Jakarta, JaringBisnis (Jumat, 21/8/2026). Tanaman sorgum memiliki potensi besar sebagai salah satu alternatif pangan untuk mendukung diversifikasi pangan nasional, termasuk sebagai pengganti beras. Selain dapat diolah menjadi berbagai produk pangan, sorgum juga memiliki potensi pemanfaatan untuk berbagai kebutuhan lainnya.
Hal tersebut dikatakan staf ahli Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Anneke Runtulalo pada acara panen sorgum di lahan percontohan (demplot) pertanian di Cibanon, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang diinisiasi Kowani.
“Sorgum tidak hanya dapat menjadi alternatif pangan pengganti beras, tetapi juga memiliki berbagai manfaat dan nilai tambah. Sorgum dapat diolah menjadi gula sorgum yang memiliki potensi sebagai alternatif pemanis, serta dikembangkan untuk berbagai produk lainnya,” jelas Anneke
Lebih jauh, Direktur PT Delta Anugerah Sejahtera Subur Sejahtera (DASS) menjelaskan potensi sorgum sebagai bahan baku bioetanol yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Ia menyebut pihaknya telah melakukan uji coba bersama Pertamina terkait pengembangan bioetanol berbasis sorgum.
“Sorgum juga dapat diolah menjadi bioetanol sebagai bahan bakar alternatif. Kami sudah melakukan uji coba bersama Pertamina dan hasilnya memiliki angka oktan mencapai 108,” ujarnya.
Panen 3 kali setahun
Lebih jauh, Anneke menyebut Kowani sedang menyiapkan pengembangan budidaya sorgum dalam skala lebih luas. Disebutkan, terdapat pembahasan pengembangan lahan sorgum hingga 500 hektare, yang selanjutnya diarahkan untuk mencapai 1.000 hektare.
Pengembangan sorgum tersebut diharapkan tidak berhenti pada produksi bahan pangan, tetapi dikembangkan menjadi bagian dari rantai ekonomi baru. “Nantinya ini akan melibatkan petani, perempuan, UMKM, koperasi, pesantren, dunia usaha, dan mitra strategis lainnya,” jelasnya.
Menurutnya, saat panen, tanaman sorgum tidak dipotong pada bagian atas, melainkan pada bagian bawah. Hal ini agar tanaman dapat kembali tumbuh dan menghasilkan panen berikutnya.
“Untuk pemanenannya, kita tidak memotong bagian atas, tetapi bagian bawah. Dengan cara ini, tanaman sorgum masih dapat tumbuh kembali dan bisa dipanen hingga tiga kali dalam satu tahun,” katanya.
Di sisi lain, Ketua Umum Kowani, Nannie Hadi Tjahjanto yang hadir dalam acara panen sorgum ini menyatakan sorgum merupakan salah satu komoditas yang dapat dikembangkan untuk memperkuat diversifikasi pangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Yang kita panen hari ini bukan hanya sorgum. Yang kita tumbuhkan adalah kemandirian, kesempatan kerja, kesejahteraan keluarga, dan kekuatan ekonomi masyarakat,” katanya.
Untuk itu, jelas Nannie, Kowani mendorong agar pengembangan sorgum dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Hal tersebut dengan melibatkan petani, perempuan, UMKM, koperasi, pesantren, dunia usaha, perguruan tinggi, dan berbagai mitra strategis.
Sinergi dengan INKOPONTREN juga diharapkan dapat memperluas pengembangan produk berbasis sorgum melalui jaringan koperasi pondok pesantren serta membuka ruang pemberdayaan bagi santri dan santriwati.
“Melalui panen ini, Kowani menargetkan pengembangan pangan lokal tidak hanya menjawab kebutuhan pangan, tetapi juga menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, memperkuat ekonomi rakyat, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga,” pungkas Nannie. (JB/03/Wid)


