Live News

28.3°C
  • Jakarta
October 9, 2026
28.3°C
  • Jakarta
Follow Us:

Diterbitkan oleh

PT GEMA WARTA SEMBILAN

NIB: 1702230088809

Notaris: Noviar Beta Aurenaldi, SH, MKn

Jaring BisnisBlogHumanioraSeni BudayaKAJIAN HUMANIORA BTHARI SRI, RUANG EKSPRESI DAN DISKUSI BUDAYA DI SUDUT PONDOK INDAH

KAJIAN HUMANIORA BTHARI SRI, RUANG EKSPRESI DAN DISKUSI BUDAYA DI SUDUT PONDOK INDAH

Jakarta, JaringBisnis (Minggu, 23/8/2026). Di balik dinding ruang Kajian Humaniora Bthari Sri ke-5, riuh Jakarta diredam atmosfer yang sunyi. Minggu, 23 Agustus 2026 siang, di Kawasan Pondok Indah, sebuah diskusi berjalan tanpa kepulan emosi, menguliti nasib peradaban manusia di hadapan kecerdasan buatan. Tidak ada retorika yang meledak-ledak. Yang tersisa hanya analisis kalkulatif mengenai bertahannya nilai humaniora di era algoritma.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dan Dr. Sri Teddy Rusdy menjadi poros utama pembicaraan. Tema hari itu tajam: “Transformasi Nilai Lokal dan Agama untuk Menjawab Tantangan Modernisasi”.

Muhadjir membedah bagaimana kecerdasan buatan bekerja melampaui kecepatan adaptasi budaya. Ketika keputusan etis didelegasikan pada baris kode, institusi moral yang selama ini dirawat oleh agama dan tradisi lokal terancam lumpuh. Nilai lokal bukan lagi sekadar warisan estetis, melainkan satu-satunya benteng pertahanan terakhir agar manusia tidak tereduksi menjadi angka statistik digital.

BACA JUGA  PESAN SELAMATKAN RAJA AMPAT DARI SMPN 2 DEPOK

Sri Teddy, selaku pakar filsafat Jawa dan filsafat wayang, tidak menawarkan pemanis. Ia justru meruntuhkan cara berpikir modern yang biner melalui buku karyanya, Rahwana Putih.

Sri Teddy membawa perspektif yang jauh lebih kompleks dibandingkan pakem konvensional. Dalam pakem konvensional, Rahwana adalah visualisasi mutlak dari kejahatan. Namun, Rahwana Putih menguliti watak sang raja Alengka dari sudut pandang yang berbeda.

Sri Teddy memperlihatkan sisi lain sebuah konsistensi prinsip, kemanusiaan yang tersembunyi, dan dimensi putih di dalam kegelapan yang selama ini dihakimi secara sepihak oleh narasi besar.

Kolaborasi pemikiran ini membeku pada satu simpulan: modernisasi tidak bisa ditolak, namun tidak boleh ditelan bulat-bulat. Nilai lokal dan spiritualitas agama harus didekonstruksi agar tetap relevan, sama seperti Sri Teddy mendekonstruksi sosok Rahwana.

BACA JUGA  GELORAKAN SPIRIT 80 TAHUN INDONESIA MERDEKA DALAM MAJELIS NYALA PURNAMA

Kajian Humaniora Bthari Sri siang itu ditutup tanpa selebrasi. Para hadirin melangkah keluar membawa kesadaran yang sunyi: di era saat mesin bertingkah makin menyerupai manusia, manusia justru sedang bertaruh agar tidak kehilangan jiwanya dan berubah menjadi mesin. (JB/03/Wid)

 

Tags:
Share:

Related Post