon Bambang Sudamala oleh Dalang Ki Fakih Tri Sera Fil Ardhi, sekelompok hadirin itu duduk, bersila, dan bersiap melepas kedirian mereka.
Di depan mereka duduk bersila Turita Indah Setyani, pendiri Urban Spiritual Indonesia. Wajahnya datar, menyimpan ketenangan yang masif, tipikal seorang praktisi yang telah puluhan tahun akrab dengan dunia batin.
Tanpa banyak retorika yang menggebu, suaranya yang rendah mengalun, memotong desir angin hutan. Ia mengajak ratusan pasang mata untuk terpejam. “Tarik napas, sadari, lepaskan,” adalah formula klise. Namun di tangan Turita, instruksi itu menjelma menjadi pisau bedah spiritual yang dingin.
Selama sesi meditasi bersama ini, ratusan hadirin dituntut berhadapan dengan diri sendiri. Dalam perspektif tradisi Jawa, manusia urban modern sering kali terjebak dalam kondisi sukerta, yaitu sebuah keadaan batin yang penuh kekacauan, ketidakstabilan spiritual, dan potensi malapetaka akibat putusnya hubungan dengan semesta.
Turita tidak menawarkan eskapisme yang manis. Lewat keheningan, ia menuntun para peserta untuk melihat alam bukan sebagai objek ekologis yang terpisah di luar sana, melainkan pantulan dari kekeruhan batin mereka sendiri.
Hutan UI mendadak senyap secara mutlak. Suara gesekan daun tak lagi terdengar sebagai gangguan, melainkan metronom alami yang membimbing detak jantung para pencari keheningan.
Self healing meditation
Turita membawa audiensnya masuk ke dalam ruang manekung kasarasan pribadi (self-healing meditation), memaksa ego manusia yang biasanya dominan dan destruktif untuk meluruh di atas tanah lembap. Sesi ini mengunci seluruh rangkaian ritual pagi itu menjadi sebuah katarsis kolektif yang dingin namun membekas mendalam.
Sesi meditasi ini bukanlah agenda mandiri yang berdiri di ruang hampa. Ia merupakan jangkar spiritual dari acara “Wayangan Ruwat, Rawat Hutan’. Acara ini digagas atas kolaborasi Direktorat Kebudayaan UI, MPR RI, Komoenitas Makara, Urban Spiritual Indonesia, dan Program Studi Sastra Jawa FIB UI.
Secara konseptual, Ruwat Rawat Hutan adalah strategi kebudayaan untuk merespons krisis lingkungan. Kata ruwat berakar dari kata luwar, yang berarti lepas atau bebas. Upaya meruwat hutan diartikan secara dingin sebagai ritual penyucian untuk membebaskan ekosistem dan manusia dari malapetaka, sekaligus memulihkan keseimbangan kosmos yang telah rusak oleh ketamakan industrial.
Ketajaman Turita dalam memimpin meditasi berbasis kearifan lokal bukanlah hasil instan semalam. Perempuan kelahiran Semarang, 8 Januari 1961 ini adalah seorang akademisi tulen. Ia merupakan dosen senior di Program Studi Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI sejak 1990 dan pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi Pascasarjana Ilmu Susastra FIB UI.
Ketika jam menunjukkan tengah hari dan kabut hutan UI mulai menghilang, ratusan hadirin membuka mata kembali. Tidak ada tepuk tangan yang meriah. Yang tersisa di area hutan kota siang itu hanyalah keheningan yang dingin, tanah yang basah, dan kesadaran baru yang perlahan tumbuh: bahwa merawat hutan harus dimulai dengan meruwat isi di dalam kepala masing-masing manusia. (JB/03/Wid)


